Rangganizers Fans Club

the big support To : @Rangga_moela we always @RANGGANIZERRR I am Rangganizer follow twitter @Rangganizers_FC

for @RANGGANIZERRR BOGOR 

>My Idol is Specta< @Indhry_22

>My Idol is Specta<

Menatap indah wajahmu,
Membuatku tersenyum kagum.
Getar alunan suara
Membuatku melayang.
                           Cerahnya kulitmu,
                           Merubah dunia di tengah kegelapan.
                           Senyum manis yang tersirat di bibir,
                           Mampu menghipnotis diri ini.
Ku sadari „
   Diriku hanya seorang anak yang berasal dari sebuah kampung,
  Diri ini hanya seorang penggemarmu,
Ku mengerti „
       Arti sebuah kehidupan .
       Ku mengerti siapa sebenarnya dirimu.
Terlalu „
       Besar khayal ini bisa bertatap wajah denganmu.
      Yakin diri ini bisa sekedar bersapa denganmu.
Sungguh ..
    Mempesonanya wajahmu.
   Membuatku tau arti sebuah kehidupan.
 
You are my idol ..
You are my inspiration ..
You are very SPECTA for me,
“Rangga Dewa Moela Soekarta”

PUISI BY @shiwa_yunii

Puisi
Kau tak pernah lelah didepan ku..
kau selalu ceria didepanku..
padahal aku tau..
sebenarnya kau sangat lelah
menari dan menyanyi setiap hari
dan itu kau lakukan demi kami rangganizer..
karnamu lah ka RANGGA..
aku termotivasi untuk semangat belajar dan tidak mudah putus asa
itu semua karnamu pahlawanku
kau tak perlu bersedih bila ada cacian/hinaan yang datang padamu
karna aq dan rangganizer lain akan selalu bersamamu..
SELAMANYA..:-c call me

You’re a Special One in My Life @EkaDewi_

   You’re a Special One in My Life

 


Desember 2011

 

 Tak bosan. Tak akan pernah bosan aku menatap sesosok gadis di hadapanku. Tetap cantik, meski kini ia tengah terbaring lemah dengan wajahnya yang pucat pasi. Entah mengapa, dalam tak kesadarannya aku seakan melihatnya tengah tersenyum kepadaku. Senyum yang tak asing buatku. Senyum yang akrab menyapaku di setiap hari-hariku….. dulu„„

 “Aku merindukanmu”

 Ucapku terisak bukan untuk yang pertama kalinya. Aku yakin ia akan mendengar apa yang ku katakan, walau tubuhnya tak bergerak sedikitpun. Hanya suara dari mesin pendeteksi detak jantung yang ramaikan suasana yang ada kini. Aku merindukannya. Benar-benar merindukannya.

 *****

 

 28 Desember 2010

 

 “Vanya, ada bintang jatuh!!!”

 “Lalu ?”

 “Kata orang sih, kalau ada bintang jatuh… segala keinginan kita akan terwujud”.

 “Apa kamu percaya sama hal itu? Kamu kan cowo?”

 “Emang cowo nggak boleh percaya begituan?! Udah deh, mending kita coba dulu ajah!!”

 Langit malam bersolek indah malam ini. Gemintang anggun hiasi kepekatan malamnya. Dan di bawah dekapan malamnya, ku habiskan waktu bersama Vanya, sahabatku. Seorang gadis cengeng yang periang, menyenangkan sekaligus menyebalkan. Gadis kecil keras kepala yang terus mengajakku untuk main boneka bersamanya, meski ia tahu bahwa aku seorang bocah laki-laki. Gadis cilik yang super cerewet dan mau menang sendiri. selalu memaksa aku untuk terus memboncengnya mengelilingi kompleks perumahan kami, meski kami sudah mengitarinya lebih dari 5 kali.

 “Udah berapa lama ya kita saling kenal?” tiba-tiba pertanyaan itu terlontar dari bibirnya.

 “Nggak tau!! Emang kenapa? Toh, pada awalnya aku terpaksa kan mau main dan kenal sama kamu!”

 “Bawel amat sih, aku serius, Rangga!!”

 “Emang siapa yang nggak serius sih?!”

 “Jadi udah berapa lama ya kita jadi sahabat?”

 “Enam tahun”.

 “Sok tahu! Emang kamu beneran yakin?”

 “… .”

 “Vanyaaaaaa!!!!” tiba-tiba suara tante Vivi hadir memecah sunyi yang ada di antara kami.

 “Dipanggil noh, Non.”

 “Iya iya,..aku duluan ya Rangga. Sampai besok…:)”

 “Aku yakin banget, Van. Kita udah deket selama enam tahun. Aku nggak bakal lupa. Nggak akan pernah lupa, Van. Besok adalah genap enam tahun pershabatan kita. Semoga kamu juga nggak lupa”, ucapku dalam hati setelah sosok Vanya melangkah menjauh dariku.

 *****

 

 29 Desember 2010

 “‘dddrrrrt….dddrrrttt…ddrrrttt’

 From :     Vanya

         +628133xxxxxxx

 Rangga, jangan lupa ya. Hari ini kita janjian di taman biasa. Jam 9. Oke? Aku tunggu.

 …

 Sekali lagi ku lirik jam tanganku. Pukul 9.05. Sampai saat ini aku belum menemukan sosok Vanya. Tak biasanya ia terlambat. Dia selalu tepat waktu. Padahal, tadi aku sudah benar-benar terburu waktu, berusaha untuk tak terlambat walau hanya untuk kali ini saja. Kekesalanku mulai muncul. Apa Vanya sengaja datang terlambat untuk mengerjai aku? Awas saja dia.

 Sembari menunggu, ku pandangi tulisan yang terukir di pohon Mahoni yang rindang ini. Kami menulisnya tepat enam tahun yang lalu. Dan sejak itulah, kami tetapkan hari itu sebagai hari jadi kami sebagai seorang sahabat. Sahabat yang akan selalu hadir disaat salah satu di antara kami jatuh ataupun sebaliknya. Sahabat yang selalu menjadi pendengar paling baik bahkan terkadang melebihi orangtua kami sendiri. Selalu ada. Selalu bersama. Sekarang. Dan selamanya. Amiin !

 9.15. Vanya masih belum menampakkan sosoknya. Apa dia baik-baik saja? Tak seperti biasanya ia terlmbat. Apalagi dia yang membuat janji. Tak ada jawaban dari panggilan ku ke ponselnya. Semua pesanku juga tak mendapat respon.

 To :    Vanya

         08133xxxxxxx

 Vanya, kamu dimana? Udah jam berapa ini, Sayang? Inget ya, aku sibuk. Nggak bisa nunggu lama-lama aku. Kalau bisa bales sms ini. Harus!!! Still waiting for you, Vanya.

 Tiga puluh menit.

 Empat puluh lima menit.

 Dan sekarang, hampir satu jam aku menunggunya. Vanya masih belum hadir di sini. Aku ingin marah. Aku benar-benar merasa dihianati. Tapi, sepertinya aku tak bisa. Ingin aku segera angkat kaki dari tempat ini. Hilang harap sudah untuk yakin bahwa Vanya akan menginjakkan kakinya di taman ini. Baiklah lima menit lagi. Ku beri kesempatan lima menit lagi. Tak lebih. Vanya, ku mohon…

 ——Lima menit kemudian….——

 “Ranggaaa!!!”

 Sebuah suara menghentikan langkahku. Suara yang tak asing, begitu akrab di telingaku, namun terdengar lemah. Suara Vanya. Aku berbalik. Dapat ku lihat seutas senyum tersimpul di wajah Vanya. Ia tampak pucat. Lemas. Apa dia sakit? Tapi,….

 “Maafin aku yah, Ga….” Dia berhamburan ke pelukanku. Ia menangis sejadi-jadinya. “Kamu marah kan sama aku? Maaf banget, Maaf”.

 Ku rasakan bulir-bulir bening hangat basahi bajuku. Aku tak mampu berkata-kata. Aku sendiri bingung dengan perasaan yang berkecamuk di dadaku. Apa ku harus marah pada sahabatku? Atau apa? Aku harus bagaimana? Aku tak tahu.

 “Nggak, Van… nggak,….” Ku tarik tubuhnya dari dekapanku.

 “Rangga…??” ujarnya pelan. Meluncur lagi bulir-bulir bening dari kedua pelupuk matanya.

 “Nggak, Van…. Nggak ada yang perlu dimaafin. J” ku rasakan dingin pipinya saat ku usap air mata yang mengalir dari pelupuk matanya. “Emang tadi kamu kemana?”

 “Emm,… anu… ee… er… tt..taadi…”

 “Tadi kenapa?” potongku sambil menariknya untuk duduk di rumah pohon kami.

 “Van, tadi kenapa?” ku ulang pertanyaanku sesampainya kami di atas (di rumah pohon)

 “Tadi,….. jam di rumahku mati. Ya, jamnya mati. Jadi aku nggak tau kalau uda jam 9 lewat. Sorry yah,…”

 “Kenapa nggak bales sms ku? Toh kamu juga bisa lihat jam yang ada di hape kamu kan?”

 “Em, hapeku mati. Batrey nya habis. Sorry…”

 “Terus, jam di rumah kamu kan nggak cuma satu kan, Van?”

 “Iya sih, Cuma nggak tahu tuh… pada rusak berjamaah. Tadi papa juga telat pergi ke kantor. Terus mama juga—“

 “Iya iya. Aku ngerti kok. Nggak usah panjang-panjang ceritanya. Bawel!!”

 “Dasar kamu!! Masih aja ya nyebelin.”

  “Emang kamu ngapain ngajak ketemuan? Mau traktir nih?”

 “Iih, nih orang. Doyan banget ama yang gratisan. Emang kamu lupa ya?”

 “lupa?”

 “Hari ini kan genap enam tahun kita sahabatan. Pikun banget sih kamu!!”

 “O.” jawabku sekenanya.

 “Sumpah ya, kamu itu,….. awas kamu, Rangga…!!!” protesnya sambil memukul ku gemas.

 “Tentu aku nggak lupa, Van. Dan aku seneng kamu juga nggak lupa”, batinku.

 … . .

 Kami habiskan seharian untuk mengulang segala cerita akan kenangan yang telah kami jalani bersama. Segala protes ia ajukan atas keisenganku selama ini. Dengan riang ia bercerita dan tentunya dengan senyumnya yang tak pernah hilang. Selalu hadir seperti biasanya. Senyumnya indah, meski harus hadir di wajahnya yang selalu pucat. Sejak awal kami bertemu, memang ia tampak pucat. Awalnya aku mengira dia mayat hidup, tapi…. Aku ragu akan ada mayat hidup yang bawel dan super cerewet seperti dia. Dia tergolong anak tertutup. Jarang keluar rumah. Orangtuanya super protektif terhadapnya,meski kini ia sudah duduk di kelas XII SMA. Tapi, aku tahu Vanya bukan anak manja. Aku juga yakin, orangtua Vanya pasti punya alasan kuat untuk bertindak protektif terhadapnya hingga detik ini.  Mungkin, karena dia anak perempuan satu-satunya,….

 “Van,…”

 “Apa?”

 “Kamu janji nggak bakal kaya tadi ya?”

 “Maksud lo? ” jawabnya terheran-heran akan sikapku.

 “Dasar oneng ya!! Gue tuh coba bersikap perhatian dan romantis sama lo!! Respon yang agak bagus dikit kek!!” protesku.

   Dia hanya nyengir dan kembangkan sebuah senyuman di wajahnya kemudian. “Rangga, kamu mau janji sesuatu sama aku?”

 “Apaan?”

 Dia menatapku lekat-lekat. Tampak sebuah rahasia tersimpan dalam dirinya. Sesuatu yang sengaja disembunyikan dariku olehnya. Ditariknya napas panjang, dihembuskannya perlahan kemudian.

 “Kalau nanti aku nggak bisa lama-lama ada sama kamu, ataupun nggak bisa lagi main bareng kamu, kamu jangan marah sama aku yah, kamu—“

 “Kamu ngomong apa sih?” potongku cepat. Kata- katanya sangat tak ku mengerti. Bahkan aku merasa aku membenci untuk mengerti kata-kata yang baru saja ia ucapkan.

 “Dengerin dulu…., Ga

 “Bodo amat!!” jawabku sekenanya.

 “Ranggaaa,…” rengeknya.

 “Udah sore, yuk pulang. Aku anter”

 “Tapi,…”

 “Udah, Aku nggak mau Tante Vivi entar ngomel-ngomel ama aku…”

 “Ranggaa,…”

 “Udah. Ayo!!..” paksaku sambil menarik tangannya yang makin terasa dingin.

 *****

 

 26 Desember 2011

 

 “Nak, Rangga….” Suara tante Vivi lembut menyapaku. Membangunkanku akan lelap.

 “Udah malem, Sayang. Kamu pulang gih. Besok kamu harus kuliah kan? Bidang kedokteran bukan hal mudah, Sayang”

 “Iya sih, Tan. Tapi… Vanya kan….”

 “Kan ada tante disini. Besok masih ada hari, kamu kan bisa ke sini lagi?”

 “Ya udah tante, Rangga pulang dulu. Assalamu’alaikum..”

 “Wa’alaikumsalam. Hati-hati ya, Sayang”

 Suasana kota Bandung makin ramai. Kerlap-kerlip lampu kota beradu indah di pinggiran jalan protocol utama. Suasana berbeda sungguh terasa saat aku melangkah keluar dari gedung rumah sakit yang serba putih. Ku teruskan langkahku ke gerbang utama rumah sakit. Ku hentikan sebuah taksi. Ku komando sang sopir untuk bergegas menuju ke rumah karena hari makin larut, aku tak ingin membuat mama khawatir akan aku. Dalam taksi teralun lagu “Seven Years Of Love” . Sebuah lagu yang kembali membangkitkan ingatanku akan kenangan bersama Vanya dulu. Saat dimana aku bisa melihat senyumnya yang menenangkan. Teringat olehku, bahwa tepat 3 hari lagi pada setahun lalu adalah hari dimana aku dan Vanya sempat kembali mengukir janji. Vanya, aku yakin kamu tak akan pernah melupakan janji kita itu.

 *****

 

 29 Desember 2010

 

 “Kak, ini lagu apa?” tanya Vanya sesampainya kami dalam mobil.

 “Pak Maman jalan yah. Udah sore nih, kasian Vanya”

 “Iya, Den” jawab Pak Maman,sopir pribadi keluargaku, patuh.

 “Ih, Rangga. Jawab dong. Ini lagu apa?”

 “Iya. Iya. Nyantai aja kali”

 “Jadi?”

 “…” K

 “Dasar!! Mending tanya Pak Maman aja. Pak, ini lagu judulnya apaan yah?”

 “Maaf, Non. Pak Maman nggak tahu lagu bule kaya beginian.” Jawab Pak Maman terlalu jujur.

 “Emang kenapa sih, Van?”

 “Aku suka ajah. Nggak boleh?”

 “Suka lagunya atau penyanyinya?”

 “Yee,… “

 “Ini lagu judulnya, Seven Years of Love” jelasku

 “Kok tahu?”

 “Ya tahu lah. Ini lagu kesukaannya Findha. Dulu dia suka banget ama penyayinya. Jadi dia ngoleksi album plus posternya. Dan ini salah satu lagunya”.

  “Oh. Maaf kalau aku jadi harus ngungkit-ngungkit masalah Findha. Aku..—“

 “Nggak apa. Nyantai aja. :)” potongku kemudian.

 “Tahun depan, aku harap kita bisa main-main lagi kaya tadi. Tahun ketujuh persahabatan kita. Dan pastinya terus berlanjut sampe tahun-tahun persahabatan kita berikutnya.”

 “Kamu kenapa sih? Pastinya lah kita bisa terus temenan. Kita masih punya banyak waktu, Van. Kamu kenapa sih?”

 Ia hanya diam. Keheningannya semakin membuatku penasaran akan apa yang terjadi pada diri Vanya. Sebenarnya apa yang disembunyikan olehnya? Oh, Vanya… .

 “Janji?” ucap Vanya sambil mengangkat kelingkingnya.

 “Untuk?” tanya ku keheranan.

 “Tetaplah menjadi sahabatku dan tetaplah berada di samping dan—“

 “Janji” ucapku memotong perkataanya. Ku kaitkan kelingkingku pada kelingkingnya kemudian.

 *****

 

 Mei 2011

 

 Ujian sekolah telah usai. Namun, aku beserta kawan-kawan lainnya masih belum benar-benar merasa merdeka. Kami masih harus berjuang dan bersaing untuk dapat masuk perguruan tinggi yang kami inginkan. Dan kurang seminggu ke depan merupakan hari dimana hajat akbar di sekolah kami akan dilaksanakan, Hari Perpisahan. Hampir semua siswa antusias dalam hal ini. Berharap ini merupakan sebuah momen yang tepat untuk mengukir sebuah kenangan terindah yang ada. Namun harapan itu seakan jauh berbeda akan keadaan yang terjadi belakangan ini. Vanya tiba-tiba menghilang. Tiada sedikitpun kabar darinya. Ia seakan hilang ditelan sang bumi.

 Tak hanya sekali aku menghubungi ponselnya, namun tetap tiada jawaban. Tak hanya satu dua pesan yang ku kirim padanya, namun tak satupun yang dibalas. Aku coba mengirim pesan padanya melalui dunia maya, tetap tak ada respon. Hingga hari ini, sepulang sekolah, ku putuskan untuk mendatangi rumah Vanya.

 Ting tong

 Ting tong

 Tak ada jawaban. Kali ini adalah panggilan terakhir dariku. Sebagaimana adab yang ada, jika sang pemilik rumah sudah dipanggil 3 kali dan ia tak kunjung menyambut. Maka sebaiknya kita pulang, karena mungkin sang tuan rumah sedang sibuk atau ada suatu kepentingan, atau saja ia sedang tidak mau diganggu.

 Ting tong…

 Bel terakhir telah aku bunyikan. Berharap kali ini benar-benar mendapat jawaban.

 Satu menit…. Dua menit…

 “Maaf, Den. Cari siapa?” seorang wanita paruh baya berpakaian sederhana menyambutku. Beliau Bi Imah, pembantu di rumahVanya.

 “Vanya ada, Bi?”

 “Em… anu, Den… Emm—“

 “Kenapa, Bi? Vanya baik-baik aja kan?” sergapku kemudian.

 “Aden ndak tahu toh?”

 “Tahu apa. Bi?”

 “Non Vanya kan lagi keluar kota sama Tuan dan Nyonya”

 “Apa? Kok Vanya nggak pamit ama aku, Bi? Vanya baik-baik aja kan?”

 “Em„, anu, Den.. Bibi… ndak tahu” jawab Bi Imah ragu-ragu.

 “Bibi nggak bohong kan?”sergapku pada Bi Imah. Aku merasa ada sesuatu yang mengganjal akan kepergian Vanya dan keluarganya

 “Nn…nndak kok, Den. Bener” jawab Bi Imah dengan suara pelan.

 “Yaudahlah, Bi. Rangga pulang dulu. Nanti kalau mereka udah pulang, bilang yah aku kesini nyari Vanya” ucapku pasrah kemudian. “Assalamu’alaikum…”

 “Wa’alaikumsalam…”

 ****

 

 Hening masih ada. Berputar-putar di antara kami. Aku, Pak Arif, guru Biologiku, dan Pak Sucipto, Kepala Sekolah. Aku masih terus bertanya-tanya akan alasan mengapa aku dipanggil ke ruang kepala sekolah. Hal penting apa yang akan dibicarakan beliau denganku? Kabar baik atau kabar buruk? Dua menit sudah pertanyaan itu berputar-putar di otakku. Dan dalam waktu dua menit pula, aku serasa akan mati tercekik rasa penasaran.

 “Ehem.. ehem…” Pak Kepala sekolah berdehem, tanda beliau akan memulai pembicaraan.

 Pak Arief tampak menggut-manggut, tanda beliau siap untuk mendengarkan setiap kata yang akan keluar dari Pak Sucipto.

 ‘Dag.. dig… dug.. dyar!!’ detak jantungku berdetak kencang, tanda aku siap untuk menerima segala kabar baik yang ada, juga sebagai tanda bahwa aku tidak siap menerima kabar buruk yang ada.

 “Begini, Nak Rangga……” beliau memulai pembicaraan. “apa kamu sudah mendaftar untuk jenjang berikutnya di salah satu universitas?”

 “I..ii..iya, Pak”

 Pak Sucipto hanya manggut-manggut. Perlahan aku mulai berani mengangkat kepalaku. Ku tatap lekat-lekat kepala botak beliau yang terlihat berkilau di bawah sinar lampu TL.

 “Selamat ya, Nak…” Pak Arief tiba-tiba angkat bicara. “Kamu mendapat tawaran program beasiswa di salah satu universitas terkemuka, dan—“

 “Beneran, Pak!!” sambungku cepat, tak perduli Pak Arief sudah menyelesaikan kalimatnya atau belum. Yang penting hepi ajalah J. “Wah makasih nih, Pak…” ku raih tangan Pak Sucipto dan Pak Arief, dan ku cium punggung tangan beliau berdua bergantian.

 “Iya ya , Nak…. Selamat untuk kamu” ucap Pak Sucipto penih wibawa.

 “Ada masalah, Pak?”

 “Begini, Nak… pihak universitas telah melihat hasil belajar kamu selama bersekolah di SMA ini…”

 “Dan?”sahutku tak sabar.

