—
for @RANGGANIZERRR BOGOR
>My Idol is Specta< @Indhry_22
>My Idol is Specta<
PUISI BY @shiwa_yunii
You’re a Special One in My Life @EkaDewi_
Desember 2011
Tak bosan. Tak akan pernah bosan aku menatap sesosok gadis di hadapanku. Tetap cantik, meski kini ia tengah terbaring lemah dengan wajahnya yang pucat pasi. Entah mengapa, dalam tak kesadarannya aku seakan melihatnya tengah tersenyum kepadaku. Senyum yang tak asing buatku. Senyum yang akrab menyapaku di setiap hari-hariku….. dulu„„
“Aku merindukanmu”
Ucapku terisak bukan untuk yang pertama kalinya. Aku yakin ia akan mendengar apa yang ku katakan, walau tubuhnya tak bergerak sedikitpun. Hanya suara dari mesin pendeteksi detak jantung yang ramaikan suasana yang ada kini. Aku merindukannya. Benar-benar merindukannya.
*****
28 Desember 2010
“Vanya, ada bintang jatuh!!!”
“Lalu ?”
“Kata orang sih, kalau ada bintang jatuh… segala keinginan kita akan terwujud”.
“Apa kamu percaya sama hal itu? Kamu kan cowo?”
“Emang cowo nggak boleh percaya begituan?! Udah deh, mending kita coba dulu ajah!!”
Langit malam bersolek indah malam ini. Gemintang anggun hiasi kepekatan malamnya. Dan di bawah dekapan malamnya, ku habiskan waktu bersama Vanya, sahabatku. Seorang gadis cengeng yang periang, menyenangkan sekaligus menyebalkan. Gadis kecil keras kepala yang terus mengajakku untuk main boneka bersamanya, meski ia tahu bahwa aku seorang bocah laki-laki. Gadis cilik yang super cerewet dan mau menang sendiri. selalu memaksa aku untuk terus memboncengnya mengelilingi kompleks perumahan kami, meski kami sudah mengitarinya lebih dari 5 kali.
“Udah berapa lama ya kita saling kenal?” tiba-tiba pertanyaan itu terlontar dari bibirnya.
“Nggak tau!! Emang kenapa? Toh, pada awalnya aku terpaksa kan mau main dan kenal sama kamu!”
“Bawel amat sih, aku serius, Rangga!!”
“Emang siapa yang nggak serius sih?!”
“Jadi udah berapa lama ya kita jadi sahabat?”
“Enam tahun”.
“Sok tahu! Emang kamu beneran yakin?”
“… .”
“Vanyaaaaaa!!!!” tiba-tiba suara tante Vivi hadir memecah sunyi yang ada di antara kami.
“Dipanggil noh, Non.”
“Iya iya,..aku duluan ya Rangga. Sampai besok…:)”
“Aku yakin banget, Van. Kita udah deket selama enam tahun. Aku nggak bakal lupa. Nggak akan pernah lupa, Van. Besok adalah genap enam tahun pershabatan kita. Semoga kamu juga nggak lupa”, ucapku dalam hati setelah sosok Vanya melangkah menjauh dariku.
*****
29 Desember 2010
“‘dddrrrrt….dddrrrttt…ddrrrttt’
From : Vanya
+628133xxxxxxx
Rangga, jangan lupa ya. Hari ini kita janjian di taman biasa. Jam 9. Oke? Aku tunggu.
…
Sekali lagi ku lirik jam tanganku. Pukul 9.05. Sampai saat ini aku belum menemukan sosok Vanya. Tak biasanya ia terlambat. Dia selalu tepat waktu. Padahal, tadi aku sudah benar-benar terburu waktu, berusaha untuk tak terlambat walau hanya untuk kali ini saja. Kekesalanku mulai muncul. Apa Vanya sengaja datang terlambat untuk mengerjai aku? Awas saja dia.
Sembari menunggu, ku pandangi tulisan yang terukir di pohon Mahoni yang rindang ini. Kami menulisnya tepat enam tahun yang lalu. Dan sejak itulah, kami tetapkan hari itu sebagai hari jadi kami sebagai seorang sahabat. Sahabat yang akan selalu hadir disaat salah satu di antara kami jatuh ataupun sebaliknya. Sahabat yang selalu menjadi pendengar paling baik bahkan terkadang melebihi orangtua kami sendiri. Selalu ada. Selalu bersama. Sekarang. Dan selamanya. Amiin !
9.15. Vanya masih belum menampakkan sosoknya. Apa dia baik-baik saja? Tak seperti biasanya ia terlmbat. Apalagi dia yang membuat janji. Tak ada jawaban dari panggilan ku ke ponselnya. Semua pesanku juga tak mendapat respon.
To : Vanya
08133xxxxxxx
Vanya, kamu dimana? Udah jam berapa ini, Sayang? Inget ya, aku sibuk. Nggak bisa nunggu lama-lama aku. Kalau bisa bales sms ini. Harus!!! Still waiting for you, Vanya.
Tiga puluh menit.
Empat puluh lima menit.
Dan sekarang, hampir satu jam aku menunggunya. Vanya masih belum hadir di sini. Aku ingin marah. Aku benar-benar merasa dihianati. Tapi, sepertinya aku tak bisa. Ingin aku segera angkat kaki dari tempat ini. Hilang harap sudah untuk yakin bahwa Vanya akan menginjakkan kakinya di taman ini. Baiklah lima menit lagi. Ku beri kesempatan lima menit lagi. Tak lebih. Vanya, ku mohon…
——Lima menit kemudian….——
“Ranggaaa!!!”
Sebuah suara menghentikan langkahku. Suara yang tak asing, begitu akrab di telingaku, namun terdengar lemah. Suara Vanya. Aku berbalik. Dapat ku lihat seutas senyum tersimpul di wajah Vanya. Ia tampak pucat. Lemas. Apa dia sakit? Tapi,….
“Maafin aku yah, Ga….” Dia berhamburan ke pelukanku. Ia menangis sejadi-jadinya. “Kamu marah kan sama aku? Maaf banget, Maaf”.
Ku rasakan bulir-bulir bening hangat basahi bajuku. Aku tak mampu berkata-kata. Aku sendiri bingung dengan perasaan yang berkecamuk di dadaku. Apa ku harus marah pada sahabatku? Atau apa? Aku harus bagaimana? Aku tak tahu.
“Nggak, Van… nggak,….” Ku tarik tubuhnya dari dekapanku.
“Rangga…??” ujarnya pelan. Meluncur lagi bulir-bulir bening dari kedua pelupuk matanya.
“Nggak, Van…. Nggak ada yang perlu dimaafin. J” ku rasakan dingin pipinya saat ku usap air mata yang mengalir dari pelupuk matanya. “Emang tadi kamu kemana?”
“Emm,… anu… ee… er… tt..taadi…”
“Tadi kenapa?” potongku sambil menariknya untuk duduk di rumah pohon kami.
“Van, tadi kenapa?” ku ulang pertanyaanku sesampainya kami di atas (di rumah pohon)
“Tadi,….. jam di rumahku mati. Ya, jamnya mati. Jadi aku nggak tau kalau uda jam 9 lewat. Sorry yah,…”
“Kenapa nggak bales sms ku? Toh kamu juga bisa lihat jam yang ada di hape kamu kan?”
“Em, hapeku mati. Batrey nya habis. Sorry…”
“Terus, jam di rumah kamu kan nggak cuma satu kan, Van?”
“Iya sih, Cuma nggak tahu tuh… pada rusak berjamaah. Tadi papa juga telat pergi ke kantor. Terus mama juga—“
“Iya iya. Aku ngerti kok. Nggak usah panjang-panjang ceritanya. Bawel!!”
“Dasar kamu!! Masih aja ya nyebelin.”
“Emang kamu ngapain ngajak ketemuan? Mau traktir nih?”
“Iih, nih orang. Doyan banget ama yang gratisan. Emang kamu lupa ya?”
“lupa?”
“Hari ini kan genap enam tahun kita sahabatan. Pikun banget sih kamu!!”
“O.” jawabku sekenanya.
“Sumpah ya, kamu itu,….. awas kamu, Rangga…!!!” protesnya sambil memukul ku gemas.
“Tentu aku nggak lupa, Van. Dan aku seneng kamu juga nggak lupa”, batinku.
… . .