 “Mereka menawarimu untuk masuk dalam bidang kedokteran. Apa kamu berminat untuk masuk dalam bidang itu? Asal kamu tahu, Nak. Bapak sangat mendukung jika kamu masuk dalam bidang itu”

 “Begitu pula dengan Bapak, Rangga. Bapak sangat mendukung tawaran itu. Ini kesempatan emas buatmu, Nak…” tambah Pak Sucipto.

 “Biar saya pikirkan dahulu, Pak” jawabku sekenanya.

 “Baik baik… bapak beri kamu waktu sampai awal bulan depan”

 “Terimaksih, Pak”

 “Sekarang kamu bisa kembali, Nak”

 “Permisi, Pak..”

 *****

 

 30 Mei 2011

 

 Kedokteran? Aku benar-benar tak yakin akan tawaran itu. Aku sama sekali tak tertarik dalam bidang itu. Namun Pak Arif benar juga, ini kesempatan besar buatku. Aku harus bagaimana?

 Masih dibawah pengaruh rasa bingung yang tak karuan, ku buka laptopku. Ingin ku hilangkan semua penatku. Ku gerakan jemariku merangakai sebuah URL yang sedang digandrungi remaja sebagian besar, www.twitter.com. Setelah melalui proses sign in, aku telah sampai pada home dunia mayaku. Betapa terkejutnya aku saat kulihat akan adanya puluhan mentions dan DM pada akun twitter-ku. Dan…. Itu semua dari Vanya.

 Dia kembali… pantaskah aku mengatakan kata ‘kembali’ untuk munculnya kabar dari Vanya? Huh, aku tak tahu.

 “Ranggaaaaaa… toktoktok” suara Ibu buyarkan lamunan ku yang tak karuan. “Ada Nak Vanya di depan…. Temuin gih„,”

 “Apa? Vanya?” batinku. “Iya, Bu… bentar…” sahutku kemudian. “Vanya muncul setelah sebulan lebih menghilang…sebenarnya apa yang dia inginkan?” batinku masih tak percaya.

 … …

 “Hai, Rangga….” Sapa Vanya saat aku baru muncul dari balik tembok. Aku masih tak tahu apa yang harus ku katakan padanya. Haruskah rasa marah dan kecewa atas hilangnya kabar darinya secara tiba-tiba, yang ku tunjukan? Atau, haruskah ku tumpahkan segala rasa rinduku padanya dan mengenyampingkan semua kecewaku?

 “Ngapain lo kesini?” tanyaku begitu saja.

 “SorrRangga,… aku…”

 “… .”

 “Aku ada keperluan ama keluargaku di luar kota. Dan itu mendadak banget. Dan aku—“

 “Nggak bisa pamit atau ngasih kabar kek?!” potongku, kesal.

 “Em… Aku…”

 “Kenapa? Apa susahnya sih, Van?? Gue kecewa ama lo!!”

 “Gaa,… aku„,” dia hanya menangis. Air matanya mengalir deras dari kedua pelupuk matanya. Huh, aku membenci pemandangan ini, melihat Vanya menangis.

 “Udah lah, Van! Kalo Lo uda nggak mau kita sahabatan lagi, bilang aja. Nggak usah kaya gitu, ngilang nggak ada kabar. Sms, e-mail, telpon nggak ada yang lo respon.” Ucapku mencak-mencak.

 “Rangga,…” suaranya melemah. Wajahnya yang sedari tadi pucat, makin memucat kini. Air matanya terus mengalir.

 Dia menangis.

 Aku kian terbakar api emosi.

 “keluar dari sini!” ucapku padanya dengan nada lebih rendah dari sebelumnya.

 “Rangga,… aku—“

 “PERGI!!!” bentakku kemudian.

 Aku berbalik. Berharap Vanya tak mengetahui akan air mataku yang mulai meluncur mulus di pipiku. Berharap Vanya segera menghilang dari rumahku. Masih ku dengar isaknya untuk beberapa lama. Kemudian, ku dengarkan langkah kaki yang gontai menjauh dariku. Vanya pergi…. Entah dia akan kembali atau tidak,… Aku tak tahu…

 Aku masih berdiri terpaku di sini. Di tempat, dimana aku telah mengusir Vanya, sahabatku. Potongan-potongan episode saat aku bersama dia bermain dalam memoriku. Bagai film yang tengah di putar pada layar besar, begitu cepat. Gambaran akan kebersamaanku dengan Vanya teramat jelas terlihat dalam anganku. Haruskah semua kenangan indah itu berakhir sampai disini?

 “Vanyaaaaaaaa” ku teriakkan namanya sekeras mungkin, berharap dia akan berhenti menjauh dari rumahku. Ku balikan tubuhku, segera aku berlari menyusulnya.

 Van…” ku tangkap sosoknya yang kian menjauh dari pintu utama rumahku. “Vanyaaaaaaaa” kali ini ku teriakkan namanya lebih keras lagi.

 Dia berhenti.

 Aku pun berhenti berlari.

 Dia berbalik.

 Aku melangkah mendekatinya.

 Dia menatapku.

 Aku pun menatapnya.

 “Van…” ucapku dengan napas tersengal.

 “Rangga,…. Aku—“

 “Maafin aku ya, Van..” ku raih tubuhnya dan menariknya dalam dekapan tubuhku.

 “Maaf,…Maaf Rangga…” ucapnya sambil terisak dalam dekapanku.

 “sssst…..” ku letakkan telunjukku pada bibirnya yang pucat. “Udah,.. udah…semua udah berlalu. Aku yakin kamu punya alasan yang kuat untuk kepergian kamu. Em„„,aku ada kabar baik nih„,”

 “Oh ya… apa?” ucap Vanya sambil mengusap garis air mata di pipinya.

 “Aku dapet beasiswa, Van….”

 “Oh ya? Waw, selamat yaa…” ucapnya girang sambil memelukku. “Hebat kamu…jurusan apa?”

 “Itu masalahnya… aku bingung. Mereka nawarin aku di bidang kedokteran.. kamu tahu kan, aku kurang ada minat dalam bidang itu—“

 “Keputusan kamu gimana?”

 “… “ aku hanya dapat mengangkat bahu.

 “Kamu tanya sama hati kamu” ucapnya sambil menunjuk dadaku, menunjuk dimana hati kecil berada

 “ :) makasii, Van. Lo emang yang terbaik…”

 “:)”

 “Ntar malem aku mau traktir kamu makan. Oke? Buat ngerayain ini. Ntar aku jemput deh. Gimana?”

 “Nggak usah jemput lah. Nanti aku usahain ya, Ga…. Aku pulang dulu, tadi aku bilang ke Mama nggak bakal lama-lama soalnya.. Assalamu’alaikum”

 “Okeh. See you later, girl!! Jam 7 yah… Ati ati. Wa’alaikumsalam”

 *****

 

 20.00

 Satu jam lebih aku mematung di sini. Ku lirik jam tanganku, berharap waktu berhenti detik ini juga. Ingin ku berikan kesempatan padaVanya untuk dapat hadir di sini tepat waktu. Tapi….. lagi lagi ia tak tepat waktu. Lagi lagi ia tak memberikan kabar padaku. Ada apa lagi dengannya? Akankah dia menghilang lagi?

 Jarum jam menunjukan pukul 20.45. Seharusnya kami telah berkumpul, menghabiskan waktu bersama dengan senda gurau, dengan tawa, dengan kegembiraan. Tapi…. Yang ada hanya aku yang sendiri, dalam hening, dalam sepi.

 21.00

 Ku putuskan untuk kembali ke rumah seorang diri. Seharusnya aku melangkah pergi dari tempat ini berdua. Mengantar Vanya pulang, karena hari telah larut. Semua tinggal rencana….. lagi lagi Vanya mengingkari janjinya. Janji untuk datang pada malam ini. Janji untuk selalu memberi kabar akan suatu halangan yang terjadi padanya. Lagi lagi Vanya telah membuatku kecewa.

 ****

 

 Juni 2011

  “Rangga,… ada yang nyari tuh!!” seru Rendra kawanku dalam satu tim basket.

 “Siapa?”

 “Tuh” ucapnya sambil menunjuk seorang gadis berambut panjang dan berwajah pucat.

 “Vanya?”

 “…”Rendra hanya mengangkat bahu. “Cantik loh, tapi sayang wajahnya pucet banget. Temuin sono”

 … .

 “Ngapain lo di sini?” ucapku kesal saat sampai di hadapannya.

 “Aku tau hari ini kamu ada jadwal latihan basket. Jadi aku langsung ke sini aja. Dan ternyata tebakan aku bener, kamu ada di sini”

 “Pulang sana! Aku sibuk!”

 “Kamu marah?” dia bertanya dengan wajah polosnya. “Rangga, ….aku—”

 “Peduli apa Lo!! Pulang sana, gue nggak butuh temen kaya Lo!! Muna!”

 “Aku bisa jelasin, Ga… malam itu aku—“

 “Kenapa? Lo nggak bisa dateng karena jam di rumah lo mati lagi? Hape lo low batt, jadi lo nggal bisa sms buat ngasih kabar ke gue?!” omelku panjang lebar padanya. “Udah deh…. Gue capek!! Nggak sekali lo kaya gini”

 “Ga..aku—“

 “Dan lo juga tahu kan, gue paling nggak bisa toleran ama orang muna kaya Lo!!!!”

 “Tapi, aku punya alasan untuk ini, Ga!!! Dengerin dulu penjelasanku—“

 “Udah jelas semua!!!” potongku dengan nada suara yang kian naik. “PERGI LO!!! Enek gue ngeliat lo di sini!!” kata-kata jahat itu keluar tak terkendali dari mulutku. “PERGI!!!”

 Aku berbalik dan segera melangkah pergi menjauh dari Vanya. Berharap kali ini aku tak akan berbalik dan mengejarnya seperti dulu. Hatiku terlanjur luka dan bernanah. Aku benar-benar kecewa.

 … . .

 —-beberapa menit kemudian—-

 “Rangga… Ranggaaa…..” Dudi tergopoh gopoh ke arahku yang sedang asyik berkeluh kesah dengan bola basket.

 “Ngapain?” jawabku malas.

 “Cewe tadi… cewe yang barusan lo temuin—“

 “Kenapa lagi?” potongku cepat. “dia balik lagi? Maksa pengen ketemu gue lagi? Usir aja! Bilang gue lagi sibuk. Repot amat!”

 “Eh…. Bukan!!! Denger dulu!!” bantahnya. “Dia pingsan!!”

 “hah..” sahutku dengan mata melotot dan hati yang kaget bukan main. “Dimana?”

 “Di gerbang depan. Anak-anak lagi ngerubungin dia tuh”.

 Segera ku berlari menuju TKP.

 Tubuh gadis itu terbujur lemah. Wajahnya kian pucat. Mengalir darah segar dari kedua lubang hidungnya. Orang-orang di sekitarnya hanya terdiam, asyik menonton penderitaanya. Segera ku raih tubuhnya. Ku periksa denyut nadinya. Kian melemah. Pun kulitnya kian terasa dingin.

 “Apa yang kalian lihat hah? Panggil ambulance!!! CEPAAAAT!!!!” ucapku mencak mencak tak karuan.

 “Vanya……… bertahanlah…..” bisikku padanya lemah.

 *****

 

 “Apa? Kanker otak?” aku tercengang. Vanya tidak mungkin mengidap penyakit itu. Aku tahu dia orang yang kuat. Tuhan….. “Kenapa dia nggak cerita? Kenapa…. Aku nggak pernah tahu tentang ini?”

 “Maafkan tante, Sayang. Vanya sangat sayang sama kamu. Dia melarang tante dan om untuk cerita penyakit ini ke kamu. Dia nggak pengen kamu khawatir, Nak” jelas Tante Vivi dengan nada yang sengaja dibuat tenang.

 “Separah apa kankernya?”

 “Sudah stadium akhir. Sebulan yang lalu kami mencoba untuk menjalani terapi diluar negeri. Namun, pihak kesehatan di sana sudah menyerah, Nak. Terlambat bagi kami untuk melawan kanker di tubuh Vanya. Sesampainya kami di rumah, Vanya langsung merengek memaksa untuk datang ke rumahmu, Nak. Alhasil, beberepa malam lalu tubuhnya kembali melemah. Kondisinya drop. Tadi pagi, saat dia sadar dan agak membaik, dia memaksa agar diantar ke tempat latihan basket tempat kamu biasa latihan. Dia bilang, dia ada janji sama kamu. Tante nggak yakin untuk ngijinin dia ketemu kamu, tapi dia memaksa. Dan sekarang………” tante Vivi terisak. Kalimatnya terhenti. Airmuka yang tadi Nampak tegar, kini berubah menjadi sesal.

 Satu demi satu kejadian yang ada di ceritakan Tante Vivi dengan rinci meski diselai dengan isak tangis yang kunjung henti dari beliau. Semua seakan terputar kembali, bagai sebuah film kelam yang sama sekali tak ingin ku saksikan namun terus ku bayangkan.

 “Sabar ya, Te. Vanya itu orang yang kuat. Tante tahu itu kan?” hiburku pada tante Vivi seadanya.

 “Semoga saja, Nak. Dia sudah cukup lama menderita karena kanker ini. Sudah hampir 9 tahun yang lalu. Dulu sempat pulih, dan dokter sudah menyatakan dia sembuh. Tapi…… kanker itu muncul lagi…… :(” Tante Vivi tenggelam dalam isakan tangisnya yang pilu.

 

 Papa Vanya terdiam.

 Aku pun terdiam, terduduk lesu penuh sesal. Mengalir air mataku yang seakan percuma. Karena aku telah gagal melindungi Vanya. Gagal menjaga Vanya.

 

 Kini aku tak tahu harus berbuat apa. Inginku putar kembali waktu. Ingin ku cabut semua kata-kata kasarku pada Vanya. Ingin ku hapus semua prasangka burukku akan dia. Aku hanya bisa berlari. Membawa diri ini untuk menjauh dari badan Vanya yang masih dalam kondisi kritis. Aku ingin terus berlari, berharap menemukan sebuah jawaban atas segala segala rasa yang kini berkecamuk dalam dada.

 

 Tiba-tiba langit mendung. Tetes-tetes air langit turun basahi tanah bumi. Gemuruh bergelegar, saling bersautan seakan alam sedang marah. Apakah sang alam marah padaku atas Vanya? Terkutukkah aku sudah?

 …

 “Tuhan….. kenapa Engkau gariskan ini terjadi padaku??????” teriakku tak jelas, sesampainya aku pada suatu tempat yang dahulu sering ku kunjungi..

 “Kenapa Engkau biarkan  ini terjadi dalam hidupku untuk yang kedua kalinya, Tuhan? Belum cukup Engkau hancurkan hati ini dengan kepergian Findha??!!! Kenapa sekarang Vanya juga harus mengalami hal yang sama dengan halnya Findha?? Apa aku tak boleh bahagia, Tuhan? Apa aku memang tak pantas untuk mencintai dan dicintai oleh orang-orang istimewa seperti mereka?”

 Aku tahu ini salah. Tak seharusnya aku menyalahkan kuasa-Nya yang Maha Agung. Tapi, harus dengan siapa lagi aku mengadu kini?

 “Findha, lo tahu kan gimana hancurnya hati gue saat lo emang harus ninggalin gue untuk selamanya?” tanyaku pada pusara yang ada di hadapanku. “Sekarang, gue harus ngalamin lagi yang namanya kehilangan orang yang gue sayang, Dek…”

 Aku hanya dapat terus terisak. Terus tenggelam dalam banjiran airmata di bawah guyuran hujan. Terus berkeluh kesah akan semua sakit yang ku rasa, pada pusara di hadapanku. Pusara yang bernisankan “Findha”. Sosok teristimewa dalam hidupku. Adikku…..

 *****

 

 29 Desember 2011

 “Kamu pinter banget menyembunyikan semua ini dari aku. Dasar anak nakal!” ucapku pada sosok yang masih enggan membuka kedua matanya. Ia masih lelap dalam tidurnya yang panjang. Meski demikian, aku beserta keluarga Vanya yakin, Vanya pasti akan bangun dari lelapnya. Bangun untuk kembali tersenyum. Senyum yang mampu untuk membuat sang mentari malu dan selalu ingin bersembunyi di balik awan.

 “Kamu tahu kan hari ini adalah hari yang kamu tunggu setahun yang lalu. Tujuh tahun persahabatan kita. Kamu juga tahukan, sekarang aku uda kuliah di bidang kedokteran. Apa kamu nggak pengen tau ceritaku waktu di kampus? Seru banget, Van!” aku terus mngoceh sendiri. Entah, orang-orang di sekitarku telah menganggapku gila atau tidak. Tak peduli, yang terpenting Vanya segera sadar dan dapat kembali tersenyum. Walau matanya terpejam, aku yakin mata hati Vanya mampu merasakan semuanya.

 Ku letakkan tangannya di atas kepalaku. Ke genggam erat tangnnya yang dingin. Ku cium punggung tangannya dengan penuh rindu, penuh sesal.

 “Selamat hari persahabatan, Van. Seven years of our love” bisikku sambil kembali mencium punggung tangannya.

 Ku benamkan tubuhku dalam lipatan tanganku. Inginku pejamkan mata, dan menemuinya dalam alam bawah sadar. Mencari bayangannya dalam tiap kenangan yang terus mengaduk-aduk otakku.

 … .

 —-pukul 21.00—-

 

 “Rangga…..”

 Suara itu terdengar lemah. Suara yang hampir hilang dari pendengaranku 7 bulan lalu. Suara dari sosok yang ku rindu, … … . .Vanya.

 “Kamu udah sadar?” responku spontan. “Biar aku panggil dokter yah, kamu tunggu bentar disini”

 “Rangga…” ucap Vanya sambil memegang pergelangan tanganku, menghentikan langkahku.

 “Nggak usah. Aku baik kok. Aku lagi nggak pengen dapet ceramah dari dokter. Aku mohon..” ucapnya masih dengan lemah.

 “Oke”. Ucapku patuh. “Aku akan kabarin Mama dan Papa kamu-“

 “Gaaa…” kembali Vanya menatapku dalam. Ia menggeleng. “Aku nggak mau ngerepotin mereka”

 “Ya ya ya” jawabku setengah kesal.

 “Makasi :)” ucapnya sambil nyengir.

 “Lo tidurnya lama amat, kaya kebo—“ ucapku membuka perbincangan pertama kami setelah hampir 7 bulan kami mematung dalam perbincangan sunyi.

 “Oh ya?”potongnya, berusaha memberi respon yang baik.

 “Tapi…. Lo kebo paling cantik di dunia, Van.”

 “Gombal Lo!”

 “Aku masuk kedokteran” bisikku.

 “Selamat, Rangga :)” senyumnya mengembang di bibirnya. Senyum yang selama ini aku rindukan. “Selamat hari persahabatan,Rangga” lanjutnya lirih.

 “Selamat juga buat kamu, Van” dapat ku lihat senyumnya terus mengembang dalam wajah pucatnya. Senyumnya bagai bintang pagi yang indah.

 “Sekarang tanggal berapa?” tiba-tiba dia bertanya demikian.

 “29 Desember :)”

 “Oh ya? Waktu berjalan cepet banget ya selama aku nggak sadar..”

 “Kan aku uda bilang kamu tidur kaya kebo” godaku

 “Aku pengen ke taman, Ga. Bukannya kita udah janji untuk pergi ke taman ditahun ke-tujuh persahabatan kita?”

 “Lo nggak lupa, Van :). Makasii” batinku “Udah malem, Van. Kamu juga baru sadar. Besok aja yah”

 “Ayolah, Ga….. semua akan beda kalau besok. Bukannya kamu juga udah janji?” rengeknya manja

 “Nggak, Van!!”

 “Rangga,…. Please”

 “Diluar hujan, Van

 “Aku takut aku nggak punya waktu banyak untuk ini, aku—“

 “Lo ngomong apa sih? Kesempatan kita masih panjang” potongku karena risih akan kalimat yang belum terselesaikan oleh Vanya.

 “Rangga,…” ku lihat mata beningnya mulai tergenangi air mata.

 Ini adalah kelemahanku. Aku paling tak tega jika harus melihat seorang sahabatku seperti itu. “Oke, karena angka 7 merupakan angka bagus dan katanya sih membawa keberuntungan, aku anter kamu. Tapi inget, kamu juga harus sesuain sama kondisi kamu” jawabku kemudian.

 “Oke, nanti kalau aku udah nggak kuat. Aku bakal ngelambai’in tangan kok :D”

 “Sinting lo! Aku percaya kamu :)”

 “:)”

 ****

 …

 -pukul 23.45-

 

 Hujan masih belum reda, makin deras malah. Aku dan Vanya masih mematung memandangi tiap tetes air langit yang turun, kemudian mengembun pada kaca mobil. Kami berhasil sampai di taman ini dengan usaha yang tak mudah. Malam ini aku telah melakukan satu tindak kriminal. Menculik anak orang, sekaligus membawa kabur pasien rumah sakit yang baru sadar dari koma.

 “Hujannya nggak kunjung reda. Mending kita balik aja yah. Besok kita ke sini lagi” ucapku pada Vanya yang sedang asyik melukis pada kaca mobil dengan embunan air yang ada.