Kami habiskan seharian untuk mengulang segala cerita akan kenangan yang telah kami jalani bersama. Segala protes ia ajukan atas keisenganku selama ini. Dengan riang ia bercerita dan tentunya dengan senyumnya yang tak pernah hilang. Selalu hadir seperti biasanya. Senyumnya indah, meski harus hadir di wajahnya yang selalu pucat. Sejak awal kami bertemu, memang ia tampak pucat. Awalnya aku mengira dia mayat hidup, tapi…. Aku ragu akan ada mayat hidup yang bawel dan super cerewet seperti dia. Dia tergolong anak tertutup. Jarang keluar rumah. Orangtuanya super protektif terhadapnya,meski kini ia sudah duduk di kelas XII SMA. Tapi, aku tahu Vanya bukan anak manja. Aku juga yakin, orangtua Vanya pasti punya alasan kuat untuk bertindak protektif terhadapnya hingga detik ini. Mungkin, karena dia anak perempuan satu-satunya,….
“Van,…”
“Apa?”
“Kamu janji nggak bakal kaya tadi ya?”
“Maksud lo? ” jawabnya terheran-heran akan sikapku.
“Dasar oneng ya!! Gue tuh coba bersikap perhatian dan romantis sama lo!! Respon yang agak bagus dikit kek!!” protesku.
Dia hanya nyengir dan kembangkan sebuah senyuman di wajahnya kemudian. “Rangga, kamu mau janji sesuatu sama aku?”
“Apaan?”
Dia menatapku lekat-lekat. Tampak sebuah rahasia tersimpan dalam dirinya. Sesuatu yang sengaja disembunyikan dariku olehnya. Ditariknya napas panjang, dihembuskannya perlahan kemudian.
“Kalau nanti aku nggak bisa lama-lama ada sama kamu, ataupun nggak bisa lagi main bareng kamu, kamu jangan marah sama aku yah, kamu—“
“Kamu ngomong apa sih?” potongku cepat. Kata- katanya sangat tak ku mengerti. Bahkan aku merasa aku membenci untuk mengerti kata-kata yang baru saja ia ucapkan.
“Dengerin dulu…., Ga”
“Bodo amat!!” jawabku sekenanya.
“Ranggaaa,…” rengeknya.
“Udah sore, yuk pulang. Aku anter”
“Tapi,…”
“Udah, Aku nggak mau Tante Vivi entar ngomel-ngomel ama aku…”
“Ranggaa,…”
“Udah. Ayo!!..” paksaku sambil menarik tangannya yang makin terasa dingin.
*****
26 Desember 2011
“Nak, Rangga….” Suara tante Vivi lembut menyapaku. Membangunkanku akan lelap.
“Udah malem, Sayang. Kamu pulang gih. Besok kamu harus kuliah kan? Bidang kedokteran bukan hal mudah, Sayang”
“Iya sih, Tan. Tapi… Vanya kan….”
“Kan ada tante disini. Besok masih ada hari, kamu kan bisa ke sini lagi?”
“Ya udah tante, Rangga pulang dulu. Assalamu’alaikum..”
“Wa’alaikumsalam. Hati-hati ya, Sayang”
Suasana kota Bandung makin ramai. Kerlap-kerlip lampu kota beradu indah di pinggiran jalan protocol utama. Suasana berbeda sungguh terasa saat aku melangkah keluar dari gedung rumah sakit yang serba putih. Ku teruskan langkahku ke gerbang utama rumah sakit. Ku hentikan sebuah taksi. Ku komando sang sopir untuk bergegas menuju ke rumah karena hari makin larut, aku tak ingin membuat mama khawatir akan aku. Dalam taksi teralun lagu “Seven Years Of Love” . Sebuah lagu yang kembali membangkitkan ingatanku akan kenangan bersama Vanya dulu. Saat dimana aku bisa melihat senyumnya yang menenangkan. Teringat olehku, bahwa tepat 3 hari lagi pada setahun lalu adalah hari dimana aku dan Vanya sempat kembali mengukir janji. Vanya, aku yakin kamu tak akan pernah melupakan janji kita itu.
*****
29 Desember 2010
“Kak, ini lagu apa?” tanya Vanya sesampainya kami dalam mobil.
“Pak Maman jalan yah. Udah sore nih, kasian Vanya”
“Iya, Den” jawab Pak Maman,sopir pribadi keluargaku, patuh.
“Ih, Rangga. Jawab dong. Ini lagu apa?”
“Iya. Iya. Nyantai aja kali”
“Jadi?”
“…” K
“Dasar!! Mending tanya Pak Maman aja. Pak, ini lagu judulnya apaan yah?”
“Maaf, Non. Pak Maman nggak tahu lagu bule kaya beginian.” Jawab Pak Maman terlalu jujur.
“Emang kenapa sih, Van?”
“Aku suka ajah. Nggak boleh?”
“Suka lagunya atau penyanyinya?”
“Yee,… “
“Ini lagu judulnya, Seven Years of Love” jelasku
“Kok tahu?”
“Ya tahu lah. Ini lagu kesukaannya Findha. Dulu dia suka banget ama penyayinya. Jadi dia ngoleksi album plus posternya. Dan ini salah satu lagunya”.
“Oh. Maaf kalau aku jadi harus ngungkit-ngungkit masalah Findha. Aku..—“
“Nggak apa. Nyantai aja. :)” potongku kemudian.
“Tahun depan, aku harap kita bisa main-main lagi kaya tadi. Tahun ketujuh persahabatan kita. Dan pastinya terus berlanjut sampe tahun-tahun persahabatan kita berikutnya.”
“Kamu kenapa sih? Pastinya lah kita bisa terus temenan. Kita masih punya banyak waktu, Van. Kamu kenapa sih?”
Ia hanya diam. Keheningannya semakin membuatku penasaran akan apa yang terjadi pada diri Vanya. Sebenarnya apa yang disembunyikan olehnya? Oh, Vanya… .
“Janji?” ucap Vanya sambil mengangkat kelingkingnya.
“Untuk?” tanya ku keheranan.
“Tetaplah menjadi sahabatku dan tetaplah berada di samping dan—“
“Janji” ucapku memotong perkataanya. Ku kaitkan kelingkingku pada kelingkingnya kemudian.
*****
Mei 2011
Ujian sekolah telah usai. Namun, aku beserta kawan-kawan lainnya masih belum benar-benar merasa merdeka. Kami masih harus berjuang dan bersaing untuk dapat masuk perguruan tinggi yang kami inginkan. Dan kurang seminggu ke depan merupakan hari dimana hajat akbar di sekolah kami akan dilaksanakan, Hari Perpisahan. Hampir semua siswa antusias dalam hal ini. Berharap ini merupakan sebuah momen yang tepat untuk mengukir sebuah kenangan terindah yang ada. Namun harapan itu seakan jauh berbeda akan keadaan yang terjadi belakangan ini. Vanya tiba-tiba menghilang. Tiada sedikitpun kabar darinya. Ia seakan hilang ditelan sang bumi.
Tak hanya sekali aku menghubungi ponselnya, namun tetap tiada jawaban. Tak hanya satu dua pesan yang ku kirim padanya, namun tak satupun yang dibalas. Aku coba mengirim pesan padanya melalui dunia maya, tetap tak ada respon. Hingga hari ini, sepulang sekolah, ku putuskan untuk mendatangi rumah Vanya.
Ting tong
Ting tong
Tak ada jawaban. Kali ini adalah panggilan terakhir dariku. Sebagaimana adab yang ada, jika sang pemilik rumah sudah dipanggil 3 kali dan ia tak kunjung menyambut. Maka sebaiknya kita pulang, karena mungkin sang tuan rumah sedang sibuk atau ada suatu kepentingan, atau saja ia sedang tidak mau diganggu.
Ting tong…
Bel terakhir telah aku bunyikan. Berharap kali ini benar-benar mendapat jawaban.
Satu menit…. Dua menit…
“Maaf, Den. Cari siapa?” seorang wanita paruh baya berpakaian sederhana menyambutku. Beliau Bi Imah, pembantu di rumahVanya.
“Vanya ada, Bi?”
“Em… anu, Den… Emm—“
“Kenapa, Bi? Vanya baik-baik aja kan?” sergapku kemudian.
“Aden ndak tahu toh?”
“Tahu apa. Bi?”
“Non Vanya kan lagi keluar kota sama Tuan dan Nyonya”
“Apa? Kok Vanya nggak pamit ama aku, Bi? Vanya baik-baik aja kan?”
“Em„, anu, Den.. Bibi… ndak tahu” jawab Bi Imah ragu-ragu.