 Dia berbalik menatapku. Dia diam dalam beberapa saat. “15 menit lagi hari ini akan berakhir Ga

 “Justru itu, Van. Mending kita pulang. Hari udah makin malem dan ini sama sekali nggak baik buat kondisi kamu, Van

 “Karena hari tinggal 15 menit lagi, ayo kita turun dari mobil dan kita langsung menuju ke rumah pohon. Akan menyenangkan walau waktu kita nggak banyak” ucap Vanya seakan tak mendengar apa yang aku katakan sebelumnya.

 “Van,… lo dengerin gue ngggak sih?” protesku pada Vanya yang sedari tadi terus menerawang jauh dan terus berbicara tanpa melihat aku.

 “Rangga…. Waktu terus berjalan. Waktu kita nggak banyak” ucapannya seakan menandakan bahwa ia benar-benar  tak memperdulikan setiap ucapanku. “Ayo, Ga…..” lanjutnya dengan nada memaksa. Setetes bulir bening meluncur mulus dari hulu pelupuk matanya.

 “Van,… came on…dengerin aku” paksaku sambli menarik tangannya.

 “Please,…”  ucapnya melemah. Tetes airmata berikutnya menyusul jatuh dari pelupuk matanya.

 “Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa Van. Cuma itu.”

 “Aku akan baik-baik aja, Ga. Aku yang tahu seberapa kuat aku bisa bertahan dari semua ini”

 Ku tarik napas panjang. Berusaha untuk dapat memutuskan yang terbaik, tadi aku sudah mengalah untuk nekat membawa kaburVanya ke taman ini, dan sekarang…..

 “Okelah, Ayo” kubukakan pintu mobil untuknya.

 “:) thanks, boy”. Ucapnya senang, tentu dengan sebuah senyum yang sempat hilang selama beberapa bulan lalu.

 Sesaat kemudian ia tampak bingung. Sepertinya ada masalah dengan kakinya. “Bisa bantu aku untuk sampai ke rumah pohon?” tanyanya ragu dan sungkan.

 “Ow,.. withpleasure Princess,…:)” ku raih tubuhnya dan ku bopong dia. “Lo makin berat ya, harusnya tambah enteng!! Dasar kebo!!”

 “Sialan lo!! Sini biar aku pegang payungnya” tawarnya padaku.

 Angin bertiup makin kencang. Pun hujan tak lekas untuk sekejap menghentikan tiap tetes yang ada. Hal ini makin memberatkan langkahku dan Vanya untuk dapat sampai di rumah pohon kami.

 “Aaahh,…” Vanya memekik kaget saat tiba-tiba payung yang dibawanya terbawa tiupan angin. “Rangga,… maaf.. payungnya…” ucapnya dengan suara makin lemah yang beradu dengan derasnya suara hujan.

 “Tenang, Van. Bentar lagi kita sampe” ucapku tergopoh-gopoh.

 Ku percepat langkahku. Tubuhku sudah kuyup, begitu pula Vanya. Melihat wajahnya yang kian memucat, aku makin khawatir dan merasa serba salah.

 …

 

 “Kita udah sampe, Van” ucapku pada Vanya yang tampak kian lemah di pangkuanku. Wajahnya kian memucat. Guyuran hujan makin membuatnya lemah.

 “Makasii, Rangga…” ucapnya sambil meraba ukiran tulisan yang ada di pohon Mahoni milik kami. “Makasii kamu udah mau temenin aku, jaga aku—“

 “Van,… udah… :)” ku tatap matanya yang bulat nan penuh akan ketulusan cinta. Ia tetap menggigil walau sudah mengenakan jaket miliknya. Ku kenakan jaket ku untuk melapisi tubuhnya yang kuyup. “Aku seneng banget bisa kenal dan bersahabat ama orang kaya kamu”

 “Nggak kerasa ya, udah tujuh tahun kita sama-sama. Rasanya baru kemarin, tapi kenapa ya rasanya hari ini semuanya akan berakhir—“

 “Sssstttt,…… ku letakkan telunjukku pada bibirnya yang pucat dan gemetar. “Waktu kita masih panjang” bisikku pilu.

 “Aku harap, Ga” ucapnya lelah sambil menarik masuk tubuhnya dalam dekapanku. “Maaf kalau selama ini aku nyembunyiin masalah ini ke kamu. Aku udah nggak jujur ke kamu”

 Ku peluk ia erat. Semakin lama semakin ku eratkan dekapanku padanya. Dan makin terasa pula tubuhnya yang kian melemah dan gemetar. “Van, kita balik yah. Inget ama janji kamu buat jaga kondisi kamu”

 “Nggak, Rangga,….” Ia menggeleng di dadaku, dalam dekapanku. “Semenit lagi, Ga… hanya tinggal semenit hari ini akan berakhir.. tetaplah seperti ini. Jangan lepaskan semua ini, Ga.” Ucapnya makin lirih dan lelah dari sebelumnya.

 Ku rasakan kulitnya yang kian dingin dalam genggaman tangannya. Ku eratkan pula dekapanku pada tubuhnya, hanya berharap agar ia masih bisa merasakan hangat. “Jangan tinggalin aku kaya Findha ya, Van

 “Nggak, Ga. Nggak akan.” Ucapnya pelan. “Dan asal kamu tahu, Findha nggak pernah ninggalin kamu, dia selalu ada di sisi kamu. Dia bener-bener adek yang istimewa, Ga. Seperti kata-kata kamu dulu”

 “Iya,… dia istimewa” ucapku dengan linangan airmata yang mulai jatuh. “Sama istimewanya sama kamu, Van :)” ucapku pahit. “Aku sayang sama kamu, Van

 “J aku juga, Ga” ucapnya sambil menatap mataku dalam. “Aku sayaaaang banget sama kamu :)” ujarnya sambil berusaha tersenyum wajar. Meski tetap saja senyumnya makin menambah pahit luka hati ini.

 “I love you” bisikku.

 “really?”

 “I do. You’re a special one in my life. My best friend. You never be changed in my heart” lanjutku padanya.

 “I’m great to hear that :). I love you too, boy. You’re the best in my life. Kamu anugrah paling indah, Rangga.”

 Ku dekap tubuhnya. Aku tak kuasa lagi untuk menatap matanya lebih lama. Tak memiliki daya untuk mendengarkan setiap kata yang diucapnya lirih dan lelah. Ingin terus ke peluk ia. Tak ingin melepaskannya. Seakan, jika aku melepaskan dekapanku ini, maka aku akan kehilangan semuanya. Kehilangan untuk selamanya.

 Ku lirik jam tanganku. Waktu telah menunjukan pukul 00.00 Tepat tengah hari. Jika sang jarum jam bergeser sepersekian detik saja, maka hari bahagia bagi kami ini berakhir sudah. Bersamaan dengan berjalannya sang waktu dan bergantinya hari, hujan pun mereda , berganti dengan rintik gerimis yang turun. Angin yang tadinya bertiup kencang, kini menjinak berganti dengan tiupannya yang sepoi menenangkan.

 “Van,… ayo balik ke rumah sakit. Hari udah berganti. Inget kondisi kamu” ucapku memecah sunyi saat ku lihat sang waktu menunjukan pukul 00.01

 “… “

 “Van,…????” ucapku diterjang berjuta tanya. Ku tarik ia dari dekapanku. “Vanya….????”

 Wajahnya tampak sangat pucat. Bibir merah mudanya, membiru. Kulit tubuhnya terasa dingin. Sangat dingin. Tubuhnya tak lagi gemetar seperti tadi. Terkesan tak kuasa bergerak malah.

 “Vanya…….” Ucapku sambil mengguncang ringan tubuhnya. “Kamu udah janji untuk nggak ninggalin aku, kan? Van?”

 Ku periksa denyut nadinya yang terasa amat lemah. Ku lakukan pertolongan pertama sederhana. Ku tekan dadanya perlahan, untuk memancing reaksi dari detak jantungnya.

 Tak lama, ia membuka matanya.

 Ia tersenyum.

 “Rangga,…..”

 “Sssst,…. Udah. Sekarang aku bawa kamu ke rumah sakit.”

 

 Ia mengangguk pelan. “Aku bahagia banget malam ini.” Ucapnya lelah terbata. “Rangga,… maaf aku—“

 

 Ia tak mampu melanjutkan kata-katanya. Dan pada detik itu pula, tarikan nafasnya memberat, denyut nadinya melemah, dan,………

 “VANYAAAAAAAAA!!!!!!!” aku tak mampu melakukan apapun. Ia pergi. Menyusul Findha di sana. “TUHAAAAAAANNNN,…..”

 “Innalillahi wa inna ilaihi roji’uun” ucapku pasrah. Ku kecup kenignya sebagai tanda kasih dan cintaku padanya. Mungkin adalah kesempatan terakhirku untuk dapat terus manatap mata bulatnya, mendekap erat tubuh kurusnya.

 Angin sepoi-sepoi seakan tak mampu membawa duka ini pergi. Dinginnya Angin malam yang menusuk tulang, seakan tak mampu saingi kepedihan dan kepahitan hati ini. Vanya pergi. Separuh jiwa dan hatiku turut pergi bersamanya. Akankah semua cerita yang ada pun akan pergi bersamanya??

 *******

 

 

 

~ THE END ~

sesalku @Qilla1725

   Tepat tanggal ini seorang sahabat ku berulang tahun . Senang rasanya mungkin dia akan bertambah dewasa, tapi aku semakin takut bila umur-nya tidak panjang lagi. Nafiqa Nathanile namanya panggilannya Fiqa. Aku menyukai nya dari dulu. Tapi, aku tidak berani untuk mengungkapkan padanya. Rencananya hari ini aku akan menyatakan cintaku pada Fiqa.
 
 
@SEKOLAH
 
"Rangga" teriak seseorang yang sangat aku kenal. Dia menghampiri aku.
 
"Ada apa?" tanya ku padanya.
 
"Gak papa, aku cuma pengen nemenin kamu kok" jawab Fiqa.
 
"Oh oke.." ucap aku tersenyum. Fiqa membalas senyum ku.
 
"Kok kamu gak masuk kelas Ga?" tanya Fiqa.
 
"Gurunya lagi rapat!" ucap aku. "Kalo kamu ngapain ke sini?" 
 
"Biasa lah.."
 
"Gak ngerjain PR lagi?" tanya ku.
 
"Tau aja!" kata dia tertawa.
 
"Oh ya, happy birthday " ucap ku tersenyum.
 
"Makasih ga " ucapnya sambil mencubit pipiku.
 
"Sakit tau.. Mmmm nanti sore kamu ada acara gak?" tanya ku.
 
"Gak.. Emang ada apa?" tanya-nya balik.
 
"Aku mau kasih sesuatu buat kamu!"
 
"Apa?"
 
"Kamu datang aja hari ini jam 4 di tempat biasa" ucap ku.
 
"Di danau ya? oke deh" kata nya.
 
"Jangan telat ya.. Aku tunggu lho!" ucap ku. "Aku balik ke kelas dulu ya?"
 
"Ya sudah.."
 
 
 
 
SKIP
 
 
 
            Jam menunjukkan pukul 15.45 saat nya aku berangkat ke danau meskipun hujan deras. Setelah tiba di sana aku tidak melihat kedatangan Fiqa.Aku menunggu Fiqa sampai jam 16.00 dia tetap tidak ada.
 
'Mana mungkin Fiqa membatalkan janjinya dengan ku!'  batin ku. 1 jam telah berlalu, hujan dengan derasnya mengguyur badan ku hingga basah semua.
 
            Tepat pukul 17.15 aku memutuskan pergi ke rumah Fiqa. Aku pun masuk ke dalam mobil ku dan memulai menjalankannya. Baru beberapa menit aku meninggalkan danau terlihat samar-samar oleh ku seorang gadis berperawakan seperti Fiqa di tabrak lari oleh mobil truk. Ku pikir itu bukan Fiqa, tapi karena aku merasa iba akhirnya aku mendekat lalu aku memarkiran mobil ku di tepi jalan. Aku pun mendekati seorang cewek tadi! setelah aku amati mukanya, ternyata dia memang Fiqa. Aku memangku kepala Fiqa sambil mengusap darah yang keluar dari kepalanya dengan tangan ku.
 
"Fiqa.. Bangun fiqa" ucap ku sambil memukul lembut pipinya. tapi, tidak ada respon.
 
"Tolong.. tolong" teriak ku. Banyak orang yang menolong ku.
 
"Ada apa dek?" tanya seorang bapak-bapak.
 
"Tolong bantu saya pak! gadis ini sahabat saya! Dia baru saja di tabrak lari oleh truk pak" ucap ku sambil menahan air mata.
 
"Ya sebaiknya sahabat adek ini harus segera di bawa ke Rumah Sakit"
 
"Bantu saya untuk mengangkatnya ke mobil pak" pinta ku sopan.
 
"Baiklah" kata bapak itu. Aku pun segera membuka pintu mobil agar Fiqa cepat di bawa ke Rumah Sakit. Saat aku hendak masuk ke mobil. Tiba-tiba aku melihat sebuah botol kecil yang berisi sebuah kertas, botol itu segera aku ambil dan memasukannya ke dalam kantong celana.
 
"Terima kasih" ucap ku pada seorang bapak yang membantu ku tadi.
 
"Ya sama-sama dek!"
 
 
Aku membawa mobil ku lebih cepat, agar Fiqa bisa di selamatkan. Terlihat banyak sekali darah keluar dari kepala Fiqa.
 
 
 
@RUMAH SAKIT
 
 
'Aku mohon semoga Fiqa baik-baik saja' batin aku. Dokter yang menangani Fiqa keluar.
 
"Bagaimana keadaan Fiqa dok?? baik-baik saja kan?" tanya ku sambil menahan air mata. Dokter itu menghela nafas.
 
"Jawab dok" kata ku.
 
"Maaf kami telah berusaha semaksimal mungkin. Tapi, tuhan berkehendak lain. Saudari Fiqa kehilangan banyak darah, sehingga dia meninggal!" ucap Dokter itu.
 
"Apa dok? gak mungkin-gak mungkin!" ucap ku. Dokter itu menatap ku dan meninggalkan ku sendiri. Aku bersandar di dinding dan meremas rambut ku sambil menangis. Tiba-tiba aku teringat dengan botol kecil tadi.. Aku segera membukanya..
 
 
 
Dear Rangga,
Mungkin saat kamu membaca surat ini aku telah tiada.. Maafkan aku tidak bisa tepat waktu tuk sampai ke Danau.. Aku merasa umurku sudah dekat! tapi, aku tidak mau mengecewaimu aku tetap ingin bertemu kamu walaupun sisa umurku tidak panjang lagi.. Kalau boleh jujur aku sayang sama kamu, sayang bukan sahabat tapi lebih dari itu.. Aku hanya ingin kamu tersenyum melihat ku.. Please dont cry!! I will always love you
 
                                                                                                                         Salam hangat,
                                                                                                                       Nafiqa Nathanile
 
 
 
 
'Jika tuhan berkata begitu aku ikhlas kok.. Tapi, aku menyesal  aku menyesal sekali tidak bisa menyatakan cintaku di saat kau ada.. I WILL ALWAYS LOVE YOU TOO FIQA'  batin aku sambil menangis..

“Cerita Cinta Clara (CCC)” @Ditha_kitut

“Cerita Cinta Clara (CCC)”

 

SMASH boyband yang sedang hits dikalangan remaja, mengadakan launching album mereka yang kedua. Anak2 SMASH sudah berkumpul di backstage kecuali rangga.

“Rangga kemana ?” tanya manager SMASH.

“Rangga lagi di jalan mas, sebentar lagi juga dateng!” jawab rafael.

“oke, hubungi rangga lagi acara sudah mau dimulai!” ucap manager SMASH.

Di lain tempat Rangga sedang cemas karena mobilnya yang macet.

“mas rangga, ini akan lama karena tidak ada bengkel di dekat2 sini.” Jelas supir rangga.

“Jadi gimana pak, disini susah taxi kalau saya tidak cepat jalan , launching album saya bisa berantakkan.” Keluh rangga.

Tiba2 seorang gadis mengendarai sepeda motor menghampiri rangga.

“ada yang bisa saya bantu ?” tanya gadis itu.

“mobil gue pecah ban, dan gue harus cepet datang ke launching album gue.” Jelas rangga.

“gimana kalau gue yang nganter lu ?” tanya gadis itu.

“Naik MOTOR ??” ucap rangga.

“gue tahu sih seorang rangga SMASH mana mungkin mau naik sepeda motor panas-panasan, jadi terserah lu!” celoteh gadis itu.

“udah mas rangga ikut aja dari pada telat.” Ucap supir rangga.

“Oke, gue ikut lu!” ucap rangga pada gadis itu.

“siap, tenang aja lu bakal selamat sampai tujuan.” Ucap gadis itu lalu melaju dengan motornya.

****

Rangga dan gadis tersebut sampai ke tempat launching album SMASH. Setelah sampai Rangga langsung terburu-buru memasuki gedung tanpa mengucapkan terimakasih, bahkan sampai lupa melepaskan helm.

“Lu siapa ?” teriak Dicky.

“Rangga !” ucap rangga dari balik helmnya.

“yah, lu ada2 aja ngapain lu pakai helm sampai dalam gedung!” celoteh bisma.

“Helm ?? yaallah gue lupa bilang makasih dan mengembalikan helm ini sama yang nolong gue!” keluh rangga membuka helmnya.

“Udah entar aja, acara sudah mau dimulai!” ucap morgan.

****

Rangga menatap helm diatas meja dikamarnya.

“siapapun lu, hari ini lu udah jadi penyelamat hidup gue! Bodoh banget sih gue. Jangankan alamat namanya juga gue gak tahu.” Gerutu Rangga pada dirinya sendiri.

Tak lama kemudian terdengar suara mama rangga memanggilnya.

“Rangga ada telepon!” teriak mama rangga dari bawah.

“Iya ma…!” jawab rangga.

Rangga menuruni anak tangga menuju telepon rumah.

“Halo siapa ini ?”tanya rangga.

“halo kak, ini clara BB kak rangga gak aktif makanya clara telepon kerumah.” Ucap clara.

“iya BB kakak lowbat, kenapa clara?” ucapa rangga.

“Besok ketemuan ya kak.” Ucap clara.

“oke see you!” jawab rangga menutup telepon.

Tut…. tut…. tut….

****

Rangga yang ditemani anak2 SMASH lainnya menunggu clara di cafe deket sebuah taman.

“kak Rangga !” teriak clara melambaikan tangannya.

“akhirnya dateng juga si anak manja!” celoteh reza.

“Ih, kak reza apaa sih !” gerutu clara.

“udah jangan ngambek clara manja yang cantik.” Ucap rafael.

“makasih cocoh ku yang charming… oh, ya clara kesini sama kakak clara kenalin Cinta!” ucap clara.

Seorang gadis menampakan wajah dari balik tubuh clara.

“Selamat siang salam kenal gue Cinta.” Sapa cinta.

“Lu si Helm ?” Ucap rangga terkejut.

“HELM ?” ucap bingung anak2 SMASH lainnya termasuk clara.

“Maksudnya helm apa ?” tanya clara.

“begini tempo hari cinta nolongin gue, dan helmnya yang kebawa sama gue itu.” Jelas rangga.

“oh, jadi ini si pemilik helm.” Ucap dicky.

“ternyata kalian sudah saling kenal bagus deh,”ungkap clara.

Mereka larut dalam perbincangan siang hari itu.

****

Malam hari clara memasuki kamar cinta.

“kak malem ini aku tidur sini ya.” Ucap manja clara.

“iya, adik aku yg cantik..” ucap cinta mengacak rambut clara.

“kak, aku mau kasih tahu kakak siapa cowok yg aku suka, yang aku sering curhatin ke kakak.” Ungkap clara.

“emang siapa sih orangnya?” tanya cinta.

“kak rangga.” Ungkap clara tersipu.

“rangga ?” ucap cinta kaget.

“kenapa ? kak rangga cakep, sholeh dan baik lagi.” Ungkap clara.

“iya, kakak tahu kok.” Ucap cinta tersenyum.

“jadi, kakak setuju kan, kakak dukung aku kan.” Ucap clara mendekati wajah cinta.

Cinta tersenyum menganggukan kepalanya.

“kakakku emang paling baik…” ungkap clara memeluk cinta.

****

Rangga turun dari mobilnya dan menghampiri clara yang sedari tadi sudah menunggunya.

“hey, udah lama nunggunya?” tanya rangga.

“barusan aja kak, jalan sekarang?” tanya clara.

“oke !” jawab rangga tersenyum.

Clara dan rangga menuju sebuah danau di dekat sekolah mereka sewaktu SMA.

“hem, jadi kangen, dulu kita sering banget kesini, ya kan kak?” ucap clara menoleh ke arah rangga.

“iya, katanya ada sesuatu yg lu mau omongin sama gue ?” tanya clara.

“itu… sebenernya …” ucap clara guggup.

“sebenernya apa ?” tanya rangga menatap clara.

“gue sayang kak rangga.” Ucap clara.

“hah… kak rangga juga sayang sama clara.” Ucap rangga memegang bahu clara.

“maksud clara cinta sama kak rangga clara mau kak rangga jadi pacar cinta, bukan sekedar sahabat.” Ungkap cinta.

“clara, kakak udah anggep clara sebagai adik kakak sendiri, mungkin kalau kakak sudah ada pacar , pasti kakak lebih sayang kamu, clara bisa ngerti kan.” Ungkap rangga.

“hem, clara tahu kok!” ucap clara memaksakan senyumnya.

“udah donk jangan sedih, jangan galau2an.” Ucap rangga mengacak rambut clara.

“kak, rangga apa ada cewek yg kak rangga suka?” tanya clara.

“em.. kasih tahu gak ya ?” ucap rangga.

“ih, kak rangga jangan rahasia2an deh, anak mana, aku kenal ?” tanya clara penasaran.

“dia itu…. rahasia…. !” ucap rangga mencubit kedua pipi clara lalu kabur.

“hey… jangan kabur ya !!” teriak clara.

****

Rangga mengantar clara pulang kerumahnya.

“aku masuk dulu ya kak, dah… hati2 dijalan ya ka!” ucap cinta melambaikan tangannya lalu masuk ke dalam rumah.

Tapi saat rangga beranjak pergi, terlihat cinta yg baru pulang, rangga memberhentikan mobilnya dan turun.

“dari mana?” tanya rangga.

“eh, lu dari beli makanan ringan, clara gak bisa tidur kalau gak ngemil.” Ucap cinta.

“oh.. gue bantuin bawa ke dalem ya.” Ucap rangga.

“gak usah gue bisa sendiri kok, lu gak mau masuk ?” tawar cinta.

“sebenernya gue mau ngomong sama lu, tapi disini aja boleh ?” tanya rangga.

“sama gue?” tanya clara.

“iya, sambil duduk di teras aja ya.” Ucap rangga.

“oh, ya udah sini aja.” Ucap cinta duduk di teras depan rumahnya.

“lu, kuliah juga ?” tanya rangga.

“iya, tapi beda kampus sama kalian,?” ucap cinta.

Tiba2 saja rangga menatap dalam mata cinta.

“omg, kenapa si rangga natap gue begitu sumpah deg2an banget.” Ungkap cinta dalam hati menutup matanya.

“lu kenapa?” tanya rangga tertawa kecil.

“lu yang kenapa natap gue begitu.” Gerutu cinta.

“Cinta bagaimana kalau ada cowok yg tiba2 nyatain perasaannya sama lu?” tanya rangga.

“maksudnya?” ucap bingung cinta.

Rangga membalikan tubuhnya dan menatap dalam cinta.

“gue mau jujur dari awal kita ketemu, gue udah suka sama lu. Gue gak bisa kalau nyimpen perasaaan ini lama2, lu mau jadi pacar gue.” Ungkap rangga.

“apa? Bukannya lu sama clara?” tanya cinta.

“gue Cuma anggep clara adik gue, gak lebih.” Ungkap rangga.

Tiba2 clara muncul dari belakang mereka.

“maksunya apa ini kak ?” tanya clara menangis.

“Clara kakak bisa jelasin semuanya.” Ucap cinta memegang tangan clara.

“enggak, aku gak mau denger apa2, kenapa sih kak, kenapa harus lu, semua suka sama lu, semua sayang sama lu, lu udah ambil semua perhatian buat gue, papa, mama, sekarang kakak rangga, kenapa.” Ucap clara terisak karna tangisnya.

“enggak, itu gak bener kakak sayang clara.” Ungkap cinta.

“clara, jangan salahin cinta, please semua salah kak rangga, kak rangga yg suka sama cinta, jadi semua salah kak rangga.” Jelas rangga.

“gue benci kalian… gue benci sama lu kak, lu bukan kakak gue, gue gak punya kakak, lu Cuma anak panti yang diambil sama orang tua gue, lu bukan siapa2.”ucap clara mengeraskan suaranya lalu berlari pergi keluar.

Cinta terdiam menundukkan kepalanya, air mata membasahi pipinya.

“clara, cinta mungkin hanya emosi, dia gak beneran ngomong begitu jadi lu jangan masukin kehatinya.” Ucap rangga merangkul cinta.

“selama ini gue Cuma buat susah clara, ternyata gue Cuma buat sedih dia, gue jahat, gue bukan siapa2, gue bukan kakak yang baik.” Ungkap cinta menangis.

“lu udah lakuin yang terbaik.” Ungkap rangga menghapus air matanya.

“kak rangga pulang aja gak apa, gue mau kejar clara, gue takut dia kenapa2.” Ucap cinta.

“gue temenin lu.”ucap rangga.

Rangga dan cinta mencari keberadaan clara, sampai akhirnya mereka menemukan clara yg berdiri di tengah jalan raya, dari kejauhan terlihat mobil melaju sangat cepat dan…

“clara awas…” teriak cinta berlari dan mendorong tubuh clara ke pinggir jalan.

“kak cinta….”teriak clara.

“cinta…..” teriak rangga menghampiri cinta.

Mobil yg menabrak melari dirkan diri dengan cepat.

“lu pegang cinta tunggu sini gue ambil mobil.” Ucap rangga.

“hem.. cepet kak!” ucap clara panik.

 “kak cinta, kenapa kak kenapa kakak ngelakuin ini.” Ungkap cinta memeluk cinta di pangkuannya.

“kak.. cin..ta sa…yang cla…ra, ka…mu gak ke…napa2 kan ? ”ucap cinta terbata2 memegang wajah clara lalu tak sadarkan diri.

 “kak, cinta kak bangun kak…” ucap clara menangis mengguncang tubuh cinta.

Tak lama rangga datang, clara dan rangga membawa cinta kerumah sakit.

****

Di rumah sakit clara dan rangga menunggu cinta yg sedang ditangani dokter.

Tak lama dokter keluar dan menghampiiri rangga dan clara.

“dimana keluarganya?” tanya dokter.

“saya dok, saya adiknya.” Ucap clara.

“alhamdulillah operasinya berjalan lancar, pasien sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat. Itu karena kalian cepat membawa dia ke rumah sakit.” Jelas dokter.

“iya terimakasih dok, atas bantuannya.” Ucap rangga dan clara yg menjabat tangan dokter.

****

Keesokan harinya cinta terbangun, dan sadarkn diri, membelai rambut clara yg tidur di sampingnya.

“kak cinta udah sadar ?” ucap senang clara.

“kak cinta tahu gak sih, gimana paniknya aku! aku takut kehilangan kak cinta, kalau kak cinta sekali lagi buat aku khawatir aku gak akan lagi maafin kak cinta.” Ucap clara menangis.

“sini, peluk kak cinta.” Ucap cinta.

Clara memeluk cinta “aku sayang kak cinta, aku takut kak cinta bakalan ninggalin aku, maafin kata2 aku kemarin ya kak, aku udah jahat aku udah salah nilai kak cinta, makasih kak udah jadi kakak terbaik buat aku.” Ungkap clara menangis dalam pelukan cinta.

“hem, adik kakak ini udah besar ya,” ucap cinta mengacak2 rambut clara.

“ih, kakak… ngomong2 kak rangga kemana ya ?” tanya clara.

“rangga?” tanya cinta.

“iya, yg bawa kak cinta kesini kan kak rangga sama aku.”ucap clara.

“soal rangga, kakak gak maksud buat kamu sedih.” Ucap cinta.

“aku gak apa2 kok kak, aku lebih sayang kak cinta dari pada kak rangga bahkan melebihi sayangku pada diri sendiri, aku rela kehilangan kak rangga, apalagi menyerahkannya untuk kakakku tersayang.” Ungkap clara tersenyum.

“cinta, kenpa bisa jadi begini.?” Ucap mama clara yg tiba2 datang .

“mama?” ucap kaget clara dan cinta bersamaan.

“kamu gak apa2 sayang?” tanya mama.

“gak apa2 kok ma, aku Cuma kurang hati2 aja, papa mana?” tanya cinta.

“papa lagi nemuin dokter, clara kenapa kakak kamu bisa jadi beginin, ini bukan karna kamu kan.” Ucap mama.

“aku terus yang disalahin.” Keluh clara.

“Clara udah jadi adik yang baik ma, buktinya di yang bawa dia kerumah sakit.” Jelas cinta.

“anak siapa dulu anak papa..!” ucap papa dari depan pintu kamar pasien.

“anak mama juga.” Ucap mama.

“adik aku juga.” ucap cinta.

“kalian buat aku terharu…” ungkap clara.

“Termakasih ya allah, kau telah hadirkan mama, papa, dan juga clara yang  sayang sama aku. Aku beruntung menjadi bagian dari keluarga ini. Mama papa yang ada disurga aku juga sayang kalian.” Ungkap cinta dalam hatinya.

****

Seminggu kemudian…

“kak, katanya kak rangga mau keluar negri loh.” Ucap clara.

“biarin aja.” Jawab cinta.

“tapi, katanya gak tahu kapan balik lagi ke indonesia, bahkan aku denger nih kak rangga gak mau balik lagi ke sini.” Ucap clara.

Cinta menatap clara.

“bukannya kalau sayang, gak akan biarin dia pergi jauh, hem sayang sekali padahal aku ngelepas kak rangga buat kak cinta.” Keluh clara.

“clara…” ucap cinta.

“udah samperin sana, sebelum pergi sebelum diambil orang.”ucap clara tersenyum.

Cintapun berlari keluar dan mencari taxi menuju bandara.

****

Di bandara clara mencari dimana keberadaan rangga.

“Rangga….!” teriak cinta.

Cinta berlari menghampiri rangga.

“kenapa?” tanya rangga bingung.

“please, jangan pergi gue mau lu tetep disini, gue gak mau kehilangan lu, gue suka sama lu.” Ungkap clara menatap rangga.

“gue juga suka sama.” Ucap rangga memeluk cinta.

“jadi lu gak akan pergi keluar negeri kan?” tanya cinta.

“ke luar negeri?” tanya bingung rangga.

“kata clara.” Ucap cinta.

“siapa yg mau keluar negeri, gue kesini abis nganter orang tua gue yg pergi ke australia.” Jelas rangga.

“apa, jadi clara bohongin gue?” gerutu cinta.

Gubraaakkk…

Rangga dan cinta mencari dari mana asal suara orang terjatuh.

“clara?” ucap cinta.

“morgan, rafael, bisma, dicky, reza, ilham… kalian ngapain?” tanya rangga.

“oh, gue tahu nih, pasti kerjaan kalian kan?” tanya cinta.

“hem, tapi kalian harusnya berterimakasih sama kami, kalau bukan karna kami kalian gak mungkin jadian sekarang kan.?” Ucap dicky.

“bener tuh kata kak dicky.” Ucap clara.

“oh gitu ya, terima kasih semuanya udah buat gue pagi2 olahraga, kalian tahu karna tadi macet gue harus lari2 ke sini, kaki gue rasanya mau patah tahu gak ?” ucap marah cinta.

“hah? Kakak jalan kaki kacian.. kakak aku.” ucap clara.

“iya, mana belum sarapan lagi.”keluh cinta.

“lu belum sarapan, ya udah kita cari makan dulu ya.” Ucap rangga tersenyum.

“asiikk makan2.” Ucap bisma.

“gak ngajak kalian.” Ucap rangga menarik cinta pergi.

Morgan, rafael, bisma, dicky, reza, ilham dan clara menundukan kepala mereka.

“hey, ayo kalau mau makan..!” teriak cinta.

“oke, dengan senang hati.” Teriak semua.

“eh, gimana kalau abis ini nonton bioskop.” Usul rafael.

“sebelum nonton beli es krim dulu.” Ucap cinta.

“gimana kalau perpustakaan aja baca buku.” Usul morgan.

Semua menatap morgan.

“kenapa, bisa nambah wawasan banyak ilmu yg bisa kita ambil.?” Ucap morgan.

“enggak…! ucap semua berlari

“hey, dasar kalian ini !! tungguin gue…. “teriak morgan mengejar lainnya.

END

Puisi for @Rangga_Moela @patricia_yola

Puisi for @Rangga_Moela
bagiku kau adalah inspirasiku..
jika aku melihat fotomu, aku pasti besemangat..
karenamu setiap hari aku tersenyum..
jika kau muncul di tv„ aku pasti menontonmu..
walau kadang aku tak sempat, karena harus menyelesaikan kewajibanku..
kadang aku berpikir„ 
kapan aku bisa bertemu denganmu..
berfoto denganmu..
mendapatkam tanda tanganmu..
itu semua akan menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagiku..
aku selalu berdoa„
agar kau selalu dilindungi tuhan..
selalu tersenyum dan semangat..
jika kelak kau go internasional
dan sudah menjadi artis tekenal di dunia..
hanya satu pesanku..
jangan sombong, jangan melupakan kami smashblast,
dan terutama jangan lupa berdoa untuk mengucap syukur kepada Tuhan atas kebesarannya..

love in sunset @AlethaSB_17 

 “Aaa.. Gue seneng banget besok bakal ketemu sama Rangga,” ucap Hanny seorang murid SMA yang cantik, tinggi dan putih. Ia bersekolah di SMA Antara Internasional.
“Dari tadi lo ngomong gitu terus gak bosen apa?” ucap Ellina. Ellina adalah sahabat Hanny sejak SMA.
“Iya nih. Lama-lama gue sumpel juga mulut lo,” ucap Dicky, sahabat Hanny yang paling kocak dan jail. Dicky dan Hanny sudah berteman sejak mereka TK.
“Kalian tu harusnya ikut seneng n bahagia dong liat temen lagi seneng,” ucap Hanny cemberut.
“iya-iya. Emang kalo udah tentang Rangga gak bakal inget sahabat,” ucap Ilham. Dia adalah sahabat Hanny sejak SMP. Ilham termasuk cowok populer di sekolah dan lumayan plaboy.
“Gue inget selalu kok sama kalian. Entar gue kasi deh tanda tangannya Rangga buat kalian,” ucap Hanny.
“Heleh. Cuma tanda tangan doang. Mending lo kasi gue PSP kek, MP3 Player kek. Lah ini tanda tangan,” ucap Dicky.
“Lo kira gue emak lo apa?” ucap Hanny.
“Iya. Lo emang emak-emak yang suka ngomel,” ucap DIcky sambil menjulurkan lidahnya.
“Awas lo, Ky,” ucap Hanny. Tapi bel telah berbunyi mereka pun melanjutkan pelajaran pertama di hari Jumat yaitu Biologi.
 
            Saat ini Hanny sudah sampai di Tunjungan Plaza dan sedang mencari kursi nomer 5. Hanny menghadiri Meet and Great Rangga Moela. Hanny sangat-sangat menyukai penyanyi solo ini karena suaranya yang merdu dan memiliki wajah yang tampan.
            Rangga sudah datang dan menduduki kursi yang sudah disediakan diikuti dengan sorak-sorai penggemarnya yang memadati tempat tersebut. Rangga sudah mulai berbincang-bincang dan menyanyikan lagu andalanya yaitu “Demi Kalian”.
“Penonton semua harap tenang. Hari ini saya akan mengumumkan sesuatu yang tak kalian duga sebelumnya,” ucap pembawa acara.
“Sekarang saya akan mengundi nomor dan satu orang berutung akan jalan-jalan ke Bali selama 3 hari besama Rangga Moela,” ucap pembawa acara yang diikuti teriakan histeris para penggemar Rangga.
“Saya sudah memegang satu nomor. Bagi orang yang duduk di nomer ini akan menjadi pemenang. Silahkan Rangga untuk mebacakan,” ucap pemabawa acara lalu meberikan satu nomor undian pada Rangga.
“Dan yang akan ikut berlibur dengan saya di Bali adalah nomor ……… 5!!” ucap Rangga.
“Haa? Itu nomer gue kan? Sumpah gue gak mimpi kan?” batin Hanny yang masih diam terpaku.
“Bagi orang yang berada di kursi nomer 5 silahkan naik ke atas panggung,” ucap pembawa acara.
            Dengan hati yang berdebar-debar, Hanny melangkahkan kainya ke atas panggung.
“Selamat buat kamu. Boleh memperkenalkan diri?” ucap pembawa acara pada Hanny.
“Iya, makasi. Nama saya Hanny Kirana,” ucap Hanny dengan suara gemetar.
“Yeay. Selamat untuk Hanny Kirana.” Ucap pembawa acara yang disambut teriakan kecewa para penggemar Rangga.
 
“Kok lo baru kasi tau sih bakal liburan 5 hari sama Rangga?” ucap Ellina. Saat ini Ellina, Dicky dan Ilham sedang mengantar Hanny menuju bandara menggunakan mobil Ilham.
“Gue aja baru tau kemaren, Lin,” ucap Hanny yang terlihat sangat senang.
“Tapi kok bisa sih segampang itu lo dapet liburan gratis? Malah ke Bali lagi. Gue pengen banget.” Ucap Ilham.
“Bisa dong. Gue kan udah ditakdirkan untuk selalu bersama Rangga. Hahaha,” ucap Hanny yang diikuti tawanya.
“Hanny, gue ikut ya. Jahat banget lo gak ngajak-ngajak,” ucap Dicky manyun.
“Yee… ini thu acara khusus buat gue sama Rangga,” ucap Hanny.
“Tapi pulang bawa oleh-oleh ya,” ucap Ellina.
“Pasti dong.” Ucap Hanny.
“Udah nyampe nih. Yuk turun,” ucap Ilham.
“Hati-hati ya Han,” ucap teman-temannya sambil melambaikan tangan.
“Iya, makasi udah nganter,” ucap Hanny.
“Hanny, Rangganya masih ada urusan sebentar. Kamu tunggu disini dulu ya,” ucap seseorang. Dia memperkenalkan diri. Namanya Nisa yang mengatur acara ini.
“Aku ke kamar mandi dulu ya kak,” ucap Hanny pada Nisa.
“Iya, jangan lama-lama ya Han,” ucap Nisa.
            Saat keluar dari kamar mandi, tak sengaja Hanny menabrak seseorang. Betapa terkejutnya Hanny saat melihat dia adalah Rangga.
“Rangga?” ucap Hanny.
“Lo punya mata gak sih? Kalo jalan tu hati-hati ya,” ucap Rangga dengan kasar lalu meninggalkan Hanny sendiri.
“Rangga, kok lo jahat banget sih! Ahh, gue jadi gak mood buat ikut nih acara,” ucap Hanny pelan lalu pergi ke tempat tadi dia menunggu dengan kemarahan. Dan sekarang ia merasa benci terhadap Rangga.
“Rangga, ini yang akan menemani liburanmu di Bali. Namanya Hanny,” ucap Nisa. Rangga hanya mebalasnya dengan anggukan.
            Saat sudah samapi di dalam pesawat, Hanny memilih tempat duduk yang kosong.
“Rangga, kamu duduk disebelah Hanny ya,” ucap Nisa lalu mengarahkan Rangga untuk duduk di samping Hanny.
“Ok,” ucap Rangga.
“Ngapain lo duduk disini?” ucap Hanny.
“Kok galak banget sih? Bukannya lo fans gue?” ucap Rangga bingung.
“Ya, tadi gue emang fans lo. Tapi sejak kejadian di depan toilet tadi lo kira gue masih mau punya idola kayak lo?” ucap Hanny.
“Yaampun, gue minta maaf banget. Gue gak maksud buat bentak-bentak lo,” ucap Rangga.
“Udah terlambat,” ucap Hanny sambil mendengarkan lagu dengan dari hp dengan headsetnya.
“Yaudah, terserah. Yang penting gue udah minta maaf sama lo.” Ucap Rangga lalu tidur.
 
“Sekarang Hanny, Rangga dan Mas Vino boleh istirahat pada kamar yang sudah disiapkan,” ucap Nisa. Kamar Hanny terletak di depan kamar Rangga dan Vino, manager Rangga. Sedangkan kama Nisa terletak di samping kamar Hanny.
“Arrgg… Gue pikir bakal seneng banget liburan kali ini. Gak taunya dia sombong,” ucap Hanny yang mebaringkan tubuhnya di atas kasur Hotel.
            Karena hari sudah malam Hanny pun tidur tanpa mebereskan barang-barangnya. Besok Hanny dan Rangga akan pergi ke Garuda Wisnu Kencana (GWK), Sukawati dan Pantai Sanur.
“Kalian gak mau foto-foto nih?” tanya Nisa saat mereka sudah sampai di GWK.
“Hmm, yaudah fotoin ya,” ucap Rangga sambil memberikan BlackBerrynya pada Nisa. Dengan terpaksa Hanny harus berfoto dengan Rangga di depan patung GWK. Tiba-tiba Rangga merangkulnya dan sontak Hanny mencoba untuk melepaskan.
“Udah nih,” ucap Nisa mengembalikan BB Rangga.
“Ngapain lo ngerangkul gue?” ucap Hanny setelah memastikan kalau Nisa dan Vino sudah jauh dari mereka.
“Emang kenapa? Gue aja biasa kayak gitu sama fans gue,” ucap Rangga.
“Tapi gue bukan fans lo!!” ucap Hanny lalu pergi meninggalkan Rangga.
            Sekarang mereka sudah sampai di Sukawati. Disana mereka sibuk mebeli oleh-oleh. Setelah selesai mebeli oleh-oleh yang mereka inginkan Mereka melanjutkan perjalanan ke Pantai Sanur.
“Wahh, gak sabar pengen liat sunset,” ucap Hanny.
“Kamu suka sunset ya?” tanya Rangga yang datang menghampiri Hanny.
“Ya,” jawab Hanny singkat. Setelah beberapa menit menunggu, tampak matahari sudah mulai tenggelam. Sunset indah itu muncul,
“Wahh.. Indah banget sunsetnya,” ucap Hanny langsung mengambil gambar melalui kameranya.
            