“Bibi nggak bohong kan?”sergapku pada Bi Imah. Aku merasa ada sesuatu yang mengganjal akan kepergian Vanya dan keluarganya
“Nn…nndak kok, Den. Bener” jawab Bi Imah dengan suara pelan.
“Yaudahlah, Bi. Rangga pulang dulu. Nanti kalau mereka udah pulang, bilang yah aku kesini nyari Vanya” ucapku pasrah kemudian. “Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikumsalam…”
****
Hening masih ada. Berputar-putar di antara kami. Aku, Pak Arif, guru Biologiku, dan Pak Sucipto, Kepala Sekolah. Aku masih terus bertanya-tanya akan alasan mengapa aku dipanggil ke ruang kepala sekolah. Hal penting apa yang akan dibicarakan beliau denganku? Kabar baik atau kabar buruk? Dua menit sudah pertanyaan itu berputar-putar di otakku. Dan dalam waktu dua menit pula, aku serasa akan mati tercekik rasa penasaran.
“Ehem.. ehem…” Pak Kepala sekolah berdehem, tanda beliau akan memulai pembicaraan.
Pak Arief tampak menggut-manggut, tanda beliau siap untuk mendengarkan setiap kata yang akan keluar dari Pak Sucipto.
‘Dag.. dig… dug.. dyar!!’ detak jantungku berdetak kencang, tanda aku siap untuk menerima segala kabar baik yang ada, juga sebagai tanda bahwa aku tidak siap menerima kabar buruk yang ada.
“Begini, Nak Rangga……” beliau memulai pembicaraan. “apa kamu sudah mendaftar untuk jenjang berikutnya di salah satu universitas?”
“I..ii..iya, Pak”
Pak Sucipto hanya manggut-manggut. Perlahan aku mulai berani mengangkat kepalaku. Ku tatap lekat-lekat kepala botak beliau yang terlihat berkilau di bawah sinar lampu TL.
“Selamat ya, Nak…” Pak Arief tiba-tiba angkat bicara. “Kamu mendapat tawaran program beasiswa di salah satu universitas terkemuka, dan—“
“Beneran, Pak!!” sambungku cepat, tak perduli Pak Arief sudah menyelesaikan kalimatnya atau belum. Yang penting hepi ajalah J. “Wah makasih nih, Pak…” ku raih tangan Pak Sucipto dan Pak Arief, dan ku cium punggung tangan beliau berdua bergantian.
“Iya ya , Nak…. Selamat untuk kamu” ucap Pak Sucipto penih wibawa.
“Ada masalah, Pak?”
“Begini, Nak… pihak universitas telah melihat hasil belajar kamu selama bersekolah di SMA ini…”
“Dan?”sahutku tak sabar.
“Mereka menawarimu untuk masuk dalam bidang kedokteran. Apa kamu berminat untuk masuk dalam bidang itu? Asal kamu tahu, Nak. Bapak sangat mendukung jika kamu masuk dalam bidang itu”
“Begitu pula dengan Bapak, Rangga. Bapak sangat mendukung tawaran itu. Ini kesempatan emas buatmu, Nak…” tambah Pak Sucipto.
“Biar saya pikirkan dahulu, Pak” jawabku sekenanya.
“Baik baik… bapak beri kamu waktu sampai awal bulan depan”
“Terimaksih, Pak”
“Sekarang kamu bisa kembali, Nak”
“Permisi, Pak..”
*****
30 Mei 2011
Kedokteran? Aku benar-benar tak yakin akan tawaran itu. Aku sama sekali tak tertarik dalam bidang itu. Namun Pak Arif benar juga, ini kesempatan besar buatku. Aku harus bagaimana?
Masih dibawah pengaruh rasa bingung yang tak karuan, ku buka laptopku. Ingin ku hilangkan semua penatku. Ku gerakan jemariku merangakai sebuah URL yang sedang digandrungi remaja sebagian besar, www.twitter.com. Setelah melalui proses sign in, aku telah sampai pada home dunia mayaku. Betapa terkejutnya aku saat kulihat akan adanya puluhan mentions dan DM pada akun twitter-ku. Dan…. Itu semua dari Vanya.
Dia kembali… pantaskah aku mengatakan kata ‘kembali’ untuk munculnya kabar dari Vanya? Huh, aku tak tahu.
“Ranggaaaaaa… toktoktok” suara Ibu buyarkan lamunan ku yang tak karuan. “Ada Nak Vanya di depan…. Temuin gih„,”
“Apa? Vanya?” batinku. “Iya, Bu… bentar…” sahutku kemudian. “Vanya muncul setelah sebulan lebih menghilang…sebenarnya apa yang dia inginkan?” batinku masih tak percaya.
… …
“Hai, Rangga….” Sapa Vanya saat aku baru muncul dari balik tembok. Aku masih tak tahu apa yang harus ku katakan padanya. Haruskah rasa marah dan kecewa atas hilangnya kabar darinya secara tiba-tiba, yang ku tunjukan? Atau, haruskah ku tumpahkan segala rasa rinduku padanya dan mengenyampingkan semua kecewaku?
“Ngapain lo kesini?” tanyaku begitu saja.
“Sorry Rangga,… aku…”
“… .”
“Aku ada keperluan ama keluargaku di luar kota. Dan itu mendadak banget. Dan aku—“
“Nggak bisa pamit atau ngasih kabar kek?!” potongku, kesal.
“Em… Aku…”
“Kenapa? Apa susahnya sih, Van?? Gue kecewa ama lo!!”
“Gaa,… aku„,” dia hanya menangis. Air matanya mengalir deras dari kedua pelupuk matanya. Huh, aku membenci pemandangan ini, melihat Vanya menangis.
“Udah lah, Van! Kalo Lo uda nggak mau kita sahabatan lagi, bilang aja. Nggak usah kaya gitu, ngilang nggak ada kabar. Sms, e-mail, telpon nggak ada yang lo respon.” Ucapku mencak-mencak.
“Rangga,…” suaranya melemah. Wajahnya yang sedari tadi pucat, makin memucat kini. Air matanya terus mengalir.
Dia menangis.
Aku kian terbakar api emosi.
“keluar dari sini!” ucapku padanya dengan nada lebih rendah dari sebelumnya.
“Rangga,… aku—“
“PERGI!!!” bentakku kemudian.
Aku berbalik. Berharap Vanya tak mengetahui akan air mataku yang mulai meluncur mulus di pipiku. Berharap Vanya segera menghilang dari rumahku. Masih ku dengar isaknya untuk beberapa lama. Kemudian, ku dengarkan langkah kaki yang gontai menjauh dariku. Vanya pergi…. Entah dia akan kembali atau tidak,… Aku tak tahu…
Aku masih berdiri terpaku di sini. Di tempat, dimana aku telah mengusir Vanya, sahabatku. Potongan-potongan episode saat aku bersama dia bermain dalam memoriku. Bagai film yang tengah di putar pada layar besar, begitu cepat. Gambaran akan kebersamaanku dengan Vanya teramat jelas terlihat dalam anganku. Haruskah semua kenangan indah itu berakhir sampai disini?
“Vanyaaaaaaaa” ku teriakkan namanya sekeras mungkin, berharap dia akan berhenti menjauh dari rumahku. Ku balikan tubuhku, segera aku berlari menyusulnya.
Van…” ku tangkap sosoknya yang kian menjauh dari pintu utama rumahku. “Vanyaaaaaaaa” kali ini ku teriakkan namanya lebih keras lagi.
Dia berhenti.
Aku pun berhenti berlari.
Dia berbalik.
Aku melangkah mendekatinya.
Dia menatapku.
Aku pun menatapnya.
“Van…” ucapku dengan napas tersengal.
“Rangga,…. Aku—“
“Maafin aku ya, Van..” ku raih tubuhnya dan menariknya dalam dekapan tubuhku.
“Maaf,…Maaf Rangga…” ucapnya sambil terisak dalam dekapanku.
“sssst…..” ku letakkan telunjukku pada bibirnya yang pucat. “Udah,.. udah…semua udah berlalu. Aku yakin kamu punya alasan yang kuat untuk kepergian kamu. Em„„,aku ada kabar baik nih„,”
“Oh ya… apa?” ucap Vanya sambil mengusap garis air mata di pipinya.
“Aku dapet beasiswa, Van….”
“Oh ya? Waw, selamat yaa…” ucapnya girang sambil memelukku. “Hebat kamu…jurusan apa?”
“Itu masalahnya… aku bingung. Mereka nawarin aku di bidang kedokteran.. kamu tahu kan, aku kurang ada minat dalam bidang itu—“
“Keputusan kamu gimana?”