Keesokan harinya mereka akan pergi ke Tanjung Benoa, Pulau Penyu dan Sangeh.
“Sekarang kalian bisa main jetski,” ucap Nisa sambil menunjukan kearah satu jetski yang sudah disediakan untuk Rangga dan Hanny.
            Rangga yang melihat muka ketakutan Hanny langsung berkata, “lo taku ya?” ucap Rangga saat menaiki jetski.
“Siapa bilang gue takut? Gue Cuma males aja naik jetski berdua sama lo!” ucap Hanny yang sebenarnya takut tapi di depan Rangga dia tidak mau kalah.
“Yaudah, naik cepet.” Ucap Rangga.
            Rangga mulai menaiki jetski ke tengah laut. Hanny yang takut tanpa sadar memeluk Rangga dari belakang. Rangga hanya tersenyum dan menambah kecepatan.
“Woy, lo bisa main jetski gak sih? Gue hampir jatuh tau!” ucap Hanny.
“Bilang aja lo takut. Sampe-sampe lo meluk gue tadi,” ucap Rangga. Hanny yang dikatai seperti itu langsung pergi.
“Nah, sekarang kita akan menyeberang ke Pulau Penyu,” ucap Nisa. Mereka langsugn naik ke atas perahu untuk menyebrang ke Pulau Penyu. Hanny tampak pucat karena dia mabuk laut.
“hanny kamu gak pa-pa kan?” tanya Rangga yang melihat wajah pucat Hanny.
“Gak pa-pa,” ucap Hanny. “Ueekkk..” tiba-tiba saja Hanny memuntahkan baju Rangga.
“Ehh, baju gue,” teriak Rangga.
“Aduh, Rangga sori banget gue gak sengaja,” ucap Hanny yang masih memegang perutnya yang mual.
“Ya, gak pa-pa. Gue tau lo gak sengaja,” ucap Rangga.
“Ini lap pakai tisu,” ucap Nisa.
“Mana kak. Biar aku yang lap,” ucap Hanny lalu mengelap baju Rangga.
“Makasi,” ucap Rangga.
“Ngga, gue yang minta maaf,” ucap Hanny yang tersenyum pada Rangga.
“Lo mabuk laut ya?” tanya Rangga sambil mengganti bajunya. Hanny yang melihat hanya terpaku tetapi Hanny segera sadar dari pikirannya. “Nih, minyak angin,” ucap Rangga memberikan minyak angin pada Hanny.
“Makasi,” ucap Hanny sambil mengoleskan minyak angin.
            Setelah dari pulau penyu mereka melanjutkan perjalanan ke Sangeh. Sangeh adalah hutan yang banyak monyetnya.
“Udah nyampe sangeh. Bakal ketemu sodara nih,” ucap Rangga sambil melirik Hanny. Sudah sejak di dalam perahu hubungan mereka jadi makin akrab.
“Iya, sodara lo kan,” ucap Hanny.
“Tapi lebih mirip sama lo,” ucap Rangga. “Yuk turun,” ucapnya lagi sambil menarik tangan Hanny.
            Rangga dan Hanny sangat menikmati liburannya. Tidak sperti hari pertama yang penuh kemarahan. Mereka mulai akrab. Hari sudah mulai malam. Mereka pun memutuskan untuk kembali ke hotel.
“Ternyata Rangga gak seperti yang gue pikirin. Dia baik banget,” ucap Hanny sambil tersenyum di dalam kamar hotel. “Tapi besok udah pulang, pasti gue bakal kangen banget sama Rangga,” ucapnya lalu pergi tidur.
           
“Nah, sekarang perjalanan kita yang terakhir. Kita beli oleh-oleh dulu lalu ke Pantai Kuta dan langsung pergi ke Bandara,” ucap Nisa.
“Oh iya, itu oleh-oleh buat siapa aja? Kok banyak banget,” ucap Rangga.
“Buat keluarga sama sahabat-sahabatku,” ucap Hanny.
“ohh,” ucap Rangga sambil tersenyum.
            Mereka sedang sibuk membeli oleh-oleh. Sesekali Rangga dan Hanny berfoto dan bercanda. Sore hari mereka langsung melanjutkan perjalanan ke Pantai Kuta.
“Rangga, Hanny, kayaknya gue gak bisa temenin kalian ke Pantai Kuta. Vino gak enak bada. Kalian berdua aja jalan-jalan gak pa-pa kan?” ucap Nisa.
“Gak pa-pa,” ucap Rangga.
“Yaudah, kita pergi dulu ya kak,” ucap Hanny lalu turun dari mobil diikuti Rangga.
            Rangga dan Hanny bermain-main di Pantai Kuta sambil menunggu sunset.
“Hanny, sini deh,” ucap Rangga. Hanny pun emnghampiri Rangga. “Aku mau tunjukin kamu sesuatu tapi matanya aku tutup ya,” ucap Rangga lalu menutup mata Hanny menggunakan kedua tangannya lalu menuntunnya berjalan ke suatu tempat.
“Janggan usil deh Rangga,” ucap Hanny.
“Nggak kok. Tenang aja. Nah udah nyampe,” ucap Rangga lalu mebuka mata Hanny.
“Wahh, indah banget!!” ucap Hanny dengan wajah terpesona. Rangga membawa Hanny ke atas batu karang besar. Dari sana, Hanny dapat melihat sunset dengan jelas dan indah.
“Sunsetnya keren banget ka? Nah, sekarang kamu liat ke bawah,” ucap Rangga.
Hanny sangat terkejut melihat apa yang ditulis oleh Rangga di atas pasir pantai. Jantungnya berdebar-debar. Disana tertulis “Hanny, Will you be my girl?”
“Kamu gak bercanda?” ucap Hanny.
“Ngga, Hanny. Aku cinta kamu,” ucap Rangga sambil menggenggam tangan Hanny lalu bersujud dihadapannya.
“Hanny, will you be my girl?” ucap Rangga serius.
Sambil tersenyum Hanny langsung menganggukan kepalanya. Lalu Rangga berdiri dan memeluk Hanny.
            Suasana Rangga dan Hanny sangatlah indah. Berpelukan diatas batu karang, diterangi sunset yang sangat indah dan merasakan sejuknya angin sepoi-sepoi.

Goresan Pena Tentangmu by @maria_firda

Goresan Pena Tentangmu by @maria_firda
Diary adalah sahabat terdekatku. Walau cuma sebuah buku,dia selalu menemaniku. Aku bisa curhat apa saja ke dia.Walaupun peristiwa yang kualami itu biasa-biasa aja,tapi tidak lengkap rasanya kalau sehari tidak menulis.Rasanya penaku ini tidak sabar untuk menggoreskan tintanya di kertas diary itu. Apalagi saat aku mengenal seseorang yang sangat berarti.Oxcel,teman sekelasku. Entah kenapa ada perasaan yang aneh setiap bertemu dengannya. Jantungku berdebar-debar hingga keningku mengucur diseluruh tubuhku.
***
Aku selalu membawa buku diary ku kemana-mana.Memang sampul nya seperti buku catatan biasa berwarna biru yang merupakan warna kesukaan ku,semua itu kulakukan agar tidak ada yang tahu.Saat ku jenuh pena & diary itulah yang menghiburku.Hari ini memang hari libur,tapi kenapa juga harus ada acara ke sekolah.Membosankan.Saat ku hendak mengambil pena ku,tiba-tiba saja sang pujaan hati datang. 
"Maaf aku terlambat" katanya sedikit ngos-ngosan. 
"Dasar!" sahutku sedikit cuek kepadanya. Dia memang bukan tipe cewek yang manja & feminin. Walau dia berkerudung tapi dia jail minta ampun. Yah,itulah yang membuat duniaku lebih berwarna. 

"Aku kan dah minta maaf. Tadi dijalan dikejar anjing,terus sembunyi di rumah orang. Makanya datang telat. Yaudah ayo kita kerjakan aja dulu" katanya panjang lebar. 

"Yang lain ga ditunggu,kan kita berempat?" Tanyaku sedikit gugup. 

"Mereka berdua ga bisa datang. Katanya sih lagi les" Jawabnya. 

Aduh mati gaya aku. Cuma berdua sama dia. Jantungku berdebar keras. Keringatku terus mengalir. Kenapa harus sekarang sih?

"Kenapa?" tanyanya melihatku salah tingkah. Aku hanya menggeleng dan mencoba mengalihkan pembicaraan. 

"Ga,aku mau nanya sesuatu" tanyanya mencoba mencairkan suasana.

"Nanya apa?" jawabku sedikit gugup.

"Memangnya bagaimana rasanya kalau menyukai orang lain?". Aku tercengang mendengarnya .

"Ya begitulah. Nanti kau tau juga kok." Jawabku sedikit salting. Dalam hati ku bertanya ada apa gerangan dia bertanya hal semacam itu.


" 30 September 2012 
Hari ini hari salting sedunia. Kenapa aku harus salting di momen yang langka ini?. Dan kenapa juga aku bisa suka sama dia? bahkan kurasa aku tergila-gila padanya. Kapan aku bisa mengungkapkan perasaan ini? Apakah perasaannya sma juga? Diary,tolong aku.Harus bagaimana aku menghadapinya? Gila!!! kau membuat aku tergila-gila padamu!”
Setiap hari aku selalu memperhatikannya. Setiap pagi ia selalu ceria. Melihatnya tersenyumpun sudah cukup bagiku. Aku tak sanggup rasanya jika melihat ia menangis. Seakan-akan diriku ini merasakan apa yang ia rasakan. Hampir setiap hari aku menulis kalimat ini di buku diary ku. Aku masih berharap dia punya rasa yang sama dengan ku. Tapi kini aku bersyukur,karena bisa lebih dekat dengannya. Walau cuma lewat sms. Tiba-tiba HPku bergetar. Ada sms masuk darinya.
Kalau suka sama orang itu wajar. Tapi kalo nggak, gak wajar dong?
Dalam hatiku aku bertanya. Apkah dia aneh? Aku segera membalasnya…
ya tergantung aja sih sebenarnya
Lalu,ada balasan lagi.
kamu ada kan orang yang kamu suka?
Walau menggunakan bahasa yang sedikit rumit untuk dimengerti tapi pertanyaan itu membuatku salting lagi. Aku membalasnya.
ya

Hp ku bergetar lagi..



siapa?



Aku sedikit ragu untuk menjawab,tapi inilah momennya. AKu segera membalas sms nya…


Tolong jangan kaget. Orangnya adalah…. K.A.M.U



Tak ada jawaban dari dia. Hatiku gelisah. Tiba-tiba ada pesan masuk.. Ternyata dia membalas sms ku.


 Kok bisa? aku kira kamu benci padaku


Lalu ku balas..
 Ya begitulah Cel,kalau boleh tau siapa orang yang kamu suka?
Tanyaku lagi padanya dengan sedikit berharap. Tapi tak ada balasan sama sekali darinya.
Keesokan harinya saat disekolah aku merasa ada yang berbeda darinya. Setiap bertemu aku rasanya dia salting. Aku pun tak berani menegur. Hingga dia bicara.
"Rangga,itu jawabannya" katanya singkat sambil pergi meninggalkanku.
Aku masih bingung apa maksudnya. Saat aku menulis semua dibuku diary ku,aku teringat dengan pertanyaanku tadi malam. Rasanya aku tak tau lagi apa yang kurasakan. Bagai mati rasa. Tapi aku kenal dia. Dia tipe orang yang tidak ingin pacaran. Bagaimana bisa mempertahankan semua ini. Diary,tolong aku…
Semenjak itu aku lebih dekat dengannya. Walau cuma berteman,tapi aku lega. Aku bertekad untuk berusaha setia padanya. Tantangannya,semakin susah bicara secara langsung dengannya. Why you always make me crazy? Penaku terus menerus tak sabar menulis cerita tentangnya. Mungkin inilah rasanya jika dicintai orang yang kita cintai.
Walau waktu terus berlalu. Tapi keadaan tetaplah seperti ini. Ada ragu dalam hati ketika ia bertanya.
"Bagaimana kalau SMA nanti kita tidak satu sekolah?" tanyanya.
"Percaya saja pada perasaanmu" jawabku singkat.
Tak kusangka dia berfikir sejauh itu.
***
Hari ini adalah salah satu hari yang sangat berharga. Hari kelulusan. Ada rasa sedih sih,takut berpisah dengan dia. Aku bertekad akan enulis peristiwa ini di dalam diary ku. Tapi,tak terlihat sama sekali gerak-gerik Oxcel. Kemana dia? Kenapa aku begitu khawatir?
"Maaf,jika mengganggu waktu kalian sebentar. Bapak hanya ingin menyampaikan sebuah berita" kata Bp.Kepala sekolah.
Rasa khawatirku makin menjadi.
"Teman kita Oxcel tidak bisa hadir disini. Sebab tadi malam ia mengalami sebuah kecelakaan yang membuat dia harus meninggalkan kita semua. Bapak minta semua berdoa agar ia tenang di alam sana"
Tes! air mataku mengalir tiada henti. Tiba-tiba ada yang memegang pundakku.
"Rangga" panggil Dicky
Aku langsung menyeka air mata dan menoleh ke belakang.
"Ada apa Dick?" jawabku.
"AKu tau kamu sedih. Dan aku cuma mau memberi ini" jawabnya sambil menyerahkan selembar kertas.
"Aku menerimanya tadi malam" timpalnya lagi.
"Rangga,maaf kalau aku harus pergi. Aku yakin masih ada yg lebih baik dariku. I always Love You.Terima kasih" Walau tulisan yang tidak begitu jelas tapi aku megerti,dia berusaha setia sampai ia mati.
" 20 Juni 2012
Mungkin ini lah catatan terakhir untukku. Kau begitu berharga. Walau kau bilang begitu aku akan mencoba tuk tetap setia. Walau pun hubungan tanpa status. Semoga kau Tenang disana. Diary,pena mungkin inilah akhir kisah tentangnya.”
:) senangTHE END:) senang

And I Hope.. @syafadistia

-      Author         : Syafa Adistia @syafadistia
-      Judul           : And I hope..
-      Kategori      : Sad, Romance, Oneshoot
-      Genree        : Yang udah ngerti cinta-cintaan aja -__-“
-      Cast            : Rangga Moela SM*SH, Sanny, Tika.
 
———-
 
Bibir ini terus tersenyum saat memikirkan mu.
Mata ini terlihat berbinar-binar saat kau berada dekat dengan ku.
Jantung ini terus berdetak kencang membuat sebagian peluh mengalir perlahan dari kening ku.
Selalu saja seperti ini.
Telah lama aku memendam rasa dihati ini.
Semakin hari, rasa itu terus tumbuh dan semakin tumbuh.
Semua di otak ku hanya terdapat satu nama.
Yaitu hanya nama dirimu seorang.
 
Tapi apa kenyataannya ?
Cinta tidak berpihak kepada ku.
Sakit. Itu lah yang kini aku rasakan.
Melihat mu telah memiliki pasangan Kekasih.
Menangis. Itu lah yang ingin aku lakukan saat imi.
Hati ini hancur, sangat hancur.
 
Telah lama aku menunggu mu untuk datang kepada ku lalu memeluk diri mu dengan pelukan ku yang hangat.
Namun semua itu hanya angan belaka.
Itu semua hanya sebuah harapan yang tidak mungkin bisa aku capai.
Hati ini lelah. Sangat lelah.
Menunggu dan terus menunggu sampai akhirnya aku harus merelakan mu bersama Gadis yang kau cintai.
 
Tuhan.. andai saja Gadis itu adalah diri ku…
Aku berjanji akan menjaganya dengan baik.
Tapi takdir Mu berbeda.
Engkau tidak men-takdirkan dirinya dengan diri ku. Mengapa ?
Apa engkau mempunyai pasangan yang jauh lebih baik darinya ? Semoga :’)
Aku hanya dapat tersenyum dari kejauhan.
Tersenyum menahan rasa sakit yang teramat dalam.
 
Cinta ini.. begitu tulus..
Tapi kenyataannya.. begitu pahit..
Ingin sekali rasanya aku berlari dengan berderai airmata lalu memeluk mu dengan erat.
Melepaskan semua rasa yang selama ini aku pendam dalam-dalam dihati ini,
Terlalu sesak dan menyakitkan.
Aku sungguh tidak kuat dan kini sungguh lemah.
 
Andai saja kau tahu kalau aku sangat.. mencintai mu.. TULUS.
Cinta ini.. mungkin aku harus mengubur rasa itu dalam-dalam.
Melupakan semuanya.
Semua yang berhubungan dengan diri mu.
Dari nama, wajah, suara dan terutama seukir senyuman manis yang selalu muncul di bibir mu :’)
 
 
 
———-
 
( Petang. Rumah Sanny, pukul 17.40 waktu setempat. )
 
> Sanny P.O.V
 
Degg. Jantung gue terasa berhenti berdetak. Aliran darah disekitar tubuh gue pun seakan berhenti berdesir. Mungkin kah yang gue lihat ini benar ? God !! Hati gue sungguh sakit sangat sakit, dada gue pun terasa sesak dan susah untuk bernafas. Bibir gue mulai bergetar. Dan seketika itu juga kedua pelupuk mata gue muncul bulir-bulir airmata lalu menetes lah airmata itu.
 
“ ya Tuhan..” gue hanya bisa membekap mulut agar suara isak tangis tidak keluar. Sungguh sakit melihat Cowok yang gue cinta mengecup mesra kening Wanita lain di depan mata gue sendiri. Ralat. Bukan Wanita lain tapi Tunangannya.
Gue berbalik dan berlari pergi meninggalkan mereka yang saat ini sedang berada di Ruang Tengah.
 
“ Bukk “
Karna kurang memperhatikan jalan, tanpa sengaja kaki gue nendang sebuah Pot tanaman kecil yang berada ngga jauh dari Ruang tengah.
 
“ aww.. “ gue Cuma bisa merintih kecil lalu kembali berlari sebelum Rangga ngeliat gue.
 
*****
 
> Rangga P.O.V
 
“ Bukk “
Waktu gue lagi mengecup kening Tika, tiba-tiba ada suara. Suara kayak benda jatuh. Tapi apa ? terus, siapa yang menjatuhkannya ?
 
“ bunyi apaan, Ga ? .” ternyata Tika juga mendengar suara benda jatuh itu
 
“ ngga tau. Kamu tunggu disini ya. Aku mau cek kesana dulu .” gue langsung berdiri dari Sofa coklat ini dan berlari ke arah sumber suara itu. Bukan ke sumber suara itu, lebih tepatnya lagi ke sebuah kamar. Kamar Sanny, Sepupu gue. Pasti Sanny ngeliat ini semua. Udah bisa ditebak. Memang saat ini gue lagi nginep di rumah Sanny. Bagi gue, rumah Sanny lah yang menjadi rumah kedua gue di saat bosen di rumah. Bête aja sih ! di rumah ada Adek gue yang ngeselin.
 
*****
 
> Sanny P.O.V
 
Gue langsung masuk ke dalem kamar dan tertidur telungkup diatas kasur pink gue ini. Airmata gue terus menetes. Menetes deras tanpa henti. Memang hanya ini yang bisa gue laku-in saat gue lagi nangis karna Sepupu gue itu. Sepupu sekaligus Cowok yang tengah mengisi relung hati gue saat ini. Sebut saja Sepupu gue itu dengan nama Rangga atau lebih lengkapnya lagi Rangga Moela. Seorang Pemuda manis berpipi chubby, satu lagi.. dia lihai dalam bermain gitar. Mungkin karna ini gue jatuh cinta sama dia. Padahal kita Sepupu-an walau Sepupu jauh. Dan Rangga juga udah punya seorang Tunangan, Kak Tika. Mereka udah bertunangan 2 bulan yang lalu. Dan kalian tahu ? itu sangat menyakitkan buat gue.
 
“ kenapa gue harus jatuh cinta sama lo sih, kak ? kenapa…” itu lah yang selalu jadi pertanyaan di otak gue. Masalahnya pun ada disini. Andai aja gue engga punya rasa sama Rangga, pasti ngga akan gini jadinya.
 
“ San..”
 
> Author P.O.V
 
“ San..” sosok Pemuda manis sudah berdiri di ambang pintu Kamar Sanny. Kedua bola matanya menatap lirih Sepupunya ini yang tengah telungkup membelakangi-nya. ia tahu, pasti Gadis ini menangis.
 
“ ngapain kesini ? .” Tanya Sanny yang sama sekali tidak menoleh ke belakang. Suaranya terdengar sangat berat.
 
“ lo ngeliat-nya ? .” Tanya Rangga pelan. Ia tidak mau membuat Sepupunya menangis lebih dalam karna-nya. Rangga juga tau kalau Sanny mencintainya. Sudah sejak lama Ia tahu.
 
Perlahan, kakinya mulai melangkah mendekati Sepupunya ini. Ia sungguh merasa sangat bersalah selalu membuat Sanny menangis.
 
Sanny mengalihkan pandangannya ke tembok saat Pemuda yang dicintainya duduk tepat disamping kirinya. Airmata yang masih menempel lengket di kedua pipi nya, dengan segara di hapusnya, namun tiba-tiba ada yang menahan.
 
“ biar gue yang ngapus .” ucap Pemuda ini lembut dengan senyum tipisnya. Lalu, dengan lembutnya Rangga menghapus airmata Sanny dengan kedua ibu jarinya.
 
Sanny menatap lirih wajah Sepupunya yang kini tengah menghapus airmatanya. Hatinya sungguh sakit melihat wajah Sepupunya ini. Karna apa ? Karna dirinya tidak bisa memiliki Rangga seutuhnya. Tapi bukan-kah cinta tak harus memiliki ?
Gadis ini juga tidak menyadari kalau airmata-nya lagi-lagi menetes. Mungkin luka di hati kecilnya begitu dalam. Sangat dalam melebihi palung laut.
 
“ Kak..” panggilnya lirih lalu segera memeluk Sepupu-nya dengan erat. Sangat erat. Ia juga membenamkan wajahnya di bahu kiri Rangga dan menangis disana. Nafasnya terlihat memburu karna isak tangis yang lagi-lagi keluar dari mulutnya.
 
“ maaf, sering buat lo nangis..” ucap Rangga membalas pelukan Sepupu-nya dan membelai lembut rambut lurus Sanny yang berwarna merah kecoklatan itu
 
“ hiks.. hiks.. hiks..” Sanny hanya dapat mengeluarkan suara isakan tangisnya. Mulutnya begitu bergetar dan susah untuk berucap. Padahal hatinya ingin sekali berbicara banyak pada Sepupu-nya ini.
 
“ gue ngga bermaksud buat lo nangis. Sekali lagi, gue minta maaf ya, San..” ucap Rangga dengan nada berbisik
 
“ ini.. hiks.. bukan salah lo, Kak. Ini salah gue. Engga seharusnya gue punya rasa sama lo yang jelas-jelas udah punya Tunangan sekaligus Sepupu gue sendiri .” balas Sanny yang kini berusaha menormalkan suara beratnya
Rangga terdiam. Ia dapat merasakan sesuatu menetes di bahu sebelah kirinya. Airmata Sanny menembus kaos yang dikenakan Rangga saat ini. Begitu sakit-kah hati Gadis ini ?
 
“ gue mohon sama lo, San.. Pliss.. jangan nangis .” bisik Rangga pelan lalu mendekap tubuh Gadis ini lebih erat karna pelukan mereka sempat melonggar
 
Kini tubuh mereka saling menempel. Menempel lekat. Sanny juga masih melanjutkan acara menangisnya. Sungguh pelukan yang diberikan Rangga membuat tubuh Sanny menjadi hangat dan begitu nyaman. Rasanya, tak ingin berakhir dan berharap akan terus seperti ini.
 
Suara langkah sepasang High heels yang sedang menaiki anak tangga dapat terdengar jelas oleh telinga mereka. Pasti itu langkah kaki Tika yang sedang berjalan menghampiri Kamar ini. Karna Tika selalu memakai high heels atau sepatu skets
 
> Sanny P.O.V
 
Gue denger suara langkah sepasang High heels di tangga sana. Pasti itu langkah kaki Kak Tika yang lagi jalan ke Kamar gue. Bisa ditebak. Karna Kak Tika selalu memakai high heels atau sepatu skets kalo main ke rumah gue atau pun pergi jalan sama Rangga.
 
“ loh.. kok kalian bisa ada disini ? .” Tanya Kak Tika saat melihat Rangga lagi duduk berdua sama gue. Untungnya aja sebelum Kak Tika sampe disini, gue langsung ngelepasin pelukan ini. God !! kenapa Kak Tika harus dateng ? Kalo Kak Tika engga dateng, pastinya gue bisa berlama-lamaan pelukan sama Rangga (-_-“)
 
Sebelum Kak Tika ngeliat muka gue, gue langsung ngapus airmata gue yang masih lengket di pipi gue yang mulus ini. Gue juga berusaha bersikap biasa aja di depan dia. Biar Kak Tika engga curiga sama gue.
 
“ kamu kenapa, San ? abis nangis ya ? kok matanya sembab gitu ? .”
 
“ ahh.. engga. Aku nggappa kok tadi Cuma..”
 
“ Sanny lagi PMS terus tadi dia ngeluh perutnya sakit sampe nangis kayak gini .” sebelum gue selesai ngomong, si Rangga udah motong duluan. Tadi dia bilang apa ? gue lagi PMS ? Hello.. PMS gue udah selesai dari seminggu yang lalu. Tuhan.. sakit rasanya Cowok yang kita sayang engga ngakuin apa yang baru aja kita lakuin T.T
 
“ oh gitu. Kalo sakit, minum obat aja atau engga tidur-an biar lega-an dikit .”
 
Gue Cuma tersenyum miris sama Kak Tika. Berusaha nyembunyi-in rasa sakit gue di depan dia.
 
 “ Pahh.. anterin Mamah pulang yuk ! udah malem nih. Yaa..”. kedua lengan Kak Tika merangkul manja lengan kanan Rangga. Oh.. sungguh menyebalkan. Manja banget sih jadi Cewek. Udah tua juga.
 
Kedua bola mata gue ngelirik dan menatap mereka yang lagi bermesraan di depan mata gue (lagi) . Oh God !! Kenapa pemandangan ini harus hadir di depan gue ?. Pemandangan yang bikin hati gue sakit. Dan rasanya, gue pengen nangis detik ini juga. Kak Tika juga memanggil Rangga dengan sebutan Papahh ? hh.. lebay banget. Belom Nikah udah pake panggilan itu. Gue sumpah-in engga jodoh lo berdua. Haha xD
 
“ hmm.. Aku anterin pulang. Tapi, kamu jangan manja gini yaa..” tangan Rangga berusaha melepaskan rangkulan manja dari Kak Tika. Mungkin dia ngerasa ngga enak sama gue. Huh..
 
Rangga berdiri dari ranjang gue begitu juga dengan Kak Tika. Bibirnya melempar senyuman tipis ke gue, tapi gue Cuma ngebales dengan tatapan acuh.
 
“ San.. Kakak pamit pulang dulu yaa..” lagi-lagi kak Tika ngerangkul manja lengan kanan Rangga dan menarik Rangga keluar dari Kamar gue. Nyebelin banget tuh cewek !!
 
Gue mengambil nafas panjang saat mereka udah pergi dari sini. Dada gue sungguh terasa sesak dan susah untuk bernafas. Kedua bola mata gue kini juga telah kembali membendung airmata (lagi). Entah sejak kapan airmata ini muncul kembali. Ini tanpa sadar dan diluar kemauan gue.
 
“ harus sampe kapan gue nangis karna Rangga ? .” Lalu untuk yang sekian kali-nya airmata ini menetes lagi dan mengalir di kedua pipi mulus gue. Tapi dengan segera, airmata ini gue hapus dengan bantuan Bed Cover pink yang saat ini gue pegang.
( Tonight. Still at home Sanny, pukul 20.20 waktu setempat. )
 
> Sanny P.O.V
 
Kaki gue berhenti melangkah saat kedua telinga gue ini mendengar sebuah petikan senar yang berasal dari sebuah gitar kayu. Gue terdiam sebentar, mencoba mendengarkan petikan senar gitar ini biar gue tau asal dari bunyi petikan senar gitar ini darimana. Dengan langkah mengendap-ngendap, kaki gue melangkah mendekati halaman rumah belakang. Sepertinya petikan senar gitar ini memang berasal dari sini.
 
Gue bersembunyi di balik pintu belakang rumah di deket dapur. Bibir gue tersenyum manis saat kedua bola mata gue ngeliat Rangga yang lagi asik duduk ditangga kecil yang terbuat dari keramik sambil memainkan sebuah gitar kayu miliknya.
 
“ engga usah ngintip gitu. Kalo mau liat gue main gitar, duduk aja disini .” ucapnya yang sama sekali engga menoleh ke arah gue
 
Mata gue terpelongo. Kenapa Rangga bisa tau kalo gue lagi ngintip dia disini ? Padahal gue udah berusaha mengendap-ngendap biar engga ketauan sama dia.
 
“ kalo engga mau, nggappa sih ! .”
 
Tadi dia bilang apa ? gue engga mau duduk disamping dia ? Ya, jelas gue mau lah.. banget malah. Tanpa pikir panjang lagi, gue langsung ngambil langkah seribu dan duduk disampingnya. Mata gue ngelirik sebentar ke wajah Rangga. Tuhan.. ciptaan-Mu yang satu ini sungguh manis.
 
“ ngapain ngintip-in gue ? bintit-an baru tau rasa loh..” ledeknya yang membuat sederetan giginya terlihat sedikit. Hampir meleleh gue liatnya. Bener-bener manis. Bisa pingsan ini gue liatnya. Papaahh… tolong Sannyy !!
 
“ biasa aja ngeliatin gue-nya. Bisa pingsan loh nanti..” mata gue membulat sedikit. Kenapa Rangga bisa tau kalo gue pengen pingsan liatnya ? Aish.. bener-bener kayak peramal dia.
 
“ gue engga ngintipin lo tau. Geer banget jadi orang .” gue mencoba mengalihkan pembicaraan dengan kembali ke topic awal.
 
“ bisa banget ngelesnya. Gue dengar sandal lo yang berisik itu .” Kedua bola matanya melirik sebentar ke arah sandal jepit hitam yang gue pake malem ini.
 
Gue menunduk, melirik ke arah sandal jepit ini sebentar. Oh God !! ini kan sandal jepit yang ada di Kamar mandi. Ooo.. sepertinya gue lupa melepas sandal jepit ini dan menggantinya dengan sandal yang biasa gue pake.
Petikan senar gitar tiba-tiba mulai terdengar. Kepala gue kembali mendongak dan melihat jemari kiri Rangga yang sedang memetik senar gitar kayu miliknya ini. Wajahnya terlihat serius. Poninya yang panjang sedikit menutupi kedua bola matanya yang sedikit sipit.
 
“ mau denger gue nyanyi ? .”
 
“ gue engga ada duit recehan .”
 
“ gue ngga minta bayaran. Emang dikira gue pengamen apa .” sepertinya Rangga kesal karna gue ledek tadi xD
 
“ baru gitu aja udah marah. Engga bisa diajak bercanda banget sih lo, Kak..”
 
Mulut Rangga tidak berucap lagi. Kedua bola matanya kembali memperhatikan senar gitar lalu jemari kirinya kembali memetik senar gitar ini.
 
> Author P.O.V
 
Petikan pelan dari senar gitar milik Rangga ini terdengar merdu. Walau baru dipetik. Suaranya terdengar lembut dan sangat membuat telinga yang mendengar begitu nyaman juga ikut terlena di dalam petikan senar gitar ini. Terlihat jelas Rangga memejamkan kedua matanya mencoba mengikuti alunan senar gitar yang dipetiknya saat ini.
 
Saat semua tlah berbeda apa yang kita rasa.
Ku tak ingin kau terluka.
Memang kita belum terbiasa  atau mungkin tak bisa bersama.
Tapi ku ingin kau percaya.
Ku tak ingin kau terluka.
 
Hanya kali ini tak ingin kau pergi walau sejenak tuk pejam kan mata ini.
Mungkin waktu ini terlalu lama bagi ku.
Tuk meminta mu selalu ada disamping ku.
Coba genggam lah tangan ku dan biarkan lah diri ku menjaga mu.. hingga kau terlelap.
Ku kan menunggu diri mu karna kau sangat lah berarti untuk ku.
Mungkin ku terlalu mencintai mu.
 
Jangan biarkan lah diri mu, lama untuk mengerti diri ku.
Kau kan buat ku menghilang.. coba lah kau sadari.
 
Hanya kali ini tak ingin kau pergi walau sejenak tuk pejam kan mata ini.
Mungkin waktu ini terlalu lama bagi ku.
Tuk meminta mu selalu ada disamping ku.
Coba genggam lah tangan ku dan biarkan lah diri ku menjaga mu.. hingga kau terlelap.
Ku kan menunggu diri mu karna kau sangat lah berarti untuk ku.
Mungkin ku terlalu mencintai mu.
 
Ku ingin kau hadir saat ku termenung, memandang wajah ku berikan senyum mu.
Jangan.. kau tinggalkan..
Ku ingin hapuskan airmata mu saat kau terlalu merindukan ku.
Jangan.. kau lupakan..
 
Karna mungkin waktu ini yang terbaik tuk diri mu dan diri ku.
Percaya lah kasih.. kau sangat lah berarti untuk ku.
Ku mencintai mu..
 
Alunan senar gitar mulai memudar. Jemari tangan kiri Rangga kini sudah berhenti memetik senar gitar kayu miliknya. Hey, lihat Sanny ! Bibirnya masih tersenyum manis walau pun Rangga sudah berhenti bernyanyi.
 
> Sanny P.O.V
 
Oh Tuhan.. Suara Rangga terdengar sangat merdu. Jemarinya juga begitu lihai memetik senar gitar ini sesuai dengan kunci gitar dari lagu yang dinyanyikan-nya ini. Engga nyesel gue punya perasaan sama dia walau gue harus rela nangis saat liat Rangga dan Kak Tika bermesraan.
 
“ lagunya bagus. Ciptaan lo atau dari penyanyi lain ? Kayaknya gue ngga pernah denger deh, Kak..” gue mencoba bertanya tentang lagu ini. Yahh.. filling gue mangatakan kalau Rangga bernyanyi lagu ini untuk Kak Tika. Udah ketahuan dari lirik yang gue denger tadi ;(
 
“ ini lagunya Still virgin kok. Bukan ciptaan gue. Akhir-akhir ini gue emang lagi suka sama band itu walau belom nongol di tipi .” jelasnya dengan seutas senyuman tipis. Tapi bagi gue sungguh manis. Oh God !!
 
“ ohh.. gue kira ciptaan lo. Inget Kak Tika ya makanya lo nyanyi lagu ini .” bibir gue tersenyum miris lalu mengalihkan pandangan ke pot-pot yang sedang terpajang di ujung sana. Rasanya cukup sakit mengucapkan kata-kata yang baru saja gue tanyakan.
 
> Rangga P.O.V
 
“ ohh.. gue kira ciptaan lo. Inget Kak Tika ya makanya lo nyanyi lagu ini .” kepala gue menoleh saat Sanny bertanya seperti ini. Terlihat jelas dari raut wajahnya yang menunjukkan kalau dia tidak suka atau yang lainnya misalnya seperti sakit ?!
 
“ engga kok. Siapa bilang ? gue Cuma iseng-iseng aja .” gue segera menepis pertanyaan dari Sanny. Cukup gue buat Sanny nangis. Gue ngga mau dia terus-terusan nangis Cuma karna gue.
 
Gue liat Sanny udah berdiri dengan wajah cueknya. Entah apa yang membuatnya seperti ini. Apa karna lagu yang gue nyanyi-in tadi ? Tapi jujur loh !! Gue nyanyi lagu itu emang bukan buat Tika tapi karna gue lagi suka sama lagu itu.
 
“ mau kemana ? .” tangan kiri gue segera menahan pergelangan tangan kanannya sebelum Sanny berbalik pergi meninggalkan gue disini seorang diri
 
“ gue mau ke Kamar. Mau ngerjain PR buat besok .” Sanny menepis kasar tangan kiri gue lalu berbalik pergi dengan langkah cepat. Dan gue Cuma bisa menatap dia dari sini dengan tatapan tanda Tanya. Kenapa Sanny ? Tadi baik-baik aja tapi sekarang cuek banget sama gue. Aneh !
 
Gue meletakkan gitar kayu ini tepat disamping kanan gue. Kedua tangan gue mengusap pelan wajah gue yang sedikit berkeringat ini. Terdiam sebentar memikirkan antara Tika dan Sanny. Tika. Dia cewek yang baik, perhatian, cantik, lucu walau sedikit matre. Yaa.. jujur aja sih nih.. Tika sering minta ganti HP ke gue. Uang dari mana coba ? Gue aja masih Kuliah dan tahun depan baru wisuda. Berbanding jauh sama Sanny, Sepupu gue yang sedikit ceroboh itu. Maklum, masih kelas 2 SMA. Karna sikapnya yang ceroboh, kadang bisa buat gue ketawa geli. Selain itu, dia juga sedikit telmi. Kadang gue ngomong apa dia jawab-nya yang mana (-__-“)
 
Tapi jujur, gue lebih suka Sanny dibanding Tika, Tunangan gue sendiri. Sanny itu sederhana, engga pernah minta yang aneh-aneh sama gue. Dia juga anak yang mandiri. Kalau beli barang, harus pake tabungannya sendiri. Dan yang paling gue suka dari dia itu sifatnya yang sedikit manja. Suaranya yang begitu cempreng saat berteriak karna gue takut-in pake  tikus-tikusan. Haha, sumpah.. lucu banget mukanya. Yahh.. andai aja Sanny bukan Sepupu gue, mungkin gue akan milih Sanny sebagai Tunangan gue dibanding Tika.
 
“ Sanny..” bibir gue tersenyum tipis tanpa sadar. Ngga tau kenapa, tiba-tiba memori otak gue memutar ulang kejadian-kejadian kecil yang pernah gue alami saat lagi iseng sama Sanny.
( Tomorrow. Di dalam mobil sedan hitam Rangga, pukul 06.00 waktu setempat )
 
> Author P.O.V
 
Mobil sedan berwarna hitam ini tengah berjalan di jalan raya yang sedikit berkabut ini. Langit belum begitu cerah karna shubuh tadi sempat turun hujan walau tidak begitu deras. Rangga sedang focus menyetir dan memperhatikan jalan. Sesekali kedua bola matanya melirik Sanny yang sedang asik mendengarkan music lewat heandset-nya di I-Phone 4s miliknya. Mau kemana mereka ? Hari ini hari Rabu dan tentu saja Sanny sekolah. Karna Rangga sedang menginap di rumahnya, jadi dia-lah yang mengantar Sanny sampai ke gedung sekolahnya.
 
Cinta yang ku berikan kini.. telah sia-sia.
Hanya untuk kamu.. semuanya akan ku lakukan.
Tapi kau sia-siakan.. semua yang ku berikan.
Jujur hanya dirimu slalu.. di dalam hati ku.
Dan ku.. percayakan.. akan.. cinta dari mu.
Tapi semua itu kau khianati begitu saja.
 
“ nyanyi lagu siapa ? .” Tanya Rangga saat mendengar Sanny bernyanyi dengan suara kecil
 
Jemari Sanny masih asik di layar touch screen I-phone 4s miliknya. Kepalanya juga terlihat mengangguk-ngangguk kecil. Sepertinya Sanny benar-benar menikmati lagu yang sedang diputarnya saat ini.
 
Merasa tidak direspon, dengan kesal tangan kiri Rangga menarik heandset yang sedang tertanam di telinga kanan Sanny. “ nyanyi lagunya siapa ? .” ulang Rangga datar
 
“ ohh.. lo nanya, Kak. Lagunya sunset. Kenapa emangnya ? .” balas Sanny yang kini memasang kembali heandset putih itu di telinga kanannya
 
“ nggappa .” jawab Rangga lalu memutar stir-nya berbelok ke arah kanan
 
“ sekolah gue kan harusnya lurus. Kenapa jadi belok ke kanan ? .” Tanya Sanny heran melihat Rangga yang memutar haluan
 
> Rangga P.O.V
 
“ sekolah gue kan harusnya lurus. Kenapa jadi belok ke kanan ? .” Sanny keliatan bingung karna tiba-tiba gue memutar haluan. Engga gua jawab ahh.. haha, emangnya enak engga direspon. Gue kerjain loo..
 
“ Kak, kita salah jalan. Harusnya bukan kesini. Puter balik .” kayaknya nih anak keliatan gelisah karna gue memutar haluan. Gue emang sengaja memutar haluan. Gue mau ke suatu tempat dulu karna ada urusan. Urusan penting menyangkut Perempuan yang akan menjadi pendamping hidup gue nanti.
 
“ kak.. serius ih.. gue telat nanti. Hari ini gue ada ulangan Biologi tau. Lo tau siapa Guru Biologi gue ? Bu Nurjannah. Guru paling killer dan galak di sekolah gue. Lo ngga mau kan liat Sepupu lo ini dihukum Cuma karna telat dan itu semua gara-gara lo. Cepetan puter balik !! .” ya ampun, tuh mulut nyerocos aja. Gue tambah-in kecepatan baru tau rasa nih !!
 
“ Kak.. ngapain ngebut-ngebut ! Gue masih muda. Masih mau idup. Engga mau mati. Pelan-pelan aja .” sukses gue kerjain Sanny pagi ini. Mulutnya yang bawel bikin gue tambah semangat buat ngerjain dia.
 
“ kalo lo ngga mau mati. Makanya diem. Duduk yang manis .”
 
Hey, lihat !! Look. Sanny langsung menutup mulutnya dan kembali duduk diam menatap lurus jalanan disana. Wajahnya terlihat ketakutan karna gue ajak ngebut. Haha. Sanny.. Sanny.. baru gini aja udah ketakutan setengah mati. Hadeh.. ngga tega juga liat mukanya yang parno abis gitu. Cukup berbaik hati lah gue. Kecepatan mulai gue turunin kembali normal dan gue melirik ke arahnya yang sedang mengelus-ngelus dadanya. Duh.. lucu banget nih anak !
 
*****
 
> Author P.O.V
 
Rangga menghentikan mobil sedan berwarna hitamnya tepat di depan sebuah halaman rumah seseorang. Halaman rumah siapa ini ? Sanny sama sekali tidak mengenal-nya. Dan ini rumah siapa ? Rumah yang cukup mewah berbentuk minimalis. Tampilan rumah yang cukup simple.
 