“… “ aku hanya dapat mengangkat bahu.
“Kamu tanya sama hati kamu” ucapnya sambil menunjuk dadaku, menunjuk dimana hati kecil berada
“ :) makasii, Van. Lo emang yang terbaik…”
“:)”
“Ntar malem aku mau traktir kamu makan. Oke? Buat ngerayain ini. Ntar aku jemput deh. Gimana?”
“Nggak usah jemput lah. Nanti aku usahain ya, Ga…. Aku pulang dulu, tadi aku bilang ke Mama nggak bakal lama-lama soalnya.. Assalamu’alaikum”
“Okeh. See you later, girl!! Jam 7 yah… Ati ati. Wa’alaikumsalam”
*****
20.00
Satu jam lebih aku mematung di sini. Ku lirik jam tanganku, berharap waktu berhenti detik ini juga. Ingin ku berikan kesempatan padaVanya untuk dapat hadir di sini tepat waktu. Tapi….. lagi lagi ia tak tepat waktu. Lagi lagi ia tak memberikan kabar padaku. Ada apa lagi dengannya? Akankah dia menghilang lagi?
Jarum jam menunjukan pukul 20.45. Seharusnya kami telah berkumpul, menghabiskan waktu bersama dengan senda gurau, dengan tawa, dengan kegembiraan. Tapi…. Yang ada hanya aku yang sendiri, dalam hening, dalam sepi.
21.00
Ku putuskan untuk kembali ke rumah seorang diri. Seharusnya aku melangkah pergi dari tempat ini berdua. Mengantar Vanya pulang, karena hari telah larut. Semua tinggal rencana….. lagi lagi Vanya mengingkari janjinya. Janji untuk datang pada malam ini. Janji untuk selalu memberi kabar akan suatu halangan yang terjadi padanya. Lagi lagi Vanya telah membuatku kecewa.
****
Juni 2011
“Rangga,… ada yang nyari tuh!!” seru Rendra kawanku dalam satu tim basket.
“Siapa?”
“Tuh” ucapnya sambil menunjuk seorang gadis berambut panjang dan berwajah pucat.
“Vanya?”
“…”Rendra hanya mengangkat bahu. “Cantik loh, tapi sayang wajahnya pucet banget. Temuin sono”
… .
“Ngapain lo di sini?” ucapku kesal saat sampai di hadapannya.
“Aku tau hari ini kamu ada jadwal latihan basket. Jadi aku langsung ke sini aja. Dan ternyata tebakan aku bener, kamu ada di sini”
“Pulang sana! Aku sibuk!”
“Kamu marah?” dia bertanya dengan wajah polosnya. “Rangga, ….aku—”
“Peduli apa Lo!! Pulang sana, gue nggak butuh temen kaya Lo!! Muna!”
“Aku bisa jelasin, Ga… malam itu aku—“
“Kenapa? Lo nggak bisa dateng karena jam di rumah lo mati lagi? Hape lo low batt, jadi lo nggal bisa sms buat ngasih kabar ke gue?!” omelku panjang lebar padanya. “Udah deh…. Gue capek!! Nggak sekali lo kaya gini”
“Ga..aku—“
“Dan lo juga tahu kan, gue paling nggak bisa toleran ama orang muna kaya Lo!!!!”
“Tapi, aku punya alasan untuk ini, Ga!!! Dengerin dulu penjelasanku—“
“Udah jelas semua!!!” potongku dengan nada suara yang kian naik. “PERGI LO!!! Enek gue ngeliat lo di sini!!” kata-kata jahat itu keluar tak terkendali dari mulutku. “PERGI!!!”
Aku berbalik dan segera melangkah pergi menjauh dari Vanya. Berharap kali ini aku tak akan berbalik dan mengejarnya seperti dulu. Hatiku terlanjur luka dan bernanah. Aku benar-benar kecewa.
… . .
—-beberapa menit kemudian—-
“Rangga… Ranggaaa…..” Dudi tergopoh gopoh ke arahku yang sedang asyik berkeluh kesah dengan bola basket.
“Ngapain?” jawabku malas.
“Cewe tadi… cewe yang barusan lo temuin—“
“Kenapa lagi?” potongku cepat. “dia balik lagi? Maksa pengen ketemu gue lagi? Usir aja! Bilang gue lagi sibuk. Repot amat!”
“Eh…. Bukan!!! Denger dulu!!” bantahnya. “Dia pingsan!!”
“hah..” sahutku dengan mata melotot dan hati yang kaget bukan main. “Dimana?”
“Di gerbang depan. Anak-anak lagi ngerubungin dia tuh”.
Segera ku berlari menuju TKP.
Tubuh gadis itu terbujur lemah. Wajahnya kian pucat. Mengalir darah segar dari kedua lubang hidungnya. Orang-orang di sekitarnya hanya terdiam, asyik menonton penderitaanya. Segera ku raih tubuhnya. Ku periksa denyut nadinya. Kian melemah. Pun kulitnya kian terasa dingin.
“Apa yang kalian lihat hah? Panggil ambulance!!! CEPAAAAT!!!!” ucapku mencak mencak tak karuan.
“Vanya……… bertahanlah…..” bisikku padanya lemah.
*****
“Apa? Kanker otak?” aku tercengang. Vanya tidak mungkin mengidap penyakit itu. Aku tahu dia orang yang kuat. Tuhan….. “Kenapa dia nggak cerita? Kenapa…. Aku nggak pernah tahu tentang ini?”
“Maafkan tante, Sayang. Vanya sangat sayang sama kamu. Dia melarang tante dan om untuk cerita penyakit ini ke kamu. Dia nggak pengen kamu khawatir, Nak” jelas Tante Vivi dengan nada yang sengaja dibuat tenang.
“Separah apa kankernya?”
“Sudah stadium akhir. Sebulan yang lalu kami mencoba untuk menjalani terapi diluar negeri. Namun, pihak kesehatan di sana sudah menyerah, Nak. Terlambat bagi kami untuk melawan kanker di tubuh Vanya. Sesampainya kami di rumah, Vanya langsung merengek memaksa untuk datang ke rumahmu, Nak. Alhasil, beberepa malam lalu tubuhnya kembali melemah. Kondisinya drop. Tadi pagi, saat dia sadar dan agak membaik, dia memaksa agar diantar ke tempat latihan basket tempat kamu biasa latihan. Dia bilang, dia ada janji sama kamu. Tante nggak yakin untuk ngijinin dia ketemu kamu, tapi dia memaksa. Dan sekarang………” tante Vivi terisak. Kalimatnya terhenti. Airmuka yang tadi Nampak tegar, kini berubah menjadi sesal.
Satu demi satu kejadian yang ada di ceritakan Tante Vivi dengan rinci meski diselai dengan isak tangis yang kunjung henti dari beliau. Semua seakan terputar kembali, bagai sebuah film kelam yang sama sekali tak ingin ku saksikan namun terus ku bayangkan.
“Sabar ya, Te. Vanya itu orang yang kuat. Tante tahu itu kan?” hiburku pada tante Vivi seadanya.
“Semoga saja, Nak. Dia sudah cukup lama menderita karena kanker ini. Sudah hampir 9 tahun yang lalu. Dulu sempat pulih, dan dokter sudah menyatakan dia sembuh. Tapi…… kanker itu muncul lagi…… :(” Tante Vivi tenggelam dalam isakan tangisnya yang pilu.
Papa Vanya terdiam.
Aku pun terdiam, terduduk lesu penuh sesal. Mengalir air mataku yang seakan percuma. Karena aku telah gagal melindungi Vanya. Gagal menjaga Vanya.
Kini aku tak tahu harus berbuat apa. Inginku putar kembali waktu. Ingin ku cabut semua kata-kata kasarku pada Vanya. Ingin ku hapus semua prasangka burukku akan dia. Aku hanya bisa berlari. Membawa diri ini untuk menjauh dari badan Vanya yang masih dalam kondisi kritis. Aku ingin terus berlari, berharap menemukan sebuah jawaban atas segala segala rasa yang kini berkecamuk dalam dada.
Tiba-tiba langit mendung. Tetes-tetes air langit turun basahi tanah bumi. Gemuruh bergelegar, saling bersautan seakan alam sedang marah. Apakah sang alam marah padaku atas Vanya? Terkutukkah aku sudah?
…
“Tuhan….. kenapa Engkau gariskan ini terjadi padaku??????” teriakku tak jelas, sesampainya aku pada suatu tempat yang dahulu sering ku kunjungi..
“Kenapa Engkau biarkan ini terjadi dalam hidupku untuk yang kedua kalinya, Tuhan? Belum cukup Engkau hancurkan hati ini dengan kepergian Findha??!!! Kenapa sekarang Vanya juga harus mengalami hal yang sama dengan halnya Findha?? Apa aku tak boleh bahagia, Tuhan? Apa aku memang tak pantas untuk mencintai dan dicintai oleh orang-orang istimewa seperti mereka?”
Aku tahu ini salah. Tak seharusnya aku menyalahkan kuasa-Nya yang Maha Agung. Tapi, harus dengan siapa lagi aku mengadu kini?
“Findha, lo tahu kan gimana hancurnya hati gue saat lo emang harus ninggalin gue untuk selamanya?” tanyaku pada pusara yang ada di hadapanku. “Sekarang, gue harus ngalamin lagi yang namanya kehilangan orang yang gue sayang, Dek…”
Aku hanya dapat terus terisak. Terus tenggelam dalam banjiran airmata di bawah guyuran hujan. Terus berkeluh kesah akan semua sakit yang ku rasa, pada pusara di hadapanku. Pusara yang bernisankan “Findha”. Sosok teristimewa dalam hidupku. Adikku…..
*****
29 Desember 2011
“Kamu pinter banget menyembunyikan semua ini dari aku. Dasar anak nakal!” ucapku pada sosok yang masih enggan membuka kedua matanya. Ia masih lelap dalam tidurnya yang panjang. Meski demikian, aku beserta keluarga Vanya yakin, Vanya pasti akan bangun dari lelapnya. Bangun untuk kembali tersenyum. Senyum yang mampu untuk membuat sang mentari malu dan selalu ingin bersembunyi di balik awan.
“Kamu tahu kan hari ini adalah hari yang kamu tunggu setahun yang lalu. Tujuh tahun persahabatan kita. Kamu juga tahukan, sekarang aku uda kuliah di bidang kedokteran. Apa kamu nggak pengen tau ceritaku waktu di kampus? Seru banget, Van!” aku terus mngoceh sendiri. Entah, orang-orang di sekitarku telah menganggapku gila atau tidak. Tak peduli, yang terpenting Vanya segera sadar dan dapat kembali tersenyum. Walau matanya terpejam, aku yakin mata hati Vanya mampu merasakan semuanya.
Ku letakkan tangannya di atas kepalaku. Ke genggam erat tangnnya yang dingin. Ku cium punggung tangannya dengan penuh rindu, penuh sesal.
“Selamat hari persahabatan, Van. Seven years of our love” bisikku sambil kembali mencium punggung tangannya.
Ku benamkan tubuhku dalam lipatan tanganku. Inginku pejamkan mata, dan menemuinya dalam alam bawah sadar. Mencari bayangannya dalam tiap kenangan yang terus mengaduk-aduk otakku.
… .
—-pukul 21.00—-
“Rangga…..”
Suara itu terdengar lemah. Suara yang hampir hilang dari pendengaranku 7 bulan lalu. Suara dari sosok yang ku rindu, … … . .Vanya.
“Kamu udah sadar?” responku spontan. “Biar aku panggil dokter yah, kamu tunggu bentar disini”
“Rangga…” ucap Vanya sambil memegang pergelangan tanganku, menghentikan langkahku.
“Nggak usah. Aku baik kok. Aku lagi nggak pengen dapet ceramah dari dokter. Aku mohon..” ucapnya masih dengan lemah.
“Oke”. Ucapku patuh. “Aku akan kabarin Mama dan Papa kamu-“
“Gaaa…” kembali Vanya menatapku dalam. Ia menggeleng. “Aku nggak mau ngerepotin mereka”
“Ya ya ya” jawabku setengah kesal.
“Makasi :)” ucapnya sambil nyengir.
“Lo tidurnya lama amat, kaya kebo—“ ucapku membuka perbincangan pertama kami setelah hampir 7 bulan kami mematung dalam perbincangan sunyi.
“Oh ya?”potongnya, berusaha memberi respon yang baik.
“Tapi…. Lo kebo paling cantik di dunia, Van.”
“Gombal Lo!”
“Aku masuk kedokteran” bisikku.
“Selamat, Rangga :)” senyumnya mengembang di bibirnya. Senyum yang selama ini aku rindukan. “Selamat hari persahabatan,Rangga” lanjutnya lirih.
“Selamat juga buat kamu, Van” dapat ku lihat senyumnya terus mengembang dalam wajah pucatnya. Senyumnya bagai bintang pagi yang indah.
“Sekarang tanggal berapa?” tiba-tiba dia bertanya demikian.
“29 Desember :)”
“Oh ya? Waktu berjalan cepet banget ya selama aku nggak sadar..”
“Kan aku uda bilang kamu tidur kaya kebo” godaku
“Aku pengen ke taman, Ga. Bukannya kita udah janji untuk pergi ke taman ditahun ke-tujuh persahabatan kita?”
“Lo nggak lupa, Van :). Makasii” batinku “Udah malem, Van. Kamu juga baru sadar. Besok aja yah”
“Ayolah, Ga….. semua akan beda kalau besok. Bukannya kamu juga udah janji?” rengeknya manja
“Nggak, Van!!”
“Rangga,…. Please”
“Diluar hujan, Van”
“Aku takut aku nggak punya waktu banyak untuk ini, aku—“
“Lo ngomong apa sih? Kesempatan kita masih panjang” potongku karena risih akan kalimat yang belum terselesaikan oleh Vanya.
“Rangga,…” ku lihat mata beningnya mulai tergenangi air mata.
Ini adalah kelemahanku. Aku paling tak tega jika harus melihat seorang sahabatku seperti itu. “Oke, karena angka 7 merupakan angka bagus dan katanya sih membawa keberuntungan, aku anter kamu. Tapi inget, kamu juga harus sesuain sama kondisi kamu” jawabku kemudian.
“Oke, nanti kalau aku udah nggak kuat. Aku bakal ngelambai’in tangan kok :D”
“Sinting lo! Aku percaya kamu :)”
“:)”
****
…
-pukul 23.45-
Hujan masih belum reda, makin deras malah. Aku dan Vanya masih mematung memandangi tiap tetes air langit yang turun, kemudian mengembun pada kaca mobil. Kami berhasil sampai di taman ini dengan usaha yang tak mudah. Malam ini aku telah melakukan satu tindak kriminal. Menculik anak orang, sekaligus membawa kabur pasien rumah sakit yang baru sadar dari koma.
“Hujannya nggak kunjung reda. Mending kita balik aja yah. Besok kita ke sini lagi” ucapku pada Vanya yang sedang asyik melukis pada kaca mobil dengan embunan air yang ada.
Dia berbalik menatapku. Dia diam dalam beberapa saat. “15 menit lagi hari ini akan berakhir Ga”
“Justru itu, Van. Mending kita pulang. Hari udah makin malem dan ini sama sekali nggak baik buat kondisi kamu, Van”
“Karena hari tinggal 15 menit lagi, ayo kita turun dari mobil dan kita langsung menuju ke rumah pohon. Akan menyenangkan walau waktu kita nggak banyak” ucap Vanya seakan tak mendengar apa yang aku katakan sebelumnya.
“Van,… lo dengerin gue ngggak sih?” protesku pada Vanya yang sedari tadi terus menerawang jauh dan terus berbicara tanpa melihat aku.
“Rangga…. Waktu terus berjalan. Waktu kita nggak banyak” ucapannya seakan menandakan bahwa ia benar-benar tak memperdulikan setiap ucapanku. “Ayo, Ga…..” lanjutnya dengan nada memaksa. Setetes bulir bening meluncur mulus dari hulu pelupuk matanya.
“Van,… came on…dengerin aku” paksaku sambli menarik tangannya.
“Please,…” ucapnya melemah. Tetes airmata berikutnya menyusul jatuh dari pelupuk matanya.
“Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa Van. Cuma itu.”
“Aku akan baik-baik aja, Ga. Aku yang tahu seberapa kuat aku bisa bertahan dari semua ini”
Ku tarik napas panjang. Berusaha untuk dapat memutuskan yang terbaik, tadi aku sudah mengalah untuk nekat membawa kaburVanya ke taman ini, dan sekarang…..
“Okelah, Ayo” kubukakan pintu mobil untuknya.
“:) thanks, boy”. Ucapnya senang, tentu dengan sebuah senyum yang sempat hilang selama beberapa bulan lalu.