“ lo tunggu disini. Jangan kemana-mana .” ucap Rangga lalu melepas seatbeltnya
 
“ tapi gue harus sekolah, Kak..” ucap Sanny sedikit kesal. Ia melirik ke jam arloji hitam kecil yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sudah hampir jam setengah tujuh. Sedangkan bel sekolahnya berbunyi tepat pukul setengah tujuh pagi.
Tanpa dosa, Rangga keluar dari dalam mobilnya dan mengunci mobil sedan ini dari luar. Membuat Sanny terkunci dan tidak bisa pergi kemana-mana. Kakinya mulai melangkah mendekati pintu rumah bercat hitam ini. Wajahnya terlihat ragu untuk mengetuk pintu rumah itu. Seperti ada yang disembunyikannya saat ini. Entahlah itu apa. Lihat Sanny di dalam mobil sana, Ia terlihat tidak bisa diam dan memberontak agar Rangga membuka-kan pintu Mobilnya. Dan Sanny dapat melarikan diri untuk mencari Taksi dan pergi ke sekolahnya.
 
“ Tok tok tok “ tangan kanan Rangga terlihat mengetuk pintu rumah itu
 
Tak lama kemudian, keluar lah sosok Wanita cantik dari dalam rumah ini. Wanita dengan pakaian santai-nya. Hanya kaos putih polos sampai pinggang dan celana jeans berwarna biru dongkar yang hanya 10 cm diatas lutut. Rambutnya yang panjang dibiarkan digerai begitu saja. Cukup simple.
 
“ loh.. Pahh, tumben kesini pagi-pagi. Mau ngapain ? Kangen ya sama Mamahh .” ucapnya membuat sederetan gigi-nya yang dibehel terlihat
 
> Rangga P.O.V
 
“ loh.. Pahh, tumben kesini pagi-pagi. Mau ngapain ? Kangen ya sama Mamahh .”  jadi ngga tega sama Tika. Dia bilang gue dateng kesini karna kangen. Padahal sebenernya gue mau ngomong sesuatu sama dia.
 
“ hmm.. aku kesini Cuma mau ngomong sesuatu sama kamu .”
 
“ kita ngomong di dalem aja biar enak .”
 
“ engga usah. Disini aja. Cuma sebentar doang kok .” tolak gue dengan sedikit senyum
 
“ ohh.. gitu. Emangnya mau ngomong apa ? .”
 
“ ngh..” gimana ini ? Gue bingung gimana ngomong dari awal. Jantung gue mulai berdetak tak karuan. Tiba-tiba gue teringat sama Sanny yang lagi gue tahan di dalem Mobil. Gue mencoba menenangkan jantung gue ini dengan mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya panjang.
 
Gue melirik ke telapak tangan kirinya. Disana. Dijari manis Tika, masih melingkar sebuah cincin putih platina. Tepatnya cincin tunangan kita beberapa bulan yang lalu. Kedua bola mata gue juga ikut melirik ke telapak tangan kiri gue. Tepat banget. Disana juga masih melingkar cincin tunangan kita.
 
“ mau ngomong apa, Pahh ? .”
 
Kedua bola mata gue memutar dan menatap Tika dengan tatapan tak tega. Apa gue harus ngomong ini semua ? Tapi gimana kalo gue bikin Tika nangis ? Gue ngga tega liat Cewek nangis. Kesannya gue terlalu jahat sama dia. Perlahan, gue melepas cincin tunangan ini. Cincin yang telah mengikat hubungan kita berdua selama 2 tahun belakangan ini.
 
“ kok cincinnya dilepas ? .” sepertinya Tika mulai curiga sama gue
 
Gue menggapai tangan Tika lembut dan meletakkan cincin tunangan gue di telapak tangannya.
 
“ maaf. Aku ngga bisa jadi Tunangan kamu lagi .”
 
“ engga usah bercanda deh, Pahh. Engga lucu .”
 
“ aku ngga bercanda, Tik. Sekali lagi maaf yaa. Makasih udah kasih hari-hari yang terbaik selama 2 tahun ini. Aku ngga akan lupain kamu kok .” gue liat wajah Tika yang tertunduk sedih. Ya Tuhan.. semoga Tika engga nangis.
 
“ tapi kenapa ? Apa Mamah punya salah sama Papaahh ? .” kedua bola mata Tika terlihat berkaca-kaca. Pliss.. airmata jangan netes.
 
“ kamu ngga ada salah kok sama aku. Aku Cuma ngerasa udah engga cocok aja sama kamu. Mungkin di luar sana ada Cowok yang lebih baik dari aku dan pantes dapetin kamu .”
 
Tika terlihat terdiam menunduk. Cincin itu dipandangnya lekat. Tiba-tiba airmata menetes di kedua pelupuk matanya. Oh God !! Kenapa Tika harus nangis ? Gue engga tega sama dia karna gue udah buat dia nangis. Tapi mau gimana lagi ? Tadi malem gue berpikir keras tentang ini semua. Gue memutuskan untuk pisah sama Tika. Karna.. Yaa.. karna.. Gue ngga bisa bohong sama perasaan gue sendiri. Gue sayang sama Sanny. Dan gue rasa engga ada salahnya kalo gue pacaran sama dia. Tohh, kita saudara jauh dan engga ada ikatan darah. Jadi apa salahnya kalo gue milih dia buat jadi Gadis gue ?
 
“ hiks.. hiks.. “ gue bener-bener ngga tega sama Tika. Langsung aja gue peluk dia buat nenangin hatinya terlebih dahulu. Udah dua Cewek nangis karna gue. Tika dan Sanny.
 
“ maaf ya, Tik. Tapi aku bener-bener ngga bisa jadi tunangan kamu lagi. Dari pada aku tetep jadi Tunangan kamu tapi aku udah agga ada perasaan apa pun lagi sama kamu. Gimana ? .” gue mencoba menjelaskan isi hati gue walau engga sepenuhnya
 
“ jadi Papaah mencintai perempuan lain ? .” sepertinya Tika bisa menyimpulkan isi hati gue. Gue melepaskan pelukan ini dengan lembut lalu menghapus airmata yang masih tersisa di kedua pipinya yang chubby.
 
“ maaf-in aku ya, Tik. Karna aku udah berpaling dari kamu .” ucap gue mencoba jujur
Tika tidak menjawab. Ia hanya menunduk dan menangis. Dadanya terlihat berlomba naik turun karna isakan tangisnya. Ngga tega gue (-__-“)
 
“ udah dong jangan nangis. Yang terpenting kita masih bisa temen-an kok .” gue memegang kedua pipi chubby Tika lalu mengecup keningnya cukup lama bermaksud menenangkan hati Tika saat ini yang mungkin saja hancur
 
“ aku pergi dulu yaa .” pamit gue lalu berbalik dan berjalan pergi meninggalkan Tika yang mungkin masih menangis. Gue juga denger dia manggil gue ‘Pahh’
 
> Sanny P.O.V
 
Tuhan.. kenapa aku harus menyaksikan kejadian ini lagi ? Kejadian saat Rangga mencium kening kak Tika dan memeluknya erat. Rasanya sakit banget. Pliss.. airmata jangan netes. Pliss… jangan netes. Tapi sepertinya airmata ini engga bisa diajak kerja sama. Airmata itu telah menetes. Gue Cuma bisa nutup mulut gue supaya tangis gue engga semakin meledak. God ! Apa takdir ku memang selalu dipenuhi dengan airmata ?
 
Gue langsung menghapus airmata ini saat Rangga udah selesai ngobrol sama Kak Tika. Dia berjalan dengan santai-nya dan masuk ke dalam Mobil ini. Wajah gue langsung berpaling menatap pemandangan disekitar rumah kak Tika dari dalam sini. Gue ngga mau Rangga tau kalo gue abis nangis karna liat kejadian itu.
 
“ abis nangis ? .”
Gue sedikit kaget dengan pertanyaan Rangga ini. Dari mana dia tau kalo gue abis nagis ? Fine.. mending gue diem dan engga ngejawab. Dari pada Rangga nanya lebih banyak lagi dari alesan kenapa gue nangis.
 
“ maaf ya udah buat lo nangis .” ucapnya. Rangga ini peramal atau bukan sih ? Kenapa tebakan dia selalu bener semua ? (-__-“)
 
Gue pura-pura engga denger dengan melirik ke arah jam arloji hitam ini. What ?? Udah jam setengah tujuh lewat ?? Gimana ini ? Gue terlambat ke sekolah. Lalu gue menatap Rangga dengan tatapan tajam. Terkutuk lah kau Rangga !!!
 
“ kenapa ? .” wajahnya terlihat polos
 
“ lo tau ini jam berapa, kak ? gue telat !! .” suara cempreng gue sedikit keluar dan sepertinya Rangga terlihat mengusap-ngusap kedua telinga-nya itu
 
“ Sannyy !! suara cempreng lo itu.. errghh.. berisik tau ngga !! .” omelnya
 
“ gue juga ngga akan cempreng kalo lo ngga bikin ulah sama gue .”
 
“ ya udah, lo tenang aja. Gue udah ngirim surat Dokter ke Wali kelas lo .”
 
Mata gue terpelongo. Tadi Rangga bilang apa ? Dia udah ngirim surat Dokter ke wali kelas gue ? Tapi kan gue engga sakit. Err.. Rangga !! Tambah gahar nih gue.
 
“ gue kan engga sakit. Lo nyumpahin gue sakit, hah ? .” mata gue melotot tajam ke arahnya
 
> Rangga P.O.V
 
“ gue kan engga sakit. Lo nyumpahin gue sakit, hah ? .” matanya nyeremin banget deh !! Gue emang sengaja ngirim surat Dokter ke sekolahnya Sanny lewat Dicky, sahabatnya di sekolah. Dan ini semua juga udah gue rencana-in. Dari gue memutuskan tali tunangan sama Tika sampe bikin Sanny telat kayak gini. Karna apa ? Rencana-nya sih, gue mau berduaan sama dia seharian ini. Hahay..
 
“ udah selesai ngomelnya ? Mau duduk manis atau gue ajak ngebut lagi ? .” ancam gue. Dan yeahh.. berhasil. Sanny langsung duduk seperti biasa. Wajahnya terlihat cemberut dan bibirnya manyun. Haha.. lucu banget. Rasanya pengen gue cubit pipinya.
( Morning. Beach. Pukul 08.15 waktu setempat )
 
> Author P.O.V
 
Mobil Rangga berhenti tepat di Parkiran dekat Pantai. Memang Rangga sengaja mengajak Sanny ke Pantai. Sebenernya sih mau nyari makan. Karna sejak tadi mereka belum sempat sarapan. Tante Diana (mamanya Sanny) sudah menyiapkan sarapan di meja makan tadi pagi. Tapi saat Sanny telah turun dari dalam Kamarnya, tiba-tiba saja Rangga langsung menarik lengan kiri-nya dan menariknya masuk ke dalam mobil. Jadinya mereka engga sempet sarapan pagi deh (-__-“)
 
“ ayo turun .” ucap Rangga yang membuka seatbeltnya
 
Sanny tidak bergeming. Wajahnya masih saja menatap pemandangan diluar sana dari balik kaca jendela ini. Raut wajah-nya yang datar itu dapat terlihat jelas.
 
“ Sann.. turun yukk ! Kita sarapan dulu .” ajak Rangga sekali lagi. Suaranya begitu lembut.
 
“ gue ngga laper. Lo sarapan sendiri aja. Gue nunggu disini .” tolak Sanny datar. Wajahnya masih tetap seperti itu. Mengalihkan pandangannya dan tidak mau menatap Rangga. Entah kenapa ~
 
“ lo liat kita ada dimana .” Rangga berusaha membujuk Sanny agar mau keluar. Ia sangat tahu kalau Sanny menyukai pantai. Sangat.
 
“ pantai .” jawab Sanny santai. Nada suaranya benar-benar tidak mempunyai tangga nada atau irama atau melodi (?) lebih tepatnya lagi datar dan terdengar dingin.
 
“ lo bener-an ngga mau turun ? Pantai-nya masih sepi lohh.. dan gue denger ada ubur-ubur di tengah-tengah laut ini. Ada Jangkar juga di deket Pelabuhan. Satu lagi, ada terumbu karang-nya .” Rangga tak menyerah untuk membujuk Sanny
 
Tenggorokan Sanny terlihat sedang menelan sesuatu. Mungkin menelan saliva-nya karna mulai tergiur dengan bujukan Rangga tadi. Ia juga terlihat sedang menggigit bibir bawahnya yang mungil dan dilapisi lipgloss pink cerah. Ingin sekali Ia turun. Sangat ingin. Tapi terlalu gengsi. Kenapa harus gengsi ? Karna tadi ceritanya Sanny lagi ngambek.
 
“ beneran engga mau nih ? Ya udah, lo tunggu disini aja. Gue mau sarapan dulu pluss photo sama Jangkar .” ucap Rangga sedikit meninggikan suaranya. Ia mulai membuka seatbelt dengan senyuman yang mengembang. Sepertinya Ia tahu kalau Sanny akan terlena dengan bujukannya.
 
“ Kak.. gue ikut .” tangan Sanny menahan lengan kiri Rangga. Telapak tangannya terasa dingin dan berkeringat.
 
“ lo disini aja. Kan tadi katanya engga mau .” ledek Rangga.
 
“ yahh.. jangan gitu dong ! Gue kan juga mau photo sama Jangkar tau .” wajah Sanny terlihat cemberut membuat bibirnya yang mungil itu terlihat sangat lucu dan seksi.
 
“ ya udah.. lepas seatbeltnya terus turun .”
 
*****
 
> Sanny P.O.V
 
Dari tadi kaki gue terus berjalan mencari sebuah pelabuhan. Karna tadi sebelumnya Rangga bilang sama gue kalo disini ada Pelabuhan dan ada Jangkar katanya. Gue pengen banget photo sama Jangkar yang asli. Pasti asli-nya lebih keren dari pada di photo. Tapi mana Pelabuhan-nya ? Jangkarnya juga mana ? Kaki gue capek jalan terus. Huh..
 
“ Jangkar !! dimana diri mu ?? fans-mu ini mau photo bareng !! .” teriak gue ngga jelas. Sepatu PX-style hitam gue ini udah gue lepas lengkap dengan kaos kaki putih ini. Sepertinya gue udah kayak orang gila karna dari tadi gue muter-muter di pantai ini, bawa sepasang sepatu gue pula. Pasti mereka pada mikir, seharusnya saat ini gue ada di sekolah bukannya keluyuran di pantai.
 
“ udah ketemu sama Jangkar-nya ? .” tiba-tiba Rangga berdiri didepan gue dengan gaya-nya yang menurut gue cool. WOW. Tatapannya yang cuek, cocok dengan wajahnya yang begitu manis.
 
“ belom. Huh.. gue capek ! Udah empat kali gue lewat tempat ini tapi belom ketemu juga sama Jangkar-nya .”
 
“ hahaha..” tiba-tiba tawa Rangga meledak. Kenapa malah ketawa ? Emangnya ada yang lucu ? Atau muka gue yang bikin dia ketawa ? Harusnya dia bantu gue nyari Jangkar kek.. bukannya ketawa ngga jelas kayak gini (-__-“)
 
“ Sanny.. Sanny.. ini Pantai rekreasi. Mana ada Pelabuhan disini ? Jangankan ketemu sama Jangkar, ketemu sama Nahkoda-nya aja engga akan mungkin. Adanya juga abang-abang perahu layar .” Rangga ngerjain gue ? Mamahh !! Keterlaluan banget sih jadi Sepupu. Dikira lucu gitu ? Engga.
 
Gue memasang wajah jutek lalu berbalik dan berjalan pergi meningalkan Rangga dengan langkah kesal. Gue udah bolak-balik ke tempat ini empat kali dan dengan santai-nya Rangga bilang kalo ternyata dia ngerjain gue ? Keterlaluan banget !! Bodohnya gue, kenapa gue harus percaya sama bujukan Rangga tadi ? Gue tau ini pantai rekreasi tapi kenapa otak gue engga mikir tentang Pelabuhan ? ;(
 
“ Sann..” gue ngerasa lengan kanan gue ada yang nahan. Pasti Rangga. Mau apalagi sih tuh anak ? Belom puas ngerjain gue ?
 
“ jangan marah yaa.. gue Cuma bercanda kok. Maafin yahh..” suaranya terdengar memohon
 
“ gue mau pulang .” tepis gue kasar lalu kembali berjalan pergi meninggalkan Rangga di tempat ini.
 
“ walau pun disini engga ada Jangkar. Tapi gue punya gantungan kunci Jangkar kok .” ucapnya dari belakang. Paling itu Cuma akal-akalannya aja biar gue engga pulang dari pantai ini.
 
Bodo amat lah !! Gue lanjut-in aja langkah kai gue.
 
“ beneran ngga mau nih ? Gue punya banyak nih !! Ada yang warna hitam, putih, pink, ungu sama apa yahh ? Kira-kira semuanya ada enam .”
 
Kaki gue berhenti melangkah dan terdiam sebentar. Gimana kalo ucapan Rangga bener ? Kebetulan gue lagi ngoleksi gantungan kunci berbentuk Jangkar. Dengan ragu, gue berbalik. Mata gue membulat tak percaya. Rangga memamerkan gantungan kunci itu ditempatnya berdiri saat ini. Tuhan.. ternyata Rangga engga bohong, dia bener-bener jujur.
 
> Rangga P.O.V
 
Sukses. Gue liat Sanny langsung berlari kecil menghampiri gue. Kedua bola matanya menatap lekat gantungan kunci ini. Sepertinya Sanny bener-bener terhipnotis sama gantungan kunci Jangkar ini. Dikira-nya gue bohong kali yaa ? Haha, sorry, gue engga bohong. Untungnya gue udah beli gantungan kunci jangkar ini di Toko sana sebelum akhirnya Sanny menyadari-nya.
 
“ buat gue yaa, Kak..” wajahnya begitu memelas dan memohon
 
“ tadi ngga mau, kan ? .”
 
“ siapa bilang ? Gue belom nolak, kok .”
 
“ mau gantungan ini ? .” kepala Sanny mengangguk cepat. “ ikut gue naik perahu layar dulu. Nanti kalo udah selesai baru gue kasih gantungan kunci-nya .” jari telunjuk gue mencolek hidung mancung Sanny yang berukuran kecil ini. Sama lah kayak hidung gue. Dan bisa diliat, Sanny tampak tersipu malu.
 
“ engga ngerjain kan ? .”
 
“ engga kok. Gue ngga mungkin ngerjain lo Cuma jail aja .”
 
“ sama aja, Kak..” wajahnya terlihat cemberut
 
“ haha.. muka lo lucu, Sann. Tenang aja sama gue. Gue serius kok kali ini .” tanpa pikir panjang lagi gue langsung menggandeng tangan kanannya itu. Telapak tangan yang cukup lembut. Kedua bola matanya menatap gue. Mungkin dia heran kenapa gue menggandeng tangannya. Tapi gue segera menjawab dengan senyuman manis dan yeahh.. berhasil. Lagi-lagi Sanny tersipu malu , bibirnya juga ikut membalas senyuman gue ini.
 
*****
 
> Author P.O.V
 
Sanny terlihat tampak senang diatas perahu layar ini. Lihat saja, dia seperti anak kecil yang tidak pernah diajak naik perahu oleh Otangtua-nya. Tangan kanannya terlihat sedang bermain dengan ombak kecil yang menerpa dinding kayu perahu layar mereka. Bibirnya yang mungil pun terus tersenyum tipis menatapi air laut dan ombak-ombak kecil. Padahal tidak ada yang indah di laut ini. Hanya sekumpulan air laut yang sedikit berkeruh dan mungkin terasa sangat asin.
 
“ Pak.. ada ubur-ubur kecil. Tangkep-in dong !! .” pinta Sanny histeris
 
“ disini mana ada ubur-ubur, Neng. Yang ada juga sampah plastik .” jawab Bapak ini. Seorang Bapak paruh baya dengan warna kulit sedikit gelap. Mungkin karna pekerjaannya sebagai tukang perahu layar.
 
“ yahh..” wajah Sanny cemberut seketika. Padahal ia sangat suka dengan ubur-ubur kecil. Terutama yang berwarna putih transparant.
 
> Sanny P.O.V
 
Ternyata di laut ini engga ada yang nama-nya ubur-ubur. Sayang banget. Padahal gue berharap pulang bawa ubur-ubur kecil buat pajangan dirumah. Pasti lucu. Sedikit kecewa juga sih ! Tapi tadi Rangga bilang disini ada ubur-ubur. Dua kali gue dikerjain sama dia. Huh..
 
Kepala gue menoleh kesamping kiri. Entah apa yang membuat kepala gue menoleh ke arah ini. Wajah Rangga yang manis terpampang jelas. Rangga ikut menyandarkan dagu-nya diatas dinding perahu layar ini. God.. manis banget walau lagi bengong kayak gini. Gue Cuma bisa tersenyum sambil natap wajah Sepupu gue ini. Dan menurut gue, wajah Rangga jauh lebih indah dari pada lautan disana. Memandang wajahnya aja udah bikin hati gue tenang, apalagi memiliki-nya ? Gue ngga bisa ngebayangin jadi Pacar dia. Beruntung banget Kak Tika punya Tunangan kayak Rangga. Andai gue..
 
“ ngga usah mandangin gue kayak gitu. Lautan lebih indah kok dari pada wajah gue .” untuk yang kesekian kalinya, Rangga bisa tau pikiran gue. Omaygosh.. udah manis, bisa ngeramal pula (-__-“)
 
Kini kepalanya menoleh ke arah gue. Bibirnya yang tipis melempar seukir senyuman manis ke wajah gue. Ya Tuhan.. baru kali ini gue liat senyum Rangga dengan jarak dekat. Manusia apa Malaikat sih lo, Kak ? Pengen banget gue setiap detik kayak gini. Cuma memandang senyum manis yang terukir di bibir tipisnya. Papahh.. Sanny mau pingsan liat senyum-nya Rangga..
 