Sesaat kemudian ia tampak bingung. Sepertinya ada masalah dengan kakinya. “Bisa bantu aku untuk sampai ke rumah pohon?” tanyanya ragu dan sungkan.
“Ow,.. withpleasure Princess,…:)” ku raih tubuhnya dan ku bopong dia. “Lo makin berat ya, harusnya tambah enteng!! Dasar kebo!!”
“Sialan lo!! Sini biar aku pegang payungnya” tawarnya padaku.
Angin bertiup makin kencang. Pun hujan tak lekas untuk sekejap menghentikan tiap tetes yang ada. Hal ini makin memberatkan langkahku dan Vanya untuk dapat sampai di rumah pohon kami.
“Aaahh,…” Vanya memekik kaget saat tiba-tiba payung yang dibawanya terbawa tiupan angin. “Rangga,… maaf.. payungnya…” ucapnya dengan suara makin lemah yang beradu dengan derasnya suara hujan.
“Tenang, Van. Bentar lagi kita sampe” ucapku tergopoh-gopoh.
Ku percepat langkahku. Tubuhku sudah kuyup, begitu pula Vanya. Melihat wajahnya yang kian memucat, aku makin khawatir dan merasa serba salah.
…
“Kita udah sampe, Van” ucapku pada Vanya yang tampak kian lemah di pangkuanku. Wajahnya kian memucat. Guyuran hujan makin membuatnya lemah.
“Makasii, Rangga…” ucapnya sambil meraba ukiran tulisan yang ada di pohon Mahoni milik kami. “Makasii kamu udah mau temenin aku, jaga aku—“
“Van,… udah… :)” ku tatap matanya yang bulat nan penuh akan ketulusan cinta. Ia tetap menggigil walau sudah mengenakan jaket miliknya. Ku kenakan jaket ku untuk melapisi tubuhnya yang kuyup. “Aku seneng banget bisa kenal dan bersahabat ama orang kaya kamu”
“Nggak kerasa ya, udah tujuh tahun kita sama-sama. Rasanya baru kemarin, tapi kenapa ya rasanya hari ini semuanya akan berakhir—“
“Sssstttt,……” ku letakkan telunjukku pada bibirnya yang pucat dan gemetar. “Waktu kita masih panjang” bisikku pilu.
“Aku harap, Ga” ucapnya lelah sambil menarik masuk tubuhnya dalam dekapanku. “Maaf kalau selama ini aku nyembunyiin masalah ini ke kamu. Aku udah nggak jujur ke kamu”
Ku peluk ia erat. Semakin lama semakin ku eratkan dekapanku padanya. Dan makin terasa pula tubuhnya yang kian melemah dan gemetar. “Van, kita balik yah. Inget ama janji kamu buat jaga kondisi kamu”
“Nggak, Rangga,….” Ia menggeleng di dadaku, dalam dekapanku. “Semenit lagi, Ga… hanya tinggal semenit hari ini akan berakhir.. tetaplah seperti ini. Jangan lepaskan semua ini, Ga.” Ucapnya makin lirih dan lelah dari sebelumnya.
Ku rasakan kulitnya yang kian dingin dalam genggaman tangannya. Ku eratkan pula dekapanku pada tubuhnya, hanya berharap agar ia masih bisa merasakan hangat. “Jangan tinggalin aku kaya Findha ya, Van”
“Nggak, Ga. Nggak akan.” Ucapnya pelan. “Dan asal kamu tahu, Findha nggak pernah ninggalin kamu, dia selalu ada di sisi kamu. Dia bener-bener adek yang istimewa, Ga. Seperti kata-kata kamu dulu”
“Iya,… dia istimewa” ucapku dengan linangan airmata yang mulai jatuh. “Sama istimewanya sama kamu, Van :)” ucapku pahit. “Aku sayang sama kamu, Van”
“J aku juga, Ga” ucapnya sambil menatap mataku dalam. “Aku sayaaaang banget sama kamu :)” ujarnya sambil berusaha tersenyum wajar. Meski tetap saja senyumnya makin menambah pahit luka hati ini.
“I love you” bisikku.
“really?”
“I do. You’re a special one in my life. My best friend. You never be changed in my heart” lanjutku padanya.
“I’m great to hear that :). I love you too, boy. You’re the best in my life. Kamu anugrah paling indah, Rangga.”
Ku dekap tubuhnya. Aku tak kuasa lagi untuk menatap matanya lebih lama. Tak memiliki daya untuk mendengarkan setiap kata yang diucapnya lirih dan lelah. Ingin terus ke peluk ia. Tak ingin melepaskannya. Seakan, jika aku melepaskan dekapanku ini, maka aku akan kehilangan semuanya. Kehilangan untuk selamanya.
Ku lirik jam tanganku. Waktu telah menunjukan pukul 00.00 Tepat tengah hari. Jika sang jarum jam bergeser sepersekian detik saja, maka hari bahagia bagi kami ini berakhir sudah. Bersamaan dengan berjalannya sang waktu dan bergantinya hari, hujan pun mereda , berganti dengan rintik gerimis yang turun. Angin yang tadinya bertiup kencang, kini menjinak berganti dengan tiupannya yang sepoi menenangkan.
“Van,… ayo balik ke rumah sakit. Hari udah berganti. Inget kondisi kamu” ucapku memecah sunyi saat ku lihat sang waktu menunjukan pukul 00.01
“… “
“Van,…????” ucapku diterjang berjuta tanya. Ku tarik ia dari dekapanku. “Vanya….????”
Wajahnya tampak sangat pucat. Bibir merah mudanya, membiru. Kulit tubuhnya terasa dingin. Sangat dingin. Tubuhnya tak lagi gemetar seperti tadi. Terkesan tak kuasa bergerak malah.
“Vanya…….” Ucapku sambil mengguncang ringan tubuhnya. “Kamu udah janji untuk nggak ninggalin aku, kan? Van?”
Ku periksa denyut nadinya yang terasa amat lemah. Ku lakukan pertolongan pertama sederhana. Ku tekan dadanya perlahan, untuk memancing reaksi dari detak jantungnya.
Tak lama, ia membuka matanya.
Ia tersenyum.
“Rangga,…..”
“Sssst,…. Udah. Sekarang aku bawa kamu ke rumah sakit.”
Ia mengangguk pelan. “Aku bahagia banget malam ini.” Ucapnya lelah terbata. “Rangga,… maaf aku—“
Ia tak mampu melanjutkan kata-katanya. Dan pada detik itu pula, tarikan nafasnya memberat, denyut nadinya melemah, dan,………
“VANYAAAAAAAAA!!!!!!!” aku tak mampu melakukan apapun. Ia pergi. Menyusul Findha di sana. “TUHAAAAAAANNNN,…..”
“Innalillahi wa inna ilaihi roji’uun” ucapku pasrah. Ku kecup kenignya sebagai tanda kasih dan cintaku padanya. Mungkin adalah kesempatan terakhirku untuk dapat terus manatap mata bulatnya, mendekap erat tubuh kurusnya.
Angin sepoi-sepoi seakan tak mampu membawa duka ini pergi. Dinginnya Angin malam yang menusuk tulang, seakan tak mampu saingi kepedihan dan kepahitan hati ini. Vanya pergi. Separuh jiwa dan hatiku turut pergi bersamanya. Akankah semua cerita yang ada pun akan pergi bersamanya??
*******
~ THE END ~
sesalku @Qilla1725
“Cerita Cinta Clara (CCC)” @Ditha_kitut
“Cerita Cinta Clara (CCC)”
SMASH boyband yang sedang hits dikalangan remaja, mengadakan launching album mereka yang kedua. Anak2 SMASH sudah berkumpul di backstage kecuali rangga.
“Rangga kemana ?” tanya manager SMASH.
“Rangga lagi di jalan mas, sebentar lagi juga dateng!” jawab rafael.
“oke, hubungi rangga lagi acara sudah mau dimulai!” ucap manager SMASH.
Di lain tempat Rangga sedang cemas karena mobilnya yang macet.
“mas rangga, ini akan lama karena tidak ada bengkel di dekat2 sini.” Jelas supir rangga.
“Jadi gimana pak, disini susah taxi kalau saya tidak cepat jalan , launching album saya bisa berantakkan.” Keluh rangga.
Tiba2 seorang gadis mengendarai sepeda motor menghampiri rangga.
“ada yang bisa saya bantu ?” tanya gadis itu.
“mobil gue pecah ban, dan gue harus cepet datang ke launching album gue.” Jelas rangga.
“gimana kalau gue yang nganter lu ?” tanya gadis itu.
“Naik MOTOR ??” ucap rangga.
“gue tahu sih seorang rangga SMASH mana mungkin mau naik sepeda motor panas-panasan, jadi terserah lu!” celoteh gadis itu.
“udah mas rangga ikut aja dari pada telat.” Ucap supir rangga.
“Oke, gue ikut lu!” ucap rangga pada gadis itu.
“siap, tenang aja lu bakal selamat sampai tujuan.” Ucap gadis itu lalu melaju dengan motornya.
****
Rangga dan gadis tersebut sampai ke tempat launching album SMASH. Setelah sampai Rangga langsung terburu-buru memasuki gedung tanpa mengucapkan terimakasih, bahkan sampai lupa melepaskan helm.
“Lu siapa ?” teriak Dicky.
“Rangga !” ucap rangga dari balik helmnya.
“yah, lu ada2 aja ngapain lu pakai helm sampai dalam gedung!” celoteh bisma.
“Helm ?? yaallah gue lupa bilang makasih dan mengembalikan helm ini sama yang nolong gue!” keluh rangga membuka helmnya.
“Udah entar aja, acara sudah mau dimulai!” ucap morgan.
****
Rangga menatap helm diatas meja dikamarnya.
“siapapun lu, hari ini lu udah jadi penyelamat hidup gue! Bodoh banget sih gue. Jangankan alamat namanya juga gue gak tahu.” Gerutu Rangga pada dirinya sendiri.
Tak lama kemudian terdengar suara mama rangga memanggilnya.
“Rangga ada telepon!” teriak mama rangga dari bawah.
“Iya ma…!” jawab rangga.
Rangga menuruni anak tangga menuju telepon rumah.
“Halo siapa ini ?”tanya rangga.
“halo kak, ini clara BB kak rangga gak aktif makanya clara telepon kerumah.” Ucap clara.
“iya BB kakak lowbat, kenapa clara?” ucapa rangga.
“Besok ketemuan ya kak.” Ucap clara.
“oke see you!” jawab rangga menutup telepon.
Tut…. tut…. tut….
****
Rangga yang ditemani anak2 SMASH lainnya menunggu clara di cafe deket sebuah taman.
“kak Rangga !” teriak clara melambaikan tangannya.
“akhirnya dateng juga si anak manja!” celoteh reza.
“Ih, kak reza apaa sih !” gerutu clara.
“udah jangan ngambek clara manja yang cantik.” Ucap rafael.
“makasih cocoh ku yang charming… oh, ya clara kesini sama kakak clara kenalin Cinta!” ucap clara.
Seorang gadis menampakan wajah dari balik tubuh clara.
“Selamat siang salam kenal gue Cinta.” Sapa cinta.
“Lu si Helm ?” Ucap rangga terkejut.
“HELM ?” ucap bingung anak2 SMASH lainnya termasuk clara.
“Maksudnya helm apa ?” tanya clara.
“begini tempo hari cinta nolongin gue, dan helmnya yang kebawa sama gue itu.” Jelas rangga.
“oh, jadi ini si pemilik helm.” Ucap dicky.
“ternyata kalian sudah saling kenal bagus deh,”ungkap clara.
Mereka larut dalam perbincangan siang hari itu.
****
Malam hari clara memasuki kamar cinta.
“kak malem ini aku tidur sini ya.” Ucap manja clara.
“iya, adik aku yg cantik..” ucap cinta mengacak rambut clara.
“kak, aku mau kasih tahu kakak siapa cowok yg aku suka, yang aku sering curhatin ke kakak.” Ungkap clara.
“emang siapa sih orangnya?” tanya cinta.
“kak rangga.” Ungkap clara tersipu.
“rangga ?” ucap cinta kaget.
“kenapa ? kak rangga cakep, sholeh dan baik lagi.” Ungkap clara.
“iya, kakak tahu kok.” Ucap cinta tersenyum.
“jadi, kakak setuju kan, kakak dukung aku kan.” Ucap clara mendekati wajah cinta.
Cinta tersenyum menganggukan kepalanya.
“kakakku emang paling baik…” ungkap clara memeluk cinta.
****
Rangga turun dari mobilnya dan menghampiri clara yang sedari tadi sudah menunggunya.
“hey, udah lama nunggunya?” tanya rangga.
“barusan aja kak, jalan sekarang?” tanya clara.
“oke !” jawab rangga tersenyum.
Clara dan rangga menuju sebuah danau di dekat sekolah mereka sewaktu SMA.
“hem, jadi kangen, dulu kita sering banget kesini, ya kan kak?” ucap clara menoleh ke arah rangga.
“iya, katanya ada sesuatu yg lu mau omongin sama gue ?” tanya clara.
“itu… sebenernya …” ucap clara guggup.
“sebenernya apa ?” tanya rangga menatap clara.
“gue sayang kak rangga.” Ucap clara.
“hah… kak rangga juga sayang sama clara.” Ucap rangga memegang bahu clara.
“maksud clara cinta sama kak rangga clara mau kak rangga jadi pacar cinta, bukan sekedar sahabat.” Ungkap cinta.
“clara, kakak udah anggep clara sebagai adik kakak sendiri, mungkin kalau kakak sudah ada pacar , pasti kakak lebih sayang kamu, clara bisa ngerti kan.” Ungkap rangga.
“hem, clara tahu kok!” ucap clara memaksakan senyumnya.
“udah donk jangan sedih, jangan galau2an.” Ucap rangga mengacak rambut clara.
“kak, rangga apa ada cewek yg kak rangga suka?” tanya clara.
“em.. kasih tahu gak ya ?” ucap rangga.
“ih, kak rangga jangan rahasia2an deh, anak mana, aku kenal ?” tanya clara penasaran.
“dia itu…. rahasia…. !” ucap rangga mencubit kedua pipi clara lalu kabur.
“hey… jangan kabur ya !!” teriak clara.
****
Rangga mengantar clara pulang kerumahnya.
“aku masuk dulu ya kak, dah… hati2 dijalan ya ka!” ucap cinta melambaikan tangannya lalu masuk ke dalam rumah.
Tapi saat rangga beranjak pergi, terlihat cinta yg baru pulang, rangga memberhentikan mobilnya dan turun.
“dari mana?” tanya rangga.
“eh, lu dari beli makanan ringan, clara gak bisa tidur kalau gak ngemil.” Ucap cinta.
“oh.. gue bantuin bawa ke dalem ya.” Ucap rangga.
“gak usah gue bisa sendiri kok, lu gak mau masuk ?” tawar cinta.
“sebenernya gue mau ngomong sama lu, tapi disini aja boleh ?” tanya rangga.
“sama gue?” tanya clara.
“iya, sambil duduk di teras aja ya.” Ucap rangga.
“oh, ya udah sini aja.” Ucap cinta duduk di teras depan rumahnya.
“lu, kuliah juga ?” tanya rangga.
“iya, tapi beda kampus sama kalian,?” ucap cinta.
Tiba2 saja rangga menatap dalam mata cinta.
“omg, kenapa si rangga natap gue begitu sumpah deg2an banget.” Ungkap cinta dalam hati menutup matanya.
“lu kenapa?” tanya rangga tertawa kecil.
“lu yang kenapa natap gue begitu.” Gerutu cinta.
“Cinta bagaimana kalau ada cowok yg tiba2 nyatain perasaannya sama lu?” tanya rangga.
“maksudnya?” ucap bingung cinta.
Rangga membalikan tubuhnya dan menatap dalam cinta.
“gue mau jujur dari awal kita ketemu, gue udah suka sama lu. Gue gak bisa kalau nyimpen perasaaan ini lama2, lu mau jadi pacar gue.” Ungkap rangga.
“apa? Bukannya lu sama clara?” tanya cinta.
“gue Cuma anggep clara adik gue, gak lebih.” Ungkap rangga.
Tiba2 clara muncul dari belakang mereka.
“maksunya apa ini kak ?” tanya clara menangis.
“Clara kakak bisa jelasin semuanya.” Ucap cinta memegang tangan clara.
“enggak, aku gak mau denger apa2, kenapa sih kak, kenapa harus lu, semua suka sama lu, semua sayang sama lu, lu udah ambil semua perhatian buat gue, papa, mama, sekarang kakak rangga, kenapa.” Ucap clara terisak karna tangisnya.
“enggak, itu gak bener kakak sayang clara.” Ungkap cinta.
“clara, jangan salahin cinta, please semua salah kak rangga, kak rangga yg suka sama cinta, jadi semua salah kak rangga.” Jelas rangga.