“ kenapa ? Gue bukan malaikat kok. Senyum lo juga lebih manis dari senyum-an gue. Dan jangan pingsan disini, gue susah gendong badan lo yang berat itu .”
 
Sumpah yaa.. ucapan Rangga bikin gue mematung tak percaya. Rangga bener-bener bisa baca pikiran gue. God..
 
“ berenti baca pikiran gue .” gue langsung mengalihkan pandangan ke laut sana. Cukup Rangga baca pikiran gue. Gimana kalo dia bisa baca pikiran gue saat gue lagi mengkhayal pacaran sama dia ? Gaswatt..
 
“ ngga usah pura-pura cuek gitu. Yaa.. gue tau kok. Kerjaan lo disekolah kalo lagi belajar Matematika. Pasti mengkhayal pacaran sama gue .”
 
Rangga !!!!!! Stop baca pikiran gue. Peliss.. semua ucapan lo itu bikin muka gue malu kayak kepiting rebus. Liat nih, pipi gue mulai merah. Tangan gue juga mulai keringet dingin. Engga kasian apa sama Sepupu lo ini ?
 
Gue mencoba mengambil nafas dalam-dalam. Mencoba menghilangkan semua rasa malu gue itu. Untuk saat ini, gue ngga berani natap wajahnya. Bisa kebongkar semua khayalan gue di depan dia. Mungkin saat ini gue akan meng-kosongkan pikiran gue. Sampe bersih (?) Tapi tunggu dulu, kenapa telapak tangan kiri gue kayak ada yang nge-gandeng ? Okee.. kita liat pelan-pelan. God.. tangan Rangga menggenggam tangan gue. Cengo. Mungkin itu muka gue saat ini.
 
“ tangan lo engga dingin kok. Muka lo juga engga merah. Mungkin acara pengambilan nafas lo itu berhasil .” ucapnya lembut
 
“ lo tau dari mana pikiran gue ? Lo peramal, Kak ? .” gue mencoba memegang keningnya dengan telapak tangan gue yang satunya. Keningnya engga dingin, panas pun engga. Normal-normal aja.
 
Sentuhan lembut gue rasakan lagi. Tiba-tiba aja telapak tangan gue yang lagi memegang kening Rangga, ditahan olehnya. Kedua bola mata kita saling bertemu dan saling menatap. Semua tatapan gue kali ini kosong. Gue menatap wajah Rangga lurus tanpa ada pikiran satu pun.
 
“ lo mau jadi Pacar gue ? .” Degg. Jantung gue terasa berhenti sekejap. Telapak tangan gue kembali keringet dingin. Bibir gue mulai bergetar. Rangga nembak gue ? Ngga mungkin. Dia kan udah punya Kak Tika. Mungkin ini Cuma khayalan gue aja. Bangun Sanny.. bangun..
 
“ lo lagi ngga mengkhayal kok. Gue sama Tika udah engga ada hubungan apa pun .” ucapnya yang lagi-lagi membaca pikiran gue. Bibirnya tersenyum lagi.
 
“ lo liat.. jari gue udah engga ada cincin tunangan itu lagi .” Rangga melepaskan genggaman tangannya dan menunjukkan kelima jari di telapak tangan kanannya. Iya juga sihh.. disana udah engga ada cincin putih alias cincin tunangan. Tapi kenapa bisa mereka putus ?
 
“ lo pasti mau nanya, kenapa bisa gue sama Tika putus. Okee.. gue jelasin. Semalem gue mikir ini semua. Antara lo sama Tika. Kalian berbeda jauh. Dan hati gue lebih suka sama lo. Gue juga sayang sama lo. Awalnya sayang sebagai sepupu tapi ternyata hati kecil gue berkata lain. Rasa sayang itu melebihi batas normal. Nggappa kan gue sayang sama lo ? .” jelasnya yang buat gue diem seribu kata. Gue ngga tau harus ngomong apa. Semua isi hati gue dan pikiran gue udah di-ucapin sama Rangga. Dan yang ngga bisa gue percaya itu.. ternyata Rangga punya perasaan yang sama kayak gue. Ya Tuhan.. sulit diterima akal.
 
“ gue tau, pasti lo masih belom percaya sama ucapan gue. Tapi itu lah kenyataannya. Lo sayang sama gue dan gue juga sayang sama lo .” lanjutnya
 
“ lo.. ngga ngerjain gue kan, Kak ? .”
 
“ apa muka gue kurang serius ? .” Tanya-nya menunjuk wajahnya yang manis itu dan gue hanya dapat menggeleng pelan. Pikiran gue bener-bener bingung. Kacau. Engga bisa mikir apa pun. Dilema deh gue (-__-“)
 
“ ngga usah pusing gitu. Lo tinggal jawab YA atau TIDAK. Tapi satu yang perlu lo tau, gue ngga akan nanya ini untuk yang kedua kali-nya .”
 
Mata gue sedikit membulat kaget. Jadi inti-nya kalo gue nolak Rangga, dia ngga akan nembak gue untuk yang kedua kalinya ? Itu kan maksudnya ? Papahh.. Sanny harus jawab apaan ? Sanny bingung, Pahh..
 
“ gue itung sampe tiga. Satu.. dua.. ti..”
 
“ iya-iya, gue mau jadi Pacar lo .” Rangga terlalu maksa banget sih (-__-“)
 
“ terpaksa nih ? Ya udah.. engga jadi .”
 
“ engga kok. Siapa yang bilang terpaksa ? .”
 
“ hati lo yang bilang sama hati gue .”
 
“ gue kan udah bilang sama lo. Stop baca pikiran gu..”
 
“ shhtt.. jangan pake lo-gue. Panggil gue Kakak dan gue bakal manggil lo Sanny. Ngerti ? .” belom sempat gue nerus-in ucapan gue itu, tiba-tiba aja jeri telunjuk Rangga menempel di bibir pink gue. Suaranya yang lembut bagaikan Malaikat pencabut nyawa. Gue bener-bener terhipnotis sama tatapannya dan terutama senyuman manisnya saat ini. God..
 
“ Kakak bukan Malaikat pencabut nyawa kok. Kakak Cuma seorang Rangga. Rangga Moela dengan senyuman manis yang selalu disukai sama Sanny .” ucapnya manis. Lagi-lagi Rangga baca pikiran gue. Kenapa sih nih orang hobby banget baca pikiran gue ? Mau bikin gue malu di depan dia apa ? (-__-“)
 
Dan.. Dan.. Papaahhh.. Rangga mendekatkan wajahnya ke wajah Sanny. Tolong Sanny Papahh !! Jantung Sanny mau pecah. Detakan jantung Sanny melebihi batas normal. Rangga mau ngapain ? Pliss.. jangan cium gue. Gue engga punya pengalaman tau ;(
 
“ siapa juga yang mau nyium Sanny. Geer..” ucapnya lalu mencolek hidung mungil gue. Rangga ngerjain gue ? (lagi) Heyy… gue hamper mati berdiri gara-gara dikerjain sama dia abis-abisan hari ini. Awas ya lo, Kak..
 
“ apa ? mau marah ? .” nada suaranya seperti menantang
 
“ Kak..” baru gue bilang ‘Kak’ tapi tiba-tiba satu kecupan mendarat di pipi gue sebelah kiri. God.. Rangga nyium pipi gue. Degg. Ngga percaya banget Rangga nyium gue. Papaahh.. Sanny mau pingsan sekarang juga..
 
“ engga usah Papah-papahan mulu. Pingsan tinggal pingsan. Nanti Kakak cebur-in ke laut .”
 
“ Rangga.. ish… iseng banget baca pikiran gue..” gue mulai memukul-mukul dada-nya. Dasar Cowok engga sispack (-__-“) Tapi tiba-tiba Rangga menahan kedua lengan gue dan menempelkannya di dada-nya itu. kedua bola matanya menatap gue lekat sedangkan gue Cuma bisa cengo.
 
“ tadi Kakak bilang apa ? Jangan pake lo-gue. Masih inget ? .” OMG ! gue lupa sama ucapan Rangga tadi. Sorry.. Kak.. Maafkan lah Sanny-mu ini..
 
Degg Degg Degg. Tangan kiri Rangga mendongakkan dagu gue sedikit. Senyum manisnya muncul lagi. Senyum manis yang selalu buat gue kayak patung. Kenapa kepala Rangga miring gitu ? Lehernya sakit atau kenapa ? Gue ngga ngerti sama sekali. Terus, kenapa lama-lama wajahnya makin deket ke wajah gue. Ehh.. ada nyamuk kecil di pipi kiri Rangga. Tuh nyamuk engga kasian apa sama Rangga.
“ Plakk “ akhirnya tuh nyamuk mati juga di tangan gue. Haha..
 
“ aduh.. sakit dong, Sann. Kok ditampar sih ? .” Rangga tampak mengelus-ngelus pipi kirinya itu
 
“ maaf, Kak. Ada nyamuk.. hehe..” gue Cuma bisa memamerkan gigi kecil gue ini.
 
- END.

“ Are you love me ? “

  Malam itu, dinner pertama kami selama satu tahun tiga bulan kami baru pertama kali ketemuan dan bertatapan  muka. Maklum saja pacarku itu artis. Yap, artis super sibuk dan sampai bisa dibilang kami pasangan jarak jauh (LDR). Pacar gue personil dari salah satu anggota boyband Smash, dia Rangga Dewa Moela.
          Dengan gaun malam berwarna biru muda, serta dandanan ala perempuan kaya klasik, dan cocok dengan gayaku. Sementara Rangga dengan rambut cepak sedikit keriting dengan jas hitam, kemeja biru dan dasi kupu-kupu, terlihat manis dan tampan dimataku… Begitu romantic duduk berdu’a dengan bangku dan meja yang telah dipesan Rangga sebelumnya. Diatas meja sudah tersedia makanan yang amat lezat dan siap disantap, serta minuman yang bisa menyegarkan dahaga. Malam itu seperti malam yang paling indah bagi hidupku.
          “ Liv, kamu cantik banget mala mini ! ” ucap Rangga sambil mangambil tanganku dan mengecupnya. “ Hah, iya dong kalo aku gak cantik aku gak mungkin jadi pacar kamu ?! “ kataku dengan percaya diri. “ Ohh iya, kamu bukan pacarku Oliv ?”. jawab Rangga. Mendengar Rangga berbicara seperti itu aku kaget bukan main. “ Maksudmu ? jadi aku ini siapa ? “ tanyaku pada Rangga. “ Haha kamu bukan pacar aku, kamu ini calon istriku J “ jawab Rangga. Aku kaget sampe tersedak “ Heh, hati-hati makannya pelan-pelan yaa J!” tegur Rangga, dengan tangannya menyentuh pipiku… “Ohh iya abis enak banget makanannya “ jawabku sambil tersenyum manis pada Rangg. Dan Rangga pun membalas senyumanku dengan pandangan yang sangat menyentuh hati… “ Dansa yuk ! lagi lagu romantic nih “ ajak Rangga padaku. “ Hah ?! Aduh malu, gak mau ahh !“ tolakku. “ Udah, ayo ! “ Rangga menarik tanganku dan kami pun berdansa berdu’a. Step by step Rangga ngajarin aku dansa. Jarak muka aku dan Rangga hanya 10cm jadi kami sangat dekat sekali. Waktu itu rasanya jantungku mau copot dan udah gak kuat lagi. Malam yang rasanya cuma milik aku dan Rangga ^^^^…..
          Sekarang, kembali lagi menjadi si diriku si anak SMA yang cupu, pendiam, dan gak terlalu tenar apalagi cantik :P. Pagi baru semangat baru^^ motto ku hari ini. Kacamata model dochi menutupi mataku sampai hidung yang melengkapi penampilanku hari ini. “ Happy Monday, and sprit for spect a day !” sms Rangga pagi ini. Oke jadi tambah semangat nih…
         
          @sampai disekolah
“ Oliv, udah pr fisika ? “ Tanya Karin. “ Udah, napa ? “ jawabku dengan polos. “ gue liet boleh ya ?? “ jawab Karin dengan senyum ingin nyontek.. “ Ambil tuh ditas !” jawabku dengan muka jutek.
          Setelah meminjamkan pe-er aku langsung duduk di meja. Dan Karin terus menanyaiku tentang dinner kemarin, aki hanya menjawab setengah dari apa yang terjadi, tidak menceritakan semua haha ^^^. Sebenarnya Karin tidak tahu kalo sebenarnya aku pacaran dengan Rangga SM*SH. Kalaupun dia tahu mungkin dia takkan percaya -,-.
          Ohh ya, di SMA ini gua sekolah sama Ilham SM*SH… entahlah Ilhan mengenalku atau tidak, yang pasti aku mengenalnya (^.^ goblok) “ Hey, hari ini Ilham masuk sekolah ~ asikk ! Lihat yuk ? “ teriak seorang murid di kelas… dengan sigap aku langsung keluar melihat Ilham SM*Sh dikelasnya, terlihat Ilham sedang kebingungan meladeni fans nya dikelas. Karena begitu banyak orang, aku memutuskan kembali ke kelas. “Hey tunggu ! ikut gue sekarang “ jawab seseorang sambil menarik tanganku dan berlari, hinggaku pun ikut berlari bersama orang itu.
          Sampai disuatu tempat, yup diruang kesenian yang cukup sepi. Dan tak terlihat orang sedikit pun. “Kau ini siapa ? main tarik-tarik tangan aku segala, gak punya otak banget !” tanyaku yang mulai marah. “ Ups, maaf gue gak maksud !?” ucap orang itu sambil tersenyum. “ Lho ? Ilham J “ jawabku kaget dan ngerasa gak percaya. “ Ya, lo Olivia kan ? pacarnya Rangga ! salam kenal ? “ jawab Ilham sabil tersenyum “ Emm, iya ! ^.^ “ jawabku. Ilham memintaku bertanggung jawab atas kejadian di LAB IPA kemarin, soalnya aku gak sengaja numpahin cairan kimia ke bajunya. “ Lo gapapa kan ? gak luka ? “ tanyaku dengan khawatir “ Gak papa gimana ? sebagai permintaan maaf, nih iketin dasi gue !! “ minta Ilham padaku. “ Lo gak bisa ngiket dasi ? yaudah sini ~” jawabku dengan senyum. Pertama ku ikat dasi pada leher Ilham dengan hati-hati. Saat itu kami saling berhadapan, entah kenapa muka Ilham semakin dekat ke mukaku dan tanpa kusadari kami berciumman OH NO !!!
          “ Makasih, ya bye !! “ Ilham pergi smabil tersenyum gembira. Gue cuman duduk bengong sambil gak percaya apa yang gue lakuin tadi.. Pulang sekolah , aku masih termenung sambil memegang bibirku. Dan langkahku berhenti pada sebuah took yang di depannya ada TV. “ Itu ka Rangga !” sahutku sambil melihat ke layar tv. Seorang Reporter TV mewawancarai Rangga dengan bertanya “ Sudah punya pacar ?” dengan santai Rangga menjawab “ Belum, aku masih jomblo !! J “. Saat itu aku shock dan benar-benar jleb banget dihati. Yaa walaupun kita Backsteet tapi setidaknya dia mengakuiku. Aku sangat sedih, dan mulai berfikir apa kamu gak cinta aku ? atau malu punya pacar, orang biasa sepertiku ?…
          Satu minggu tanpa cinta. SMS dan telpon dari ka Rangga ku abaikan. Bukannya ku kejam tapi aku sedang tidak ingin berbicara pada siapa pun. Aku sangat rindu padanya ! Tapi aku benci bila bertemu dengannya ? Itulah yang aku rasakan pada ka Rangga saat ini. Tanpa ku sadari, waktu begitu cepat berlalu, namun kejadian tu tak bisa kulupakan. Hingga hari ulang tahun ku yang 17 aku sampai menagis, karena tak bisa menahan rinduku padanya.
          Tanpa ku tahu anak-anak SM*SH yang lainnya menyiapkan pesta ulang tahun kecil-kecilan tapi ter;ihat meriah. Kulihat Rangga dengan pakaian yang rapih seperti pangeran .-.  tapi aku si upik abu, aku bukan siapa-siapa dimatanya?.. “Selamat ulang tahun ya ! “ ucapan Ilham padaku. “ Oh iya terimakasih ham J “ jawabku dengan wajah cemberut. “ kenapa ? “ Tanya Ilham. “ Gapapa gue lagi gak enak badan J makasih kadonya ? “ jawabku dengan senyum kecil. Aku harus segera pergi dari tempat ini, sebelum diketahui oleh Rangga. “ Hey, kenapa ka uterus menghindariku ?” menggengam tanganku dari arah belakang, dan suara itu seperti suara (…) “ Rangga !” jawabku kaget dan mulai takut. “Kau kenapa? SMS dan telpon dariku tidak kau angkat ?” tanya Rangga “Lepasin Rangga, gue bukan siapa-siapa elo lagi !” ucapku dengan menahan tangis. “Elo kenapa Liv ? gue bener-bener gak tau ?” Tanya Rangga. “Mungkin lo lupa atau malah pura-pura gak tau, Munafik banget !” jawabku sampai menangis. “apa perlu gue buktiin kalau gue bener-bener cinta dan sayang sama lo ?” Tanya Rangga dengan menggenggam tanganku erat, aku hanya diam lalu pergi… tanpa menghiraukan Rangga.
          Cuaca yang cerah ini aku malah bersedih (T.T) Dasar bodoh. “Aku kira kau sudah pulang ? Ayo pulang bersamaku !” ajak Ilham yang sedang melihatku  dan duduk disebelahku. “Tidak, kau duluan saja !” jawabku ketus. “Sebenarnya, ada apa ?” Tanya Ilham padaku dengan tatapan ingin tahu. “Tidak ada apa-apa…sungguh !” jawabku tanpa memberikan tatapan pada Ilham. “Jika dia tidak bisa membuatmu selalu tersenyum, aku bisa menjadi pengganti dia, Olivia percayalah!” Ilham memegang tanganku dan menggenggamnya. Aku tahun Ilham seperti itu untuk memberikan semangat. Terimakasih IlhamJ.
          Tiba-tiba Rangga datang! “Justru kau yang munafik bukan aku, Olivia !” teriak Rangga sambil menuju ke arahku. “Aku !? Bukan, tapi kamu, yang gak mau ngakuin aku sebagai …(menangis) “ jawabku sambil menangis Karena tak kuat menahan tangis. “Stop ! hei Rangga, kau ini sudah besar kenapa tingkahmu seperti anak kecil ! Olivia tidak salah, justru kau ! laki-laki yang berstatus pacaran tapi tidak mau mengakuinya dihadapan orang banyak ! Dasar pecundang !” jawab Ilham dengan gentleman. “Ham, kenapa kau ikut campur urusan kami ? apa hak mu ? “ jawab Rangga dengan kesal. “Ohh ya, aku emang bukan siapa-siapa tapi aku dan Oliv adalah sahabat, jadi wajar bila aku membelanya !” ucap Ilham. Rangga dan Ilham terlihat berhadapan seperti dua orang ksatria  yang ingin bertarung demi menyelamatkan sang putri.
          “cukup jangan bertengkar kalian hanya membuatku semakin sakit” ucapku sambil melangkah pergi. “jangan pergi, ku mohon !” ucap Rangga sambil memeluk Olivia. “Maafkan aku, aku yang salah” dengan perasaan campur aduk aku menyambut pelukan Rangga dan berkata “Ku mohon jangan seperti itu lagi ! aku tak ingin pergi darimu !”. Rangga menangis dan terus memelukku. “Aku berjanji akan memperkenalkanmu pada seluruh orang didunia ini, dan aku akan berkata pada mereka bahwa aku mencintaimu sampai aku mati..” ucap Rangga. “Terimakasih, sekarang aku baru percaya kalo kamu benar-benar mencintaiku” ucapku. “Iya, sama-sama!” jawab Rangga.
          “Olivia, jangan menangis lagi ! Ga gue piker cuman elo yang bisa bikin Oliv nyaman, dan itu bukan gueL kalian emang pasangan serasi…Ga, jaga Oliv jangan bikin dia nangis lagi…” Ilham,
TAMAT

@shintyamayang PUISI

PUISI

SeSpecta itukah dirimu?



Awalnya…
Aku tak peduli apapun tentang mu
Banyak orang yg mencaci maki dirimu
Apa yg kau lakukan???
Kau hanya tersenyum….



Disaat kau lelah
Kau tetap berusaha untuk menyembunyikannya dari ku
Tapi aku tahu kau lelah dengan semua itu




Matamu, memancarkan cahaya yg indah
Bibir mu, melantunkan nada dan perkataan yg merdu
Inikah dirimu???
Hanya Dirimu yg selalu bisa membuat aku tersenyum bahagia
Yang bisa membuatku histeris
Bahkan bisa membuatku menangis



Sespecta itukah dirimu??
Sehingga banyak wanita yg mengagumimu
Darimu aku belajar 
Darimu aku mengetahui banyak hal



Terimakasih atas kehadiranmu
Dalam kehidupanku
Aku mencintaimu dari hatimu
Bukan dari apa yg ada pada dirimu



Aku memang tidak sempurna
Tapi berkat mu, aku bisa merasakan kesempurnaan itu
Berkatmu, aku bisa lebih menikmati hidup
Tanpa harus memikirkan kapan aku mati…