“gue benci kalian… gue benci sama lu kak, lu bukan kakak gue, gue gak punya kakak, lu Cuma anak panti yang diambil sama orang tua gue, lu bukan siapa2.”ucap clara mengeraskan suaranya lalu berlari pergi keluar.
Cinta terdiam menundukkan kepalanya, air mata membasahi pipinya.
“clara, cinta mungkin hanya emosi, dia gak beneran ngomong begitu jadi lu jangan masukin kehatinya.” Ucap rangga merangkul cinta.
“selama ini gue Cuma buat susah clara, ternyata gue Cuma buat sedih dia, gue jahat, gue bukan siapa2, gue bukan kakak yang baik.” Ungkap cinta menangis.
“lu udah lakuin yang terbaik.” Ungkap rangga menghapus air matanya.
“kak rangga pulang aja gak apa, gue mau kejar clara, gue takut dia kenapa2.” Ucap cinta.
“gue temenin lu.”ucap rangga.
Rangga dan cinta mencari keberadaan clara, sampai akhirnya mereka menemukan clara yg berdiri di tengah jalan raya, dari kejauhan terlihat mobil melaju sangat cepat dan…
“clara awas…” teriak cinta berlari dan mendorong tubuh clara ke pinggir jalan.
“kak cinta….”teriak clara.
“cinta…..” teriak rangga menghampiri cinta.
Mobil yg menabrak melari dirkan diri dengan cepat.
“lu pegang cinta tunggu sini gue ambil mobil.” Ucap rangga.
“hem.. cepet kak!” ucap clara panik.
“kak cinta, kenapa kak kenapa kakak ngelakuin ini.” Ungkap cinta memeluk cinta di pangkuannya.
“kak.. cin..ta sa…yang cla…ra, ka…mu gak ke…napa2 kan ? ”ucap cinta terbata2 memegang wajah clara lalu tak sadarkan diri.
“kak, cinta kak bangun kak…” ucap clara menangis mengguncang tubuh cinta.
Tak lama rangga datang, clara dan rangga membawa cinta kerumah sakit.
****
Di rumah sakit clara dan rangga menunggu cinta yg sedang ditangani dokter.
Tak lama dokter keluar dan menghampiiri rangga dan clara.
“dimana keluarganya?” tanya dokter.
“saya dok, saya adiknya.” Ucap clara.
“alhamdulillah operasinya berjalan lancar, pasien sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat. Itu karena kalian cepat membawa dia ke rumah sakit.” Jelas dokter.
“iya terimakasih dok, atas bantuannya.” Ucap rangga dan clara yg menjabat tangan dokter.
****
Keesokan harinya cinta terbangun, dan sadarkn diri, membelai rambut clara yg tidur di sampingnya.
“kak cinta udah sadar ?” ucap senang clara.
“kak cinta tahu gak sih, gimana paniknya aku! aku takut kehilangan kak cinta, kalau kak cinta sekali lagi buat aku khawatir aku gak akan lagi maafin kak cinta.” Ucap clara menangis.
“sini, peluk kak cinta.” Ucap cinta.
Clara memeluk cinta “aku sayang kak cinta, aku takut kak cinta bakalan ninggalin aku, maafin kata2 aku kemarin ya kak, aku udah jahat aku udah salah nilai kak cinta, makasih kak udah jadi kakak terbaik buat aku.” Ungkap clara menangis dalam pelukan cinta.
“hem, adik kakak ini udah besar ya,” ucap cinta mengacak2 rambut clara.
“ih, kakak… ngomong2 kak rangga kemana ya ?” tanya clara.
“rangga?” tanya cinta.
“iya, yg bawa kak cinta kesini kan kak rangga sama aku.”ucap clara.
“soal rangga, kakak gak maksud buat kamu sedih.” Ucap cinta.
“aku gak apa2 kok kak, aku lebih sayang kak cinta dari pada kak rangga bahkan melebihi sayangku pada diri sendiri, aku rela kehilangan kak rangga, apalagi menyerahkannya untuk kakakku tersayang.” Ungkap clara tersenyum.
“cinta, kenpa bisa jadi begini.?” Ucap mama clara yg tiba2 datang .
“mama?” ucap kaget clara dan cinta bersamaan.
“kamu gak apa2 sayang?” tanya mama.
“gak apa2 kok ma, aku Cuma kurang hati2 aja, papa mana?” tanya cinta.
“papa lagi nemuin dokter, clara kenapa kakak kamu bisa jadi beginin, ini bukan karna kamu kan.” Ucap mama.
“aku terus yang disalahin.” Keluh clara.
“Clara udah jadi adik yang baik ma, buktinya di yang bawa dia kerumah sakit.” Jelas cinta.
“anak siapa dulu anak papa..!” ucap papa dari depan pintu kamar pasien.
“anak mama juga.” Ucap mama.
“adik aku juga.” ucap cinta.
“kalian buat aku terharu…” ungkap clara.
“Termakasih ya allah, kau telah hadirkan mama, papa, dan juga clara yang sayang sama aku. Aku beruntung menjadi bagian dari keluarga ini. Mama papa yang ada disurga aku juga sayang kalian.” Ungkap cinta dalam hatinya.
****
Seminggu kemudian…
“kak, katanya kak rangga mau keluar negri loh.” Ucap clara.
“biarin aja.” Jawab cinta.
“tapi, katanya gak tahu kapan balik lagi ke indonesia, bahkan aku denger nih kak rangga gak mau balik lagi ke sini.” Ucap clara.
Cinta menatap clara.
“bukannya kalau sayang, gak akan biarin dia pergi jauh, hem sayang sekali padahal aku ngelepas kak rangga buat kak cinta.” Keluh clara.
“clara…” ucap cinta.
“udah samperin sana, sebelum pergi sebelum diambil orang.”ucap clara tersenyum.
Cintapun berlari keluar dan mencari taxi menuju bandara.
****
Di bandara clara mencari dimana keberadaan rangga.
“Rangga….!” teriak cinta.
Cinta berlari menghampiri rangga.
“kenapa?” tanya rangga bingung.
“please, jangan pergi gue mau lu tetep disini, gue gak mau kehilangan lu, gue suka sama lu.” Ungkap clara menatap rangga.
“gue juga suka sama.” Ucap rangga memeluk cinta.
“jadi lu gak akan pergi keluar negeri kan?” tanya cinta.
“ke luar negeri?” tanya bingung rangga.
“kata clara.” Ucap cinta.
“siapa yg mau keluar negeri, gue kesini abis nganter orang tua gue yg pergi ke australia.” Jelas rangga.
“apa, jadi clara bohongin gue?” gerutu cinta.
Gubraaakkk…
Rangga dan cinta mencari dari mana asal suara orang terjatuh.
“clara?” ucap cinta.
“morgan, rafael, bisma, dicky, reza, ilham… kalian ngapain?” tanya rangga.
“oh, gue tahu nih, pasti kerjaan kalian kan?” tanya cinta.
“hem, tapi kalian harusnya berterimakasih sama kami, kalau bukan karna kami kalian gak mungkin jadian sekarang kan.?” Ucap dicky.
“bener tuh kata kak dicky.” Ucap clara.
“oh gitu ya, terima kasih semuanya udah buat gue pagi2 olahraga, kalian tahu karna tadi macet gue harus lari2 ke sini, kaki gue rasanya mau patah tahu gak ?” ucap marah cinta.
“hah? Kakak jalan kaki kacian.. kakak aku.” ucap clara.
“iya, mana belum sarapan lagi.”keluh cinta.
“lu belum sarapan, ya udah kita cari makan dulu ya.” Ucap rangga tersenyum.
“asiikk makan2.” Ucap bisma.
“gak ngajak kalian.” Ucap rangga menarik cinta pergi.
Morgan, rafael, bisma, dicky, reza, ilham dan clara menundukan kepala mereka.
“hey, ayo kalau mau makan..!” teriak cinta.
“oke, dengan senang hati.” Teriak semua.
“eh, gimana kalau abis ini nonton bioskop.” Usul rafael.
“sebelum nonton beli es krim dulu.” Ucap cinta.
“gimana kalau perpustakaan aja baca buku.” Usul morgan.
Semua menatap morgan.
“kenapa, bisa nambah wawasan banyak ilmu yg bisa kita ambil.?” Ucap morgan.
“enggak…! ucap semua berlari
“hey, dasar kalian ini !! tungguin gue…. “teriak morgan mengejar lainnya.
END